
Bab. 73
"Ini anak, bukanya belajar yang bener malah ngajakin perfome dadakan kayak gini!" ujar Tristan yang langsung memiting kepala Ara dan mengempitnya di ketiak pria itu. Tanpa memperhatikan tatapan tajam dari seseorang yang sangat begitu kentara sekali tidak menyukai apa yang dilakukan oleh Tristan saat ini kepada Ara.
Ara memukul badan Tristan seperti biasa jika mereka bertemu.
"Iihh ... jorok banget sih lo, Kak! Nggak mandi ya!" sentak Ara yang berhasil melepas dari Tristan.
Pria berkacamata bening dengan hidung yang sangat mancung serta bibir kemerahan asli dan juga memiliki kulit putih itu pun menyeret kursi dan duduk di sebelah Ara. Lalu mencium ketiak nya sendiri.
"Nggak tuh. Udah mandi tiga kali gue ya hari ini!" ujar Tristan tidak terima dikata belum mandi.
"Dih! Tumbenan banget. Biasanya juga kagak pernah mandi," ledek Ara dengan wajah yang begitu menyebalkan. Ketika Tristan akan melayangkan tangan dan berniat ingin mencubit gadis itu, dengan sigap Ara menggeser kursinya ke arah Ryu.
"Wle! Nggak kena!"
"Ya udah. Gue pulang aja. Males musti gitarin lo!" ucap Tristan yang seolah ngambek.
Sontak, Ara pun mendekat dan membujuk. Entah di sengaja atau tidak, yang jelas berhasil membuat pria yang sedari tadi mengunci mulutnya rapat-rqpat pun merasa begitu geram. Tatapan matanya saja terlihat sangat tidak bersahabat sama sekali.
Sedangkan Hiro yang baru saja memikirkan mobil pun heran ketika melihat wajah sepupunya begitu muram. Lalu Hiro menatap ke arah si tidak peka.
"Ck! Udah sama suaminya, masih aja sikapnya kayak gitu kalau ketemu Tristan. Bakalan perang nih habis ini," gumam Hiro menghela napas berat. Karena posisi dirinyalah yang berat di sini.
"Hai, Bro!" sapa Hiro ketika sudah sampai di meja tempat mereka berkumpul. Sama seperti Tristan, pria itu menarik kursi yang ada di dekatnya dan duduk di antara Tristan dan Ryu.
Ara yang melihat Hiro pun ingin mendekat seraya merentangkan tangan. Namun, dengan cepat Ryu mencegah istrinya itu. Menarik tangan Ara dengan sengaja hingga gadis itu terjatuh dan duduk di pangkuannya. Sengaja Ryu melingkarkan tangannya ke perut Ara. Sedang matanya melirik ke arah Tristan. Seolah menegaskan bahwa gadis yang ada di pangkuannya saat ini merupakan miliknya.
__ADS_1
"Hati-hati, Yaang," ucap Ryu begitu lembut serta menyingkirkan rambut yang sebenarnya tidak mengganggu sama sekali.
Ara mengernyitkan kening. Dengan Segers gadis itu turun dari pangkuan Ryu.
"Kenapa sih, Kak. Aku mau bicara sama Kak Hiro," Ara melayangkan tatapan protes ke arah Ryu. Lebih lagi mengenai panggilan pria itu.
Hiro mencium sesuatu di sini. Sangking tidak bisa menahan rasa penasarannya dan demi memuaskan rasa itu, Hiro pun bertanya secara langsung kepada yang bersangkutan.
"Udah tau?" tanya Hiro menatap penuh arti ke arah Ryu. Ryu pun memberi anggukan kepalanya. "Mau go publik sekarang?" tanyanya lagi.
"Nggak!" sahut Ara cepat. "Aku masih sekolah. Enak aja main go goan. Nggak ada. Nanti aja kalau udah kuliah!" tolak gadis itu secara langsung.
Membuat Ryu dan Hiro melebarkan mata mereka. Tidak percaya jika Ara akan menolak Ryu mempublishkan hubungan mereka yang sebenarnya.
Sementara itu Tristan yang tidak mengerti apa-apa, hanya bisa diam dan menyimak saja.
"Kenapa?" tanya Hiro cukup penasaran dengan alasan Ara menolak jika hubungan pernikahan di antara gadis itu dengan sepupunya dipublishkan.
"Begini ya, Kak. Kak Ryu tiba-tiba aja nikahin aku tanpa aku tau. Bahkan aku yakin Kak Hiro waktu itu tau, kan? Kalau Kak Ryu suamiku. Terus kenapa enggak bilang? Demi menjaga perasaan dan mental ku, kan? Nah, sekarang pun juga sama. Aku menjaga nama baik ku dulu. Karena semua orang taunya aku anak bungsu dari pasangan mama Yuan dan Papa Rio. Kalau tiba-tiba saja Kak Ryu mengatakan aku istrinya. Lalu, apa tanggapan mereka mengenaiku? Hmm? Juga mengenai Kak Ryu? Pasti mereka anggapnya kita udah anuan duluan kan. Kayak nggak tau mulutnya diterjen aja loh!" jelas Ara.
Memang benar apa yang dikatakan okeh Ara. Jika tiba-tiba saja Ryu mengumumkan pernikahan mereka, yang ada akan banyak tanggapan negatif yang mengarah ke mereka nantinya. Tentu saja hal ini mmbuat Ryu semakin sulit.
"Dih! Sejak kapan kamu nanggepi omongan orang, Dek! Orang lo nya aja juga kek begitu," cibir Hiro yang terbiasa di ajak bergosip oleh Ara dan juga saudara kembarnya, Tami.
Ara hanya meliriknya tajam. Tidak ingin ke biasa nya dibongkar oleh Hiro di sini.
Sedangkan Tristan yang dari tadi diam pun, pria itu memyimpulkan sesuatu dan langsung mengkonfirmasikan secara langsung kepada Ara.
__ADS_1
"Wait wait! Lo udah nikah, Ra?" tanya Tristan menatap bingung ke arah Ara.
Dan lebih bingung lagi ketika melihat anggukan dari gadis itu serta pengakuannya yang begitu jujur. Sangking jujurnya sampai-sampai membuat tiga pria yang ada di sana tercengang dengan segala pemikiran Ara.
"Udah, Kak. Nih, suamiku," jawab Ara. "Bentar lagi otewe janda kok. Mau nungguin jandaku, kan? Kak Tristan tenang aja. Walaupun aku janda nantinya, tapi masih bersegel kok belum tersentuh dsn terjamah sedikit pun. Karena Kak Ryu be—hmphh!"
Ryu langsung membungkam mulut istrinya yang luar biasa unik. Setiap kata yang keluar dari mulut mungil ini selalu saja berhasil membuat orang tercengang. Tidak terkecuali dirinya.
"Yaang, mau pulang sekarang nggak. Kan katanya tadi mau belajar lagi," tawar Ryu dengan tangan yang masih membungkam mulut Ara agar tidak mengatakan kalimat yang aneh-aneh.
Sekuat mungkin Hiro menahan tawanya, melihat sepupunya kuwalahan menghadapi tingkah unik Ara. Meskipun gadis itu begitu menarik dan sangat cantik, namun sikapnya terlalu slengekan. Lebih lagi mulutnya.
Ara mencoba untuk melepas tangan Ryu dari mulutnya.
"Nggak! Aku mau nyanyi dulu!" tolak Ara. Lalu gadis itu membenarkan penampilannya. "Ayo, Kak!" anaknya pada Teristan. "Lagunya Jebakan Mantan, ya!" ujarnya lagi.
Ryu tidak sanggup menahan gadis itu. Karena Ara sudah berjalan menuju tempat khusus untuk menyanyi di sana.
"Udah, biarin aja. Asal dia nggak nemplok-nemplok ke cowok. Kalau semakin lo larang, dia semakin tertantang buat ngelawan lo. Kalau nggak percaya, coba aja deh." ingat Hiro seraya terkekeh kecil.
Kasihan juga melihat Ryu yang ternistakan seperti ini oleh istrinya sendiri. Padahal sikap sepupunya itu jika dengan orang lain, sangat suka sekali seenaknya sendiri. Apa lagi jika moodnya jelek, pasti akan ada pemecatan masal yang dia lakukan tanpa sebab, meskipun dengan pesangon yang lebih dari cukup.
"Dicoba apanya. Orang dia kayak gini tuh juga karena balas dendam sama gue," sahut Ryu dengan wajah yang tampak begitu pasrah.
Hiro mengangkat sebelah alisnya. "Balas dendam?"tanya Hiro. "Lo lakuin kesalahan apa lagi. Mau perk0sa dia?" tebak Hiro yang membuahkan sebuah geplakan di bahunya.
"Lama-lama itu mulut gue ganti miliknya Soang!" balas Ryu kesal. "Dia tau gue pernah dipeluk sama Gista. Makanya balesnya kayak gini. Mana temen lo itu kurang ajar banget. Nggak tau ada gue di sini, malah main meluk-meluk kayak gitu. Dari perusahaan mana dia?" tanya Ryu menatap serius ke arah Hiro. Membuat Hiro menelan Saliva nya susah.
__ADS_1
'Sial! Kalau Ryu udah kayak gini, alamat gulung tikar itu perusahaan Tristan kalau sampai gue kasih tau.' batin Hiro.
Sebisa mungkin harus mengalihkan percakapan di antara mereka. Dari pada ada korban hanya karena rasa cemburu yang belum tersadari oleh masing-masing pihak.