Terpaksa Menikah Dengan Mafia

Terpaksa Menikah Dengan Mafia
Target


__ADS_3

Sylvia memberontak saat seseorang membekapnya dari belakang. Dia menginjak kaki orang tersebut dan menyodok perut orang itu dengan sikunya.


"Aw sh..." Pekik orang itu.


Sylvia memutar tubuhnya dan siap menghajar orang tersebut. Tapi....


"Stop!!! Ini aku honey."


Sylvia melebarkan matanya saat tahu jika orang itu adalah Anthony. "Apa yang kau lakukan ini sini, hah?"


"Ssst... Kecilkan suaramu!!" Anthony melihat kesana-kemari dan menarik Sylvia ke ruangan wanita itu.


Sylvia menatap curiga Anthony. Apa yang membuat pria itu datang kemari dan bagaimana dia bisa masuk dan terlepas dari penjagaan yang ketat?


"Ada apa? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sylvia penuh selidik


"Aku merindukanmu, honey. Kau tidak pulang. Padahal ini sudah larut makanya aku menyusulmu." Seru Anthony


Sylvia memutar kedua bola matanya malas. Dia merasa jika Anthony tidak pandai berbohong. Alasan yang dia berikan terlalu tidak masuk akal. Pasti ada sesuatu yang membuat pria itu sampai nekad masuk ke markas FBI.


"Kenapa kau belum pulang, hm?" Anthony menjatuhkan kepalanya di bahu Sylvia dengan manja.


"Berhenti bersikap seperti itu, Anthony. Aku geli melihatnya."


Anthony menegakkan kepalanya dan berdecak kesal. "Ayo kita pulang!!" Anthony menarik Sylvia tapi di tahan oleh wanita itu. "Ada apa?" Tanya Anthony.


"Katakan padaku!! Apa tujuanmu masuk ke markas FBI? Tidak mungkin cuma karena menyusulku, kan?" Selidik Sylvia


Anthony terdiam sejenak. Dia melihat ke luar jendela memastikan jika tidak ada orang lain baru setelahnya dia berkata, "Aku datang memang karena dirimu." Seru Anthony yang membuat Sylvia bingung.

__ADS_1


"Aku akan menceritakannya di rumah. Tapi sebelum itu, kita harus pergi dari sini. Karena besok akan ada berita besar di markas FBI." Anthony menarik Sylvia keluar melalui jalan yang dia lewati tadi. Dia tidak ingin keberadaan Sylvia yang masih berada di markas akan di curigai nantinya. Dan untungnya, Sylvia berangkat di antar anak buah Anthony tadi pagi. Jadi tidak ada yang tahu jika Sylvia masih ada di sana.


Anthony menuntun Sylvia melewati dapur yang terhubung langsung dengan pintu belakang. Di sana tidak ada yang berjaga. Tapi di luar banyak sekali jebakan di tambah pagar dinding yang tinggi.


"Wow.. apa kau datang lewat sini?" Tanya Sylvia


"Yes. Aku sudah biasa masuk melalui pintu depan di manapun. Dan ini pertama kalinya aku masuk melalui pintu yang lain." Anthony menghentikan langkahnya dan kembali berkata, "di depan sana ada banyak jebakan. Di tambah dengan dinding yang tinggi. Ini membuat ku tertantang, sayang."


"Cih.. bilang saja kau takut tertangkap." Ejek Sylvia


Anthony menarik pinggang Sylvia hingga menempel padanya. Dia mengusap pipi wanita itu dan kembali berkata, "Tidak ada yang aku takutkan di dunia ini selain kehilangan dirimu, sayang. Aku masuk melalu pintu belakang karena jika sampai mereka tahu aku ada di sini, tidak hanya aku, tapi kau juga akan di curigai."


Lagi-lagi Sylvia di buat bingung oleh ucapan Anthony. Siapa mencurigai siapa?


"Ayo sayang!!" Anthony menuntun Sylvia. Di tanah yang mereka pijak tertanam banyak ranjau. Tapi Anthony bisa masuk dengan mudah karena dia memakai alat pendeteksi ranjau. Dan dia kembali melakukan hal yang sama.


"Aku kira akan ada aksi menegangkan saat melewati jebakan ini. Tapi ternyata kau memakai alat pendeteksi ranjau." Gerutu Sylvia.


Sylvia berdecak kesal yang membuat Anthony kembali terkekeh. Dia membantu Sylvia untuk naik terlebih dahulu. Baru setelah nya dia naik sekaligus menggulung tali yang mereka gunakan.


Setelah berhasil melewati pagar tembok, Anthony kembali menuntun Sylvia ke mobil yang terparkir lumayan jauh dari sana. Dan di dalam mobil sudah ada Daniel yang menunggu. Dia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk kedua majikannya.


"Kita pulang sekarang." Titah Anthony


"Baik." Daniel menginjak pedal gas meninggalkan tempat itu.


"Sekarang katakan padaku!! Kenapa kau masuk ke markas FBI?" Tanya Sylvia


"Kau ini tidak sabaran sekali." Gerutu Anthony. Dia menyalakan laptopnya dan memperlihatkan sebuah video saat dia bertransaksi barang ilegal.

__ADS_1


"Kau lihat orang itu? Dia dulu adalah rekan bisnis ku. Tapi ternyata dia mempunyai niat untuk menghancurkan ku. Bahkan dia berusaha meretas sistem keamanan di markasku"


Sylvia menyipitkan matanya melihat pria yang ada di layar laptop. Dia merasa pernah bertemu dengan pria itu.


"Itu video beberapa tahun yang lalu. Sekarang mungkin dia sudah terlihat sangat tua. Dan nama pria itu adalah Kehl Alessandro."


"Kehl?" Tanya Sylvia memastikan


"Yes.. Dan apa kau tahu, pria yang kau tangkap tadi siang adalah target Kehl selanjutnya."


Deg


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tap


Tap


Tap


Terdengar langkah kaki seseorang yang masuk ke sel FBI. Dia menoleh kesana kemari melihat narapidana yang sudah tertidur pulas.


Tap


Langkahnya berhenti di depan sel milik Billy dan membuka gembok sel tersebut. Dia masuk dan berdiri di samping Billy yang tertidur pulas. Dia mengeluarkan jarum dan menyuntikkannya di lengan Billy.


"Akh.." Billy terbangun dan melihat pria itu. "Apa yang kau lakukan?"


Pria itu menyeringai dan pergi begitu saja. Tapi baru beberapa langkah pria itu kembali berhenti dan menoleh kearah Billy mulai menunjukkan reaksi aneh. Dia seolah kesakitan dan tidak lama kemudian, Billy tewas.

__ADS_1


"Good bye."


__ADS_2