
Tok
Tok
Tok
"Ya sebentar!!!" seorang wanita berteriak dari dalam rumah. Dia berjalan kearah pintu dan membukanya.
Cklek
"Si_siapa kalian?" wanita itu tersentak melihat beberapa pria bertubuh besar berdiri didepan pintu. Apa mereka penagih hutang? Tapi sepertinya dia tidak meminjam uang pada siapapun.
"Dengan nyonya Delwyn?"
"I_iya, saya sendiri. Siapa kalian? Dan ada perlu apa datang kemari?"
"Kami di minta untuk membawa Anda dan juga suami anda. Jadi kami minta kerjasamanya atau kami akan melakukannya secara paksa."
"A_apa maksud kalian? Si_siapa yang meminta kalian untuk membawa kami?" Debora ketakutan setengah mati. Kejadian waktu anak buah Anthony membawa paksa mereka masih menyisakan trauma padanya. Dan sekarang tiba-tiba ada orang yang ingin membawa mereka lagi. Apa ini perbuatan Anthony lagi?
"Silahkan ikut kami!!"
"Ti_tidak!! A_aku tidak mau!!" Debora mundur beberapa langkah. Dan saat itu pula suaminya keluar dari kamar karena mendengar keributan di luar.
__ADS_1
"Ada apa Debora? Kenapa kau berisik sekali?" langkah Isaac terhenti saat melihat di depan pintu mereka ada beberapa pria mengerikan.
"Si_siapa kalian?"
"Sayang!!" Debora menghampiri Issac dan memeluknya karena ketakutan. "Aku tidak tahu siapa mereka. Tapi mereka ingin membawa kita pergi. Aku takut."
Mendengar hal itu, Issac langsung mengambil tongkat bisbol nya. Dia tidak mau lagi hal yang dulu pernah terjadi pada mereka terulang kembali.
Rasa sakit dan takut karena tekanan yang di berikan Anthony masih membekas di ingatannya. Bahkan setelah Anthony mendapatkan putrinya, mereka tidak mendapatkan hak istimewa apapun dari pria itu. Sungguh tidak tahu terimakasih.
"Kami sudah mengatakannya secara baik-baik. Tapi jika kalian menolak maka tidak ada cara lain." orang-orang itu masuk dan mulai menangkap Issac dan Debora.
Isaac sudah bersiap dengan tongkat bisbol nya. Tapi selain kalah jumlah, orang-orang itu bukan tandingan Issac. Alhasil, mereka berdua berhasil di tangkap oleh orang-orang yang tidak di kenal.
Sylvia memutar ulang rekaman video milik Axel. Dia masih tidak percaya jika ada pengkhianat di antara mereka. Dan lebih menyakitkan lagi, dia sangat mengenal orang itu.
Dia tidak tahu bagaimana akan menyikapinya nanti. Apakah dia bisa membalaskan dendam atas kematian Axel atau tidak. Karena bagaimanapun dia sudah lama mengenal orang itu.
Tapi yang lebih membuatnya bingung, kenapa dia tega mengkhianatinya? Apa yang membuat dia seperti ini, sampai-sampai dia rela mengkhianati tim dan bekerjasama dengan musuh?
"Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku tidak mau melibatkan perasaan. Walaupun kau adalah temanku, tapi aku kan tetap menegakkan keadilan."
"Yang salah harus di hukum. Dan aku yang akan menjadi hakim untuk nya yang akan menjatuhkan hukuman mati jika terbukti dia bersalah." Sylvia mengepalkan kedua tangannya erat. Setelah bergelut cukup lama dengan perasaannya, Dia sudah bertekad untuk menghukum orang yang bersalah. Tidak perduli dia sahabat atau keluarga nya sekalipun.
__ADS_1
Di saat bersamaan, terdengar nada notifikasi dari ponselnya tanda ada sebuah pesan masuk.
Sylvia mematikan laptopnya dan mengambil ponsel di atas nakas.
"Nomor baru?" gumam Sylvia. Dia membuka pesan tersebut dan membacanya. Tapi entah apa isi dari pesan itu. Yang jelas itu bukan berita bagus. Terlihat raut wajah Sylvia mulai berubah. Rahang nya mengeras, kedua matanya memerah. Dia mengepalkan tangannya erat.
"Brengsek!!!" pekik Sylvia. "Aku tidak menyangka kau begitu pengecut. Dasar sialan!!" umpat Sylvia
"Ada apa sayang?"
Sylvia menatap kearah pintu. Dia menghela nafas panjang dan bersikap seolah tidak terjadi apapun. "Ti_tidak ada apa-apa?"
"Tidak ada apa-apa? Lalu kenapa kau berteriak?" Anthony duduk di tempat tidur dan melihat laptop Sylvia yang tergeletak di samping wanita itu. "Kau menontonnya lagi?" tanyanya lagi
"Iya, Aku masih tidak percaya jika dia melakukan semua itu, Thon." Sylvia menunduk sedih. Dia merasa lega karena tidak perlu mencari alasan kenapa dia berteriak. Pasti sekarang Anthony berfikir jika dia kesal karena Video itu.
"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Dua hari lagi, kita akan menjalankan rencana kita. Jadi bersiaplah!!" Anthony meninggalkan Sylvia sendiri. Dia ingin memberi waktu pada Sylvia untuk menenangkan diri.
Siapa yang tidak sedih di saat kita mengetahui jika sahabat terdekat itu mengkhianati kita? Kita percaya padanya tapi ternyata dia menginginkan nyawa kita. Dan itulah sekarang yang terjadi pada Sylvia.
Melihat Anthony yang keluar dari kamarnya, Sylvia kembali membaca pesan masuk di ponselnya. Dia sangat marah. Bahkan si pengirim juga mengirimkan foto yang membuatnya sangat geram.
"Maaf Anthony. Tapi aku tidak bisa menunggu dua hari lagi." batin Sylvia
__ADS_1