
"Katakan!! Kenapa kau bisa berada di sini, Dam?" Sylvia tidak menyangka jika anggota baru yang juga bergabung di tim Alfa adalah Damian. Rekan nya saat masih di kepolisian. Tidak mungkin pria itu mengikutinya, bukan? Bagaimanapun Damian merupakan salah satu anggota terbaik Kapten William. jadi tidak mungkin kapten William melepas Damian begitu saja. Kecuali jika dia di beri tawaran juga oleh FBI.
"Ada apa, Sylvia? Apa kau tidak senang aku berada di sini dan menjadi rekan kerja mu lagi?"
"Ck.. Bukan begitu. Jika kau berada di sini, lalu bagaimana dengan....
"Apa kau pikir aku perduli." sela Damian. "Kapten William memecat mu tanpa alasan yang jelas. Harusnya dia mendengarkan penjelasanmu. Tapi apa yang dia lakukan? Dia bertindak tanpa berdiskusi dulu dengan anggota nya." sungut Damian
Sylvia memijat pangkal hidungnya. Ini adalah urusannya, tapi kenapa Damian ikut campur? Lagipula Kapten William punya maksud tersendiri kenapa beliau memecat Sylvia.
"Aku bergabung dengan FBI karena kapten Alvin memberikan tawaran menggiurkan padaku. Jadi aku hanya mengambil kesempatan saja. Jadi kau tidak perlu merasa tidak enak." lanjut Damian
Sylvia berdecak pelan. Sesaat dia teringat dengan wartawan yang mempunyai tato di lengannya. Dia ingin bertanya pada Damian, apa dia melihatnya atau tidak. Tapi belum sempat Sylvia bertanya, Bruce datang menghampiri mereka.
"Aku cari-cari ternyata kalian ada disini." seru Bruce
"Ada apa?" tanya Damian
"Kapten Alvin meminta kita untuk berkumpul di ruangan nya. Sepertinya ada misi untuk kita."
"Ya sudah, kalau begitu kita kesana sekarang." Sylvia berjalan terlebih dahulu diikuti kedua pria itu di belakangnya. Ini adalah misi pertamanya. Dan dia berharap misi ini tidak ada hubungannya dengan Anthony.
Bukan dia tidak mau melaksanakan tugas yang berhubungan dengan suaminya, tapi dia belum siap. Baru sebulan dia menikah dengan Anthony dan dia belum sedekat itu untuk mengetahui kehidupan Anthony yang sebenarnya.
__ADS_1
Setidaknya, jika dia di minta untuk mengumpulkan bukti kejahatan Anthony, dia harus bersikap profesional. Tapi tidak ada salahnya sedikit bermain licik, bukan.
Sylvia, Damian dan Bruce masuk keruangan Kapten Alvin dan memberi hormat. Di sana anggota tim Alfa sudah berkumpul.
"Aku mengumpulkan kalian disini karena ada tugas untuk tim kita. Baru saja pusat layanan panggilan darurat menghubungi ku, salah satu operator 911 mendapatkan panggilan aneh. Si penelepon meminta bantuan karena sekarang dia sedang di kejar orang yang tidak dikenal. Tapi dia tidak bisa mengatakan secara detail keadaan nya saat ini. Jadi kemungkinan dia sedang bersembunyi."
"Jadi aku tugaskan kalian untuk kesana dan menangkap pelaku." Kapten Alvin menatap Sylvia dan Damian dan kembali berkata, "Dulu ada kasus yang sama, tapi kapten William gagal menangkap pelaku. Jadi aku harap kalian tidak melakukan kesalahan yang sama. Bisa saja si pelaku adalah orang yang sama."
"Apa kalian mengerti?" seru Kapten Alvin
"Kami mengerti, Kapten." jawab mereka serempak
"Good. Sekarang, laksanakan tugas kalian!!"
Mereka memberi hormat pada kapten Alvin dan mulai membubarkan diri. Berbeda dengan yang lainnya, sebelum keluar, Sylvia menatap tajam Kapten Alvin tanpa di sadari pria itu.
Tim Alfa mulai membawa peralatan senjata mereka dan bergegas ke kantor layanan panggilan darurat. Mereka harus melihat situasi dan posisi korban terlebih dahulu sebelum bertindak. setelah mendapatkan lokasi korban, baru mereka akan merancang strategi penyelamatan.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di tempat tujuan. Bruce sebagai ketua meminta keterangan dari operator 911 yang menerima panggilan dari korban. Dia memutar ulang percakapan mereka dan mulai melacak keberadaan korban.
"Lokasinya cukup jauh dari sini. Jadi kita harus bergegas kesana." seru Bruce. Dia mulai membagi tugas dengan Anggotanya. Dia, Sylvia, Damian, Amel dan Alex akan pergi ke lokasi di mana korban berada. Mereka akan membagi tugas saat sampai di lokasi. Bruce dan Amel akan memantau situasi dari jarak jauh karena mereka di kenal dengan Sniper yang handal. Sedangkan Sylvia, Damian dan Axel akan menolong korban. Lalu untuk Bara, dia akan membantu operator 911 untuk mengarahkan apa yang harus korban lakukan sekaligus memantau lokasi korban dan si pelaku.
Semua yang mereka bicarakan itu tidak lepas dari mata Anthony. Dia melihat dan mendengar dengan jelas tugas yang di emban Istrinya. Dia sangat khawatir tapi dia tidak mungkin ikut campur urusan Sylvia.
__ADS_1
Lagipula dia juga ingin melihat aksi heroik sang istri. Tapi jika sampai terjadi sesuatu pada wanita itu, dia tidak akan tinggal diam. Si pelaku akan mendapatkan balasan yang mengerikan dari nya.
Tok Tok Tok
"Masuk!!" seru Anthony
Daniel masuk dengan berkas di tangannya. Dia memberikan berkas itu pada Anthony. "Ini yang anda inginkan, Tuan. Informasi tentang kedua petinggi di FBI."
Anthony membaca berkas itu dengan seksama.
"Informasi mengenai mereka di rahasiakan oleh negara dan sangat sulit mendapatkan nya. Tapi saya mendapat informasi jika John Anderson dulu adalah rekan satu tim dengan Tuan Abraham."
"Benarkah?" tanya Anthony
"Benar tuan. Tapi mereka sempat berselisih. Dan setelah kematian Tuan Abraham, John bergabung dengan FBI. Di sana dia di angkat menjadi petinggi FBI dengan Felix sebagai wakil nya."
Anthony menatap Daniel dan berkata, "Apa kau tahu bagaimana dia bisa menjadi petinggi di sana?"
"Untuk itu, saya tidak tahu tuan."
Anthony mengangguk pelan. Dia kembali melihat ke layar laptopnya. "Sylvia mendapatkan misi pertama nya untuk menangkap pelaku pembunuh berantai. Si korban menghubungi Emergency call untuk meminta bantuan. Dan mereka meminta bantuan FBI."
Anthony menyandarkan punggungnya dan kembali berkata, "Lokasi sudah di temukan. Minta bodyguard untuk memantau lokasi."
__ADS_1
"Ingat!!! Aku hanya ingin mereka mengawasinya saja. Tapi jika sampai pelaku melukai Sylvia, tangkap dan bawa ke tempat biasa."
"Baik Tuan." seru Daniel.