
Bab. 42
Di dalam kamar, Ara menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Gadis iru tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada mereka. Di satu sisi Ara sangat menyayangi keluarganya, namun di sisi lain ternyata kakak angkat nya tidak sepeti apa yang ia bayangkan sebelumnya. Terlebih lagi perbuatan Ryu yang sangat di luar nalarnya.
"Kalau udah tau gue adiknya, kenapa malah nyium gue kayak gitu sih, Kak!" erang Ara di balik bantal. Sehingga suaranya tidak akan terdengar sampai luar kamar. Lebih lagi tadi sangking emosinya Ara mengunci kamarnya. Tidak ingin bertemu dengan orang itu lebih dulu. Fakta yang baru terungkap ini sungguh membuat Ara sedikit susah menerimanya. "Kenapa juga harus lo yang ambil ciuman pertama gue, Kak Ryu. Kenapa? Astagaaahhh!"
Ara sendiri bingung saat ini. Meskipun di antara mereka tidak ada hubungan darah dan memang ia akui jika kakak angkatnya itu semakin tampan, namun Ara masih sangat sadar betul jika dirinya sudah menjadi istri dari seseorang yang entah siapa dan seperti apa orang itu. Tidak mungkin juga Ara menyukai pria itu setelah apa yang terjadi di antara mereka.
Tidak! Ara tidak boleh terlena hanya karena sesuatu yang baru dia rasa. Lebih lagi dirinya sudah punya suami. Tidak seharusnya berdekatan dengan pria lain selain suaminya.
__ADS_1
"Lo nggak boleh kayak gini terus, Ra. Lo tetap harus jaga marwah suami lo apapun itu keadaan dia nanti," gumam Ara mencoba untuk menyadarkan dirinya sendiri agar tidak terlena dengan ketampanan Ryu yang sekarang. "Udah ... dia kakak lo. Sampai kapan pun dia tetap akan kadi kakak lo. So, lo harus buang pikiran aneh lo itu, Ra." imbuhnya lagi.
Tidak ingin membuat dirinya semakin kepikiran, Ara kemudian menghapus make up nya lalu segera beristirahat tanpa mengisi perutnya lebih dulu. Selera makannya pun langsung hilang begitu saja dengan kejadian yang cukup membuatnya shock berat.
Gadis itu juga mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur seperti apa yang Ara kenakan jika akan tidur. Seutas tali yang afa di bahu, serta terusan selutut dengan bahan yang tidak terlalu tipis namun begitu jatuh hingga mengikuti lekuk tubuh pemakaiannya. Di tambah lagi di bagian atas dadanya terdapat renda yang melingkar. Membuat Ara lebih manis dan menggemaskan tentunya.
Ryu mencoba untuk mengalihkan pikirannya dengan mengambil tablet yang ada di dalam tas, lalu membuka email untuk mengecek pekerjaan karyawannya dari sana. Termasuk pekerjaan asisten yang ia cegah untuk tidak mengikuti dirinya pulang ke Indonesia. Untuk sementara Ryu menyerahkan tanggung jawab nya pasa asistennya tersebut.
Selang beberapa jam dan mata mulai kantuk, sedangkan pekerjaannya belum selesai. Pada akhirnya Ryu memutuskan untuk membuat kopi. Agar ia bisa bertahan untuk beberapa jam ke depan dan menyelesaikannya tepat waktu.
__ADS_1
Ryu beranjak dari tempatnya dan melangkah keluar menuju ke dapur yang berada di lantai dasar. Belum sampai di dapur, Ryu menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu yang menghubungkan ruang dapur dnegan ruang makan yang Tidaka jauh dari ruang tengah.
Ryu memperhatikan seseorang yang berada di dapur tengah mengambil air putih dan langsung meminumnya dengan duduk terlebih dulu di pinggiran wastafel. Sosok itu seolah terlihat seperti jelmaan bidadari yang tersesat hingga jatuh di dapur rumahnya sekarang ini. Jakun Ryu sampai tergerak naik turun ketika pria itu menelan ludahnya sendiri. Dia benar-benar seperti pria mesum, sesuai dengan julukan yang diberikan Ara kepada dirinya. Meski sadar, namun Ryu seolah enggan untuk memalingkan wajahnya dari sosok tersebut. Lebih lagi anu, emm ... bagian depan Ara sungguh begitu membuatnya semakin berselera.
'Sialan lo emang, Ryu. Sok sok-an nolak, tapi si Jun malah bereaksi mulu jika liat dia.' Ryu merutuki iminnya yang begitu tipis, bahkan bisa dibilang lebih tipis dari tisu.
Padahal selama ini hidup di Kanada dengan pergaulan bebas di sana pun Ryu tidak tergoda sedikit pun. Meskipun pernah dekat dengan beberapa perempuan di sana. Namun, rasa-rasanya tidak seperti sekarang yang ia rasakan jika melihat Ara. Padahal gadis itu hanya minum seperti layaknya orang minum. Sama sekali tidak ada gerakan gadis itu yang menggoda dirinya.
Hatinya ingin Ryu cepat beranjak dari sana, namun otaknya menyuruh untuk tetap pada posisinya. Jika ada rejeki di depan mata, pantang untuk ditolak dan diabaikan. Begitulah kiranya bisik sang otak mesum Ryu.
__ADS_1