Terpaksa Menikah Dengan Mafia

Terpaksa Menikah Dengan Mafia
Wanita Kesayangan


__ADS_3

Sylvia berkeliling melihat-lihat isi perusahaan milik Anthony. Dia tidak menyangka, walaupun Anthony terlihat kejam tapi dia memberikan fasilitas kantor dengan desain interior mewah untuk karyawannya.


Sejauh Sylvia melihat, dia menemui banyak ruang kerja individual atau pribadi, ruang kerja bersama atau tim, Ruang rapat, Area kolaboratif, Quiet room, dan area touch down. Semua ruangan itu di sediakan untuk para karyawan. Dan yah, Sylvia akui suaminya itu mempunyai sisi baik karena memberikan fasilitas tersebut demi kenyamanan pekerja.


Tapi tetap saja harus ada harga tinggi untuk semua itu. Dia yakin semua karyawan dituntut untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Jika tidak, entahlah apa yang terjadi.


Sebenarnya waktu kecil Sylvia sangat ingin bekerja di perusahaan. Melihat orang pergi menggunakan mobil dan mempunyai banyak uang membuatnya ingin menjadi pengusaha. Tapi mengingat kasus pembantaian kedua orangtuanya yang sampai saat ini belum menemukan titik terang, membuat Sylvia memendam dendam pada si pelaku. Dia bersumpah akan menemukan pembunuh kedua orang tuanya. Untuk itu, untuk mempermudah dirinya menyelidiki kasus tersebut, dia masuk ke akademi kepolisian.


Cukup lama Sylvia berkeliling dan hal itu membuatnya haus. Untuk itu dia memutuskan untuk mencari pantry.


"Em... Permisi, apa kau tahu di mana pantry berada?" tanya Sylvia pada karyawan yang kebetulan lewat.


"Pantry ada di lantai tiga, nona." jawabnya


"Terimakasih."


"Sama-sama." Karyawan itu melirik Sylvia sekilas kemudian pergi begitu saja.


Sylvia sudah tidak kaget dengan sikap karyawan Anthony. Bahkan dia sudah terbiasa mendapatkan tatapan tidak suka dari mereka. Sylvia merupakan orang yang acuh tak acuh. Dia tidak perduli opini orang lain selama dia tidak melakukan kesalahan. Walau terkadang keluar ucapan pedas dari mulutnya, tapi itu juga tergantung lawan bicaranya.


Sylvia masuk ke lift dan menekan tombol nomor tiga. Dia sudah sangat haus dan ingin bersantai sejenak di pantry.


Pintu lift terbuka, Sylvia keluar dan mencari letak pantry tersebut. Walau masih jam kerja, ternyata banyak karyawan yang keluar masuk pantry dan sepertinya itu sudah menjadi kebiasaan mereka.


Sylvia mulai membuat minuman untuk dirinya sendiri setelah sampai di pantry. Dia membuat Red Eye Coffee dan membawanya ke kursi yang kosong.


"Ah.. Nikmatnya." ucap Sylvia yang sedikit demi sedikit menyesap kopi buatannya.


Sylvia bersantai dengan memainkan ponselnya dan tidak berapa lama dua karyawan terlihat masuk ke Pantry dan membuat minuman juga. Mereka terlihat membicarakan sesuatu yang membuat Sylvia berhenti memainkan ponsel. Dia meletakkan ponselnya dan menopang dagu dengan tangannya sambil mendengarkan obrolan kedua karyawan tersebut.


"Apa kau lihat tadi Tuan Anthony datang bersama istrinya?" tanya karyawan yang bernama Bella


"Iya, aku melihatnya. Kenapa memangnya?"


"Astaga Emma, apa kau tidak lihat nona sangat cantik. Aku jadi iri padanya, tidak hanya cantik, tapi dia juga menjadi pendamping Tuan Anthony." seru Bella


"Astaga Bella. Kau ini terlalu polos ternyata. Apa kau tidak tahu desas desus yang beredar tentang istri Tuan Anthony?"

__ADS_1


"Memangnya ada apa?"


"CK, ternyata kau sangat kudet ya. Dengarkan aku! beredar kabar jika istri Tuan Anthony itu menggunakan trik licik untuk mendapatkan Tuan Anthony. Dan aku yakin kabar itu benar. Kau tahu sendiri kan bagaimana Tuan Anthony. Jadi sangat mustahil jika Tuan Anthony tertarik dengan wanita kampungan seperti dia."


Sylvia menaikan kedua alisnya. Dia tidak menyangka jika dia terlalu buruk di mata semua orang. Dia menggunakan trik licik untuk mendapatkan Anthony? Apa dia tidak salah dengar. Justru Anthony yang menggunakan trik licik itu dan memaksanya menikah dengan nya.


"Benarkah? Tapi yang aku lihat dia terlihat seperti wanita yang terhormat." ucap Bella


"Ck... Jangan salah, Wanita jalan9 jika berpenampilan seperti dia, akan terlihat seperti wanita terhormat."


"Ekhm.."


Bella dan Emma tersentak dan menoleh kebelakang. Di Sana, Sylvia kembali menyesap kopinya dan membawa cangkir yang masih berisi penuh itu ke wastafel. Dia sudah mulai kehilangan kesabaran saat dirinya di samakan dengan jalan9. Harusnya mereka menjaga baik-baik mulut mereka karena mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi dengan mudahnya mereka menuduhnya begitu sadis.


Sylvia berdiri di dekat Bella dan Emma yang menunduk. Awalnya dia ingin memberi pelajaran pada mereka berdua, tapi melihat mereka ketakutan dia jadi merasa kasihan.


"Apa kalian tahu, karya pertama Conan Doyle, A Study In Scarlet? Di dalamnya ada percakapan, Ada benang merah dari pembunuhan dalam kumparan kehidupan yang tanpa warna . Tugas kita adalah mengurai, memisahkan dan membukanya setahap demi setahap. Apa kalian tahu maksudnya?" tanya Sylvia


Bella dan Emma saling pandang. Mereka menggelengkan kepala dan kembali menunduk.


Sylvia menghela nafas panjang. Dia yang salah disini. Mereka tidak akan tahu apa yang dia katakan, karena di otak mereka hanya ada pendapatan dan pengeluaran dan bagaimana mengembangkan perusahaan.


"Wah wah.. Coba lihat! Siapa ini?" Anne melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap sinis Sylvia.


"Wanita murahan yang mengangkangkan kedua kakinya demi bisa menikah dengan orang kaya." ucap Anne lagi dengan sinis


"Aku sarankan, jaga ucapanmu jika kau masih sayang dengan nyawamu." seru Sylvia


"Kau mengancam ku?"


"Aku hanya memperingatkan saja. Kau sudah lama bekerja dengan Anthony. Pasti kau tahu seperti apa Tuan mu itu, bukan?"


Anne mengepalkan tangannya. Dia tidak menyangka jika wanita yang menjadi istri Tuannya berani padanya Dia pikir wanita itu hanya wanita lemah yang mudah di tindas. Tapi ternyata, dia tidak takut sama sekali.


"Kau mengatai ku jalan9, bukan? Sepertinya aku harus bangga dengan sebutan itu karena jalan9 yang ada di hadapanmu ini lebih berharga karena menjadi kesayangan Tuanmu. Daripada kalian yang...." Sylvia mengibaskan tangannya meremehkan Anne.


"Kau.....

__ADS_1


"Ada apa ini?" suara bariton yang terdengar begitu tegas membuat keempat wanita itu terdiam.


Anne, Bella dan Emma menunduk tapi tidak dengan Sylvia yang tersenyum sinis melihat ketiganya.


"Akan aku buktikan jika aku ini adalah kesayangan Tuanmu." bisik Sylvia pada Anne


Sylvia tersenyum pada Anthony dan mendekatinya. "Kenapa kau kemari?" Sylvia memeluk lengan Anthony mesra.


"Kau lama sekali. Jadi aku mencari mu." Anthony melihat tangan Sylvia yang melingkar di lengannya. Dia merasa aneh dengan sikap wanita itu yang tiba-tiba berubah. Tapi dia tidak ambil pusing. Dia mengira jika Sylvia sudah memulai menyukainya.


"Aku sedang mengobrol dengan sekretaris dan kedua karyawanmu. Apa kau tahu, sekretaris mu bilang jika aku....


"Tu_tuan, Daniel bilang aku harus menghadiri rapat dengan Tuan Kim. Apa itu benar?" ucap Anne memotong pembicaraan Sylvia. Bisa gawat jika wanita itu mengatakan apa yang baru saja ia katakan padanya. Bisa-bisa dia mati mengenaskan.


"Sejak kapan kau meragukan Daniel?" ucap Anthony dengan ekspresi dingin.


"Ma_maaf Tuan."


"Tadi kau mau berkata apa, hm?" tanya Anthony pada Sylvia.


Sylvia melirik Anne, Bella dan Emma yang terlihat ketakutan. Dia tersenyum sinis dan beralih menatap Anthony.


"Mereka bilang, Mereka tidak percaya jika kau bisa jatuh cinta padaku karena kau di kenal tidak pernah dekat dengan siapapun."


"Mereka berkata seperti itu?" Anthony menatap ketiga karyawannya dengan tatapan tajam. Tapi kemudian Sylvia mengalihkan wajah Anthony agar menatapnya.


"Wajar mereka berkata seperti itu karena pernikahan kita sangat mendadak."


Anthony meraih pinggang Sylvia agar merapat padanya. Dia mengusap wajah wanita itu dan berkata, "Pernikahan adalah simbol bersatunya dua insan untuk membangun keluarga yang harmonis. Tidak perduli itu pernikahan sederhana ataupun mewah. Yang terpenting adalah hati kita."


Sylvia tersenyum tapi dalam hati dia tidak berhenti mengumpat. Dia merutuki kebodohannya karena melakukan hal yang salah dengan membalas wanita jadi-jadian itu. Tapi sepertinya Anthony juga tengah memanfaatkan keadaan.


Apalagi tiba-tiba Anthony mendekatkan wajahnya. Dan hal itu membuat Sylvia tidak bisa berbuat apa-apa. Jika dia menolak, orang-orang akan tahu jika dia berbohong. Tapi jika dia membiarkan Anthony menciumnya, pasti pria itu mengira jika dirinya mulai menyukainya.


Cup


Satu ciuman mendarat sempurna di bibir Sylvia. Dia hanya pasrah saat lidah Anthony menerobos masuk kedalam mulutnya. "Baiklah, kali ini aku membiarkan mu. Tapi tidak untuk lain kali." batin Sylvia

__ADS_1


Ciuman panas mereka di saksikan langsung oleh ketiga wanita yang masih berada di sana. Mereka seolah tidak percaya jika Pria yang mereka kenal tidak tersentuh oleh siapapun bisa mencium wanita begitu saja. Dan jangan lupa jika wanita itu adalah istrinya.


"Sial... Awas saja. Aku pasti akan membuat Anthony menendang mu." batin Anne geram.


__ADS_2