
Sylvia di ikat kedua tangannya di belakang dan di dorong untuk bergabung dengan teman-temannya. Dia melihat satu persatu temannya. Tidak ada bekas luka, itu artinya tidak ada perlawanan. Bukankah itu aneh. Musuh seperti tahu di mana mereka berada. Mungkin musuh langsung menodongkan senjata pada mereka hingga mereka menyerah begitu saja.
Sylvia juga memperhatikan musuh yang terlihat kebingungan mencari korban mereka. Sepertinya belum ada yang tahu tempat persembunyian wanita bernama Serena itu.
Entah apa yang mereka inginkan dari wanita itu. Dari data yang dia baca, wanita itu hanyalah wanita biasa. Bukan seorang miliarder ataupun orang penting. Apa wanita itu berhutang pada mereka dan tidak bisa membayarnya? Itu makanya mereka memburu wanita itu.
"Cepat cari wanita itu sampai ketemu !!" perintah Jack
Anak buah Jack kembali berpencar mencari wanita bernama Serena. Sylvia dapat melihat kemarahan di mata Jack. Oke fix. Dia yakin wanita itu telah menyinggung pria itu.
Ekor mata Sylvia melihat setiap sudut rumah tersebut. Rumah yang lumayan mewah. Tapi ada sesuatu yang menarik perhatian Sylvia. Yaitu lantai di bawah meja di ruang tamu yang tertutup karpet. Di sana terlihat karpet yang sedikit mengkerut. Dia curiga lantai itu bisa di buka. Dan jika itu benar, maka itu adalah tempat persembunyian yang paling aman.
"Aku tidak menyangka kau akan bertindak ceroboh, Sylvia. Kau tidak menganggap ku sebagai ketua tim dan malah mengambil tindakan berbahaya tanpa persetujuan kami." seru Bruce
Sylvia menatap Bruce dan ketiga teman setimnya. "Apa maksudmu?"
Bruce menatap Sylvia dan kembali berkata, "Kau menyamar tanpa persetujuan kami. Padahal tadi tidak ada rencana seperti itu. Apa tujuan mu melakukannya? apa kau ingin menjadi pahlawan agar terlihat hebat di mata kapten Alvin?"
Sylvia mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu apa maksud Bruce tapi dengan begini, Sylvia bisa menjalankan rencana awal agar bisa melawan musuh mereka.
"Dengar Bruce, aku tidak tahu apa maksudmu. Tapi tetaplah seperti itu. Ini kesempatan kita bisa lepas dari mereka." bisik Sylvia
"Apa maksudmu?" tanya Bruce bingung begitu juga dengan ketiga temannya yang lain.
"Yeah, kau benar Bruce. Aku ingin terlihat hebat di mata kapten Alvin. Aku ingin membuktikan jika aku lebih pantas menjadi ketua tim daripada dirimu. " seru Sylvia
__ADS_1
Suara Sylvia yang cukup keras menarik perhatian Jack dan James. Mereka memperhatikan FBI yang mereka tangkap tengah beradu mulut. Cukup menarik untuk menjadi penonton.
Jack menarik kursi dan melihat apa yang sebenarnya mereka rencanakan.
"Apa maksudmu? Aku sudah lama menjadi ketua tim Alfa. Tapi sekarang, karena kau bertindak ceroboh, kita semua tertangkap." teriak Bruce
"Hei kenapa kalian malah bertengkar? Ini bukan saatnya membicarakan siapa yang pantas menjadi ketua tim kita." sela Axel
Sylvia berdiri dengan tangan yang masih terikat di belakang tubuhnya. "Asal kalian tau, Kapten Alvin memberikan ku tawaran untuk menjadi ketua tim. Makanya aku bertindak sendiri untuk menunjukkan pada kalian kehebatan ku." Sylvia memberi kode pada Bruce melalui matanya.
Tahu apa yang di maksud Sylvia, Bruce ikut berdiri dan menendang perut Sylvia hingga mundur menabrak rak kaca hingga pecah.
"Bruce, apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila, hah?" teriak Damian
"Diam kau!! Kau juga sama saja dengan nya. Orang rendahan yang tidak tahu diri. Kalian baru saja di rekrut kapten Alvin tapi kalian justru menusukku dari belakang." sentak Bruce
Sylvia yang tersungkur, kembali di tarik anak buah Jack dan didorong untuk bergabung menjadi satu dengan timnya. Kali ini Dia berada di dekat Damian dan bukan Bruce.
"Benar-benar pasangan yang serasi. Kalian sama saja penjilat dari kepolisian." hina Bruce
"Tutup mulut mu, sialan!!!" teriak Damian
"Sudah Dam. Biarkan saja." cegah Sylvia. Dia menahan sakit di perutnya. Dia tidak menyangka jika Bruce akan menendangnya begitu kuat. Tapi tidak masalah. Sekarang dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Wah wah wah... Aku tidak menyangka jika kalian bisa bertengkar juga. Aku pikir kalian selalu kompak, tapi ternyata aku salah. Karena tertangkap kalian saling menyalahkan. Miris." seru Jack
__ADS_1
Bruce memalingkan wajahnya geram. Begitu juga dengan yang lain.
Jack berdiri dan ikut bergabung mencari Serena. Sangat tidak masuk akal wanita itu bisa menghilang begitu saja. Pasti ada tempat yang tidak mereka ketahui yang bisa dia gunakan untuk bersembunyi.
Sementara itu, Sylvia berusaha memotong tali yang mengikat nya menggunakan pecahan kaca yang dia ambil saat tubuhnya terhempas karena tendangan maut Bruce. Dan setelah berhasil, dia memberikan pecahan kaca tersebut pada Damian. Begitu seterusnya hingga kini ikatan mereka sudah terlepas.
Bruce menatap satu persatu temannya dan mengangguk pelan. Di saat ada kesempatan, mereka menyerang anak buah Jack yang lengah dan merebut senjata mereka.
Mendapat serangan mendadak, Jack dan yang lain terkejut dan terjadi pertarungan antara kedua belah pihak.
"Sial!!" Jack bersembunyi dari tembakan Sylvia begitu juga dengan anak buah nya yang lain.
"Menyerahlah Jack!!! Kau tidak akan menang melawan kami." seru Sylvia
"Jack mengumpat dalam hati. Dia merasa kecolongan. Ternyata pertengkaran yang mereka ciptakan hanya untuk mengelabuhi nya. Dan sialnya dia percaya. Sekarang anak buahnya sudah tumbang dan kini hanya tersisa dirinya dan James saja.
"Menyerahlah Jack!!" teriak Sylvia
"Dalam mimpimu, sialan!!" Jack dan James keluar dari tempat persembunyian dan menyerang mereka tapi karena kalah jumlah, mereka berdua berhasil di bekuk oleh Sylvia dan timnya.
"Kerja bagus Sylvia." seru Bruce
"Thanks."
"Sekarang tinggal mencari di mana wanita itu." seru Amel
__ADS_1
"Untuk hal itu sepertinya aku tahu di mana dia berada." Sylvia menyingkirkan meja di ruang tamu dan membuka karpet yang menutupi lantai. Dia menyingkirkan papan yang menyerupai lantai dan terlihat seorang wanita meringkuk ketakutan di dalam sana.