Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Project Dadakan


__ADS_3

Bab. 101


"Mas, udah ....!" rengek Ara ketika suaminya masih terus menerus memompa dirinya.


"Nggak. Sebelum kamu jelasin ke aku." tegas Ryu.


Pria itu semakin mempercepat temponya hingga suara jeritan beserta ******* terdengar memenuhi ruang kamar mereka yang selama dua tahun ini sangat sepi.


"Gi—mmhh ... gimana mau jelasin kalau kamunya giniin aku terus!" protes Ara langsung memekik di akhir kalimatnya karena Ryu memperdalam dirinya di dalam sana.


Peluh saling menetes begitu saja di kala pergerakan di antara mereka berdua begitu hebat. Hingga pada akhirnya Ryu menjatuhkan dirimu di atas tubuh Ara dengan napas terengah.


Mereka terdiam. Saling mengatur napas dan lalu saling melempar senyum kepuasan.


"Lagi?" tanya Ryu di mana milik mereka masih menyatu.


Dengan gelengan lemas, Ara mencoba untuk menolak tawaran itu. Namun, suami mesum dan memang tengah sangat lapar sebab selama tiga bukan tidak ganti oli. Terus menggoda dirinya dengan cara menggerakkan yang masih menyatu tersebut. Perlahan, pelan, lalu disentak keras. Lebih lagi posisi kaki Ara saat ini berpindah naik ke bahu Ryu. Siapa coba yang tidak kelimpungan jika digitukan.


"Mas!" pekik Ara seketika. Membuat Ryu semakin menampilkan senyuman jahilnya.


"Satu kali lagi, Yaang. Habis itu jelasin."


***

__ADS_1


"Jadi karena kamu menyelesaikan kuliahnya dua tahun?" tanya Ryu menarik kesimpulan dari cerita Ara barusan dan mendapat anggukan kepala dari wanita yang berada di atas dadanya saat ini. Lemas dan tak bertenaga sama sekali.


"Aku pingin cepat tinggal bareng sama kamu, Mas. Makanya aku ambil yang dua tahun itu. Alasan kenapa aku jarang banget balas chat kamu, ya karena aku sibuk skripsi dan sidang. Makanya selama tiga bulan ini aku melarangmu menjengukku," jelas Ara.


Ryu mendengar tanpa menyela. Ia usap lembut rambut Ara yang begitu panjang. Ryu suka melamukan ini.


Sementara Ara mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah Ryu.


"Kamu marah, Mas?" tanya Ara dengan wajah penuh sesal.


"Iya." jujur Ryu. Pria itu masih melakukan kegiatannya. Tidak ada ekspresi marah atau kecewa yang dia tampilkan selain tatapan teduhnya pada Ara.


Ara terkesiap dan langsung naik ke atas, mensejajarkan posisi mereka.


Ryu tersenyum melihat kepanikan di wajah Ara. Lalu ia belai lembut wajah yang sangat ia rindukan. Yang selalu berhasil membuat dirinya marah-marah karena tidak bisa melihat wajah wanitanya itu selama tiga bulan lamanya.


"Aku percaya sama kamu, Yaang,* ucap Ryu. Kasihan juga mengerjai balik istri kecilnya ini. "Terimakasih sudah berjuang untuk mempersingkat kuliahnya di sana."


Ara mengangguk. "Karena aku pingin banget tidur ditemenin kamu kayak gini, Mas. Lagi pula aku juga nggak sabar pingin segera buka butik sendiri di sini dengan karya-karyaku," ujar Ara dengan binar senang di matanya.


Ryu tidak menanggapi perkataan Ara. Membuat Ara menatap heran.


"Kenapa lagi kali ini, Mas?" tanya Ara bingung dengan perubahan sikap suaminya.

__ADS_1


"Sepertinya kamu harus menunda perencenaanmu yang satu ini, Yaang," ujar Ryu begitu serius. Ara semakin penasaran dengan maksud suaminya.


"Kenapa?" tidak memungkiri jika Ara sedikit kecewa mendengarnya. Namun, wanita itu tidak berani menyuarakannya.


Sementara Ryu malah beranjak dari tempatnya, membuat Ara tersentak kaget.


"Mas, bilang kalau memang kamu nggak suka. Jangan seperti ini," pinta Ara takut kalau suaminya marah dengan wacana yang sudah dia katakan pada Ryu.


Ryu meninggalkan Ara dan masuk ke dalam kamar mandi. Membuat Ara ingin menangis rasanya diabaikan oleh suaminya sendiri. Namun, belum ada lima menit, pria itu kembali keluar dengan handuk yang melilih di pinggangnya.


"Mas, ka—"


"Ayo! Kita belum melakukannya di kamar mandi, Yaang." ajak Ryu semakin membuat Ara tidak paham.


"Hah? Maksudnya apa, Mas?"


"Kamu harus menunda rencanamu itu, karena aku memiliki sebuah project yang harus segera diselesaikan." jelas Ryu mengenai kebingungan Ara.


"Project?" ulang Ara dan mendapat anggukan kepala. "Project apa yang mengharuskan diriku ikut juga?"


Ryu menarik tubuh Ara hingga jatuh di pelukannya. Lalu pria itu dengan begitu gagahnya menggendong Ara persis seperti anak koala. Dan pria yang berubah sangat sangat mesum itu tentu saja meloloskan handuknya sendiri saat tubuh mereka saling menempel tanpa sekat. Bahkan, Ryu langsung melakukan penyatuan mereka kembali tanpa peringatan sedikit pun.


"Arkhh!" pekik Ara menjingkat, namun tidak bisa kabur di saat Ryu menekan pinggul dan menahan kakinya yang berada di pinggang Ryu.

__ADS_1


"Karena aku membutuhkanmu sebagai wadah project-ku, Yaang."


__ADS_2