Terpaksa Menikah Dengan Mafia

Terpaksa Menikah Dengan Mafia
Menjenguk Daddy


__ADS_3

Sylvia sampai di rumah sakit di mana Ayah dan ibunya dirawat. Saat dia memasuki rumah sakit tersebut, banyak mata yang melihat kearahnya. Sudah pasti semua orang mengenalnya dalam sehari karena selain dia menikah dengan orang yang mereka takuti, wajahnya tersorot kamera dan terpampang disurat kabar dan majalah di mana-mana.


Sylvia menghela nafas panjang. Sekarang semua orang sudah mengenalnya. Bukan sebagai anggota polisi, tapi sebagai istri dari seorang mafia. Seperti nya dia tidak bisa hidup tenang setelah ini. Kemanapun dia pergi pasti mereka akan menatap sinis dirinya atau mungkin mereka takut padanya. Apa jadinya jika mereka tahu jika dia adalah anggota polisi. Pasti dia sudah di hujat habis-habisan karena menikah dengan musuhnya. Sepertinya saat dia kembali bertugas nanti, dia harus memakai masker agar tidak ada orang yang mengenalnya.


"Aku menolak pergi dengan Anthony karena tidak ingin menjadi pusat perhatian, tapi sekarang justru mereka semua menatapku seperti itu. Tahu begini aku menyamar saja tadi." gerutu Sylvia dalam hati.


Sylvia berhenti di depan kamar VVIP yang di jaga oleh dua orang berbadan kekar. Mereka menegakkan tubuh memberi hormat dan membukakan pintu untuk Sylvia.


"Silahkan, Nona!" seru pria itu.


Sylvia masuk ke kamar tempat ayahnya berada. Dia ingin memastikan keadaan ayahnya terlebih dahulu baru dia akan ke ruangan ibunya. Tapi baru beberapa langkah saja, dia sudah di kejutkan dengan apa yang dilakukan ayahnya


"Sepertinya kau menikmati hari mu di rumah sakit, Tuan Issac." Sylvia melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya memancarkan amarah yang siap meledak saat itu juga.


Dia begitu mengkhawatirkan Ayahnya, dia melakukan apapun untuk keselamatan ayahnya. Tapi apa yang dia dapatkan? Ayahnya bercumbu dengan wanita yang memakai seragam perawat. Bahkan mereka nyaris telanjang.


"S_sylvia?" Issac buru-buru memakai bajunya begitu juga dengan wanita itu. Dia turun dari ranjang Issac dan berlari keluar.


"Sa_sayang, kenapa kau tidak mengabari Daddy jika kau mau kesini?"


"Lalu kau akan menyembunyikan kelakuan bejat mu itu?"


"De_dengarkan Daddy, Sylvia. Semua tidak seperti yang kau lihat. Dia menggoda Daddy dan....


Ucapan Issac terhenti saat Sylvia mengangkat tangannya. Dia merutuki kebodohannya karena kelakuan nya di lihat langsung oleh putri nya. Bagaimana jika Sylvia sampai memberitahu Debora?


"Aku khawatir pada Daddy, aku bersedia menikah dengan Anthony, hanya untuk menolong nyawa Daddy dan mommy. Tapi apa yang aku dapat? Hanya kekecewaan. Dan sekarang, daddy justru bersenang-senang dengan wanita itu? Atau jangan-jangan selama ini Daddy menggunakan uang itu untuk jalan9-jalan9 di luar sana, Iya?" teriak Sylvia


"Maafkan Daddy , sayang." sesal Issac


"Aku kecewa padamu, Dad." Sylvia meninggalkan Issac begitu saja. Dia kecewa pada pria itu. Rasanya dia ingin menangis tapi dia bukan wanita lemah. Dia lebih suka melakukan sesuatu untuk mengalihkan pikirannya yang sedang kacau.


Sylvia berhenti sesaat setelah sampai di depan pintu. Dia menatap kedua bodyguard yang berjaga dan berkata, "Aku ingin kalian cari wanita yang memakai seragam perawat tadi dan laporkan pada pihak rumah sakit. Katakan jika perawat itu sudah melakukan perawatan plus-plus pada pasiennya."


"Baik Nona." seru keduanya serempak.


Sylvia kembali melangkah. Dia jadi malas untuk menjenguk ibunya. Dan dia akan membuat ayahnya menyesal suatu hari nanti. Dan untuk perawat itu, dia yakin setelah ini, dia akan dipecat.


Siapa suruh melakukan hal menjijikan itu di Rumah sakit. Harusnya dia pergi ke Bar atau tempat hiburan lainnya untuk menjajakan tubuh nya. Bukan di rumah sakit.

__ADS_1


Sylvia kembali menjadi pusat perhatian saat berjalan di lorong rumah sakit. Tapi wanita itu sudah tidak perduli. Memergoki ayahnya berbuat hal menjijikan membuatnya sangat geram. Rasanya dia ingin menghajar Ayahnya saat itu juga


Dia masuk ke mobilnya dan menginjak pedal gas. Dia masih harus menemui seseorang di cafe jam 10 nanti jadi dia akan membeli topi dan kacamata hitam agar tidak menjadi pusat perhatian nantinya.


Topi dan kacamata sudah dia dapatkan. Sekarang saatnya pergi ke Cafe karena dia sudah terlambat. Dia harap orang itu datang karena ada sesuatu yang penting yang ingin di bicarakan. Jika tidak dia tidak akan lagi mau menemuinya.


Sylvia memarkirkan mobilnya. Dia memakai topi dan kacamata hitamnya dan turun dari mobil. Dia masuk ke cafe dan mencari orang yang ingin bertemu dengannya.


"Itu dia." Sylvia menghampiri orang tersebut dan langsung duduk didepannya.


"Ada apa kau meminta bertemu disini?" tanya Sylvia


"Apa begitu caramu berbicara dengan temanmu, Sylvia?" seru orang itu


"Ck.. Kau tahu, aku paling tidak suka berbelit-belit. Jadi katakan!! Untuk apa kau memintaku kemari, Dam?" tanyanya pada orang yang bernama Damian


Damian terkekeh. Baru dua Minggu mereka tidak bertemu, tapi Damian sangat senang mendengar Sylvia yang terdengar sangat cerewet.


"Jadi, ada apa sebenarnya? Jika kau hanya ingin bertanya tentang pernikahan ku, lebih baik lupakan karena aku tidak akan menjawabnya." ucap Sylvia.


"Aku tidak akan bertanya tentang hal itu, tapi aku tidak menyangka jika seleramu seperti itu."


"Berarti benar kau terpaksa. Apa kau sedang menjalankan misi?" tanya Damian


"Misi?" Sylvia mengerutkan keningnya. Dia bingung kenapa Damian bisa mengira jika dia sedang menjalankan misi


"Ini." Damian memberikan sebuah map coklat pada Sylvia.


"Apa ini?" tanya Sylvia


"Kau akan tahu saat kau membukanya."


Sylvia kembali berdecak. Dia mengambil map coklat pemberian Damian.


"Aku yakin kau akan bersyukur menikah dengan nya setelah membaca isi dari map tersebut." seru Damian


"Kau membuatku penasaran, Dam."


Damian terkekeh. Dia menyesap kopinya dan memerhatikan wanita yang sudah berhasil mengobrak-abrik hatinya. "Apa kau datang sendirian?" tanya Damian

__ADS_1


"Kau sudah tahu, kenapa masih bertanya?" gerutu Sylvia. Dia bermaksud membuka tapi ditahan oleh Damian.


"Kenapa kau sangat ceroboh sekarang?"


"Sorry." Sylvia memasukan kembali kertas kedalam Map.


"Kau tahu apa yang harus kau lakukan kan? Atau jangan-jangan karena sudah menikah, membuat kemampuan mu berkurang." ledek Damian


"Jangan menghinaku. Otakku masih bisa mengingat hal sekecil apapun itu." gerutu Sylvia. "Kecuali Anthony." batin Sylvia


"Baiklah-baiklah. Aku percaya padamu."


"Ya sudah. Aku mau ke toilet sebentar." Sylvia membawa map coklat tersebut. Dia akan membacanya di toilet nanti. Dia sangat penasaran. Apa yang diberikan Damian? Seperti nya itu adalah hal yang penting.


Di dalam toilet, Sylvia duduk di closed dan membuka map tersebut. Dia terlihat serius membaca lembaran kertas di tangannya.


Deg


"Ti_tidak mungkin. Ini tidak mungkin." Sylvia meremas kertas tersebut. Dia memejamkan matanya dan menghela nafas panjang.


"Aku tidak boleh gegabah. Aku harus mencari tahu kebenarannya. Jika benar dia melakukan hal itu, Aku orang pertama yang akan membunuhnya." Sylvia mengambil pemantik di tasnya dan membakar kertas-kertas itu. Dia membuangnya ke toilet dan menekan dual flush hingga abu kertas tersebut hilang terbawa air.


Sylvia menghela nafas panjang dan keluar dari toilet. Dia tidak mau orang suruhan Anthony yang mengikutinya curiga.


"Maaf membuat mu menunggu." seru Sylvia


"It's okay." Damian menggerakkan ekor matanya kesamping dan Sylvia paham maksud dari Damian.


"Ngomong-ngomong, terimakasih sudah mengantar surat yang aku inginkan."


"Sama-sama. Aku senang bisa membantumu. Jika kau membutuhkan bantuan ku lagi, jangan sungkan untuk menghubungiku." ucap Damian.


"Itu pasti. Kalau begitu aku permisi dulu. Aku harus pulang."


"Hati-hati."


Sylvia mengangguk pelan dan pergi meninggalkan Damian. Tidak berapa lama orang-orang yang mengikuti Sylvia juga pergi dari cafe tersebut.


Damian melirik sinis. Dia merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Rencana berhasil."


__ADS_2