
Bab. 34
"Iya, Pak. Berhenti di depan sini saja," sahut Tusha yang kemudian merapikan jaket yang sedang dipakai oleh Ara. "Apa Bapak punya payung? Soalnya hujannya masih deras banget," tanya Tusha tidak tega jika mengajak putrinya untuk keluar tanpa payung.
Sopir itu mengangguk lalu mengambilkan payung yang tersimpan di bagasi mobil. Untuk kemudian memberikannya kepada penumpangnya tersebut.
"Ini, Nona," ucap sopir itu seraya menyerahkan sebuah payung kepada Tusha.
"Makasih, Pak," ujar Tusha pada sopir taxi tersebut yang kemudian menyuruhnya untuk pergi saja.
__ADS_1
Lalu Tusha membawa Ara kecil menuju ke sebuah rumah dengan pintu gerbang yang sangat tinggi. Do sana ada pos penjaga yang kebetulan masih mengingat Tusha. Wanita itu beruntung menemukan rumah yang benar. Untuk kemudian Tusha dan sara kecil di bawa masuk oleh penjaga pos tersebut. Di depan pintu utama, Tusha meneteskan air matanya. Membuat Ara kecil bingung namun tetap diam dan menurut dengan apa yang dikatakan oleh mamanya.
"Ara ...." panggil Tusha dengan sangat lembut. "Ara mau kan tinggal di sini?" tanya Tusha lagi.
Ara kecil yang masih sangat polos pun menganggukkan kepalanya. Dengan polosnya Ara menjawab mau ketika ditanya seperti itu oleh Maminya. "Mau, Mami. Ara mau tinggal di sini asalkan Mami senang." Begitulah jawaban Ara kecil yang masih belum mengetahui apa sebenarnya masalah yang sedang dihadapi oleh maminya.
Tusha tersenyum senang sekaligus sesak di dada melihat senyuman polos dari Sang Putri. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk putrinya dan juga untuk dirinya. Agar Ara tidak berada di lingkup kehidupan yang nanti akan menjerumuskan gadis itu ke jalan yang salah. Dan itulah yang ditakutkan oleh dirinya jika Ara hidup dengan dirinya. Terlebih lagi pria brengsek itu masih mengincar dirinya dan juga Ara.
Hingga selang beberapa menit kemudian pintu itu terbuka dari arah dalam dan keluarlah orang yang sangat dia kenali. Tentu saja orang itu sempat berekspresi terkejut, terlebih lagi ketika melihat anak kecil yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Kak Tusha?" sapa orang yang membuka pintu rumahnya. Di mana orang itu tidak lain ialah Yuan.
Tusha tersenyum melihat Yuan yang membukakan pintu untuk mereka. Kemudian wanita itu menyapa Yuan lalu menarik Ara untuk mendekat ke arahnya dan mengenalkannya kepada Yuan. Sebelum menceritakan apa tujuannya datang ke sini bersama putrinya, Yuan mengajak mereka berdua untuk masuk ke dalam rumah. Karena suasana di luar sangatlah dingin. Ditambah lagi Yuan melihat gadis kecil yang berada di samping Tusha itu kedinginan.
"Mari, masuk dulu Kak," ajak Yuan.
Di dalam rumah, terlihat Rio menghampiri istrinya dan menatap curiga ke arah Tusha. Itu hal yang sangat wajar Tusha terima. Kemudian juga ada remaja yang mendekat. Tusha tahu, remaja itu merupakan anak tunggal mereka.
Di ruang tamu yang bernuansa biru muda serta dipadukan dengan warna putih, di sanalah Akhirnya Tusha menceritakan permasalahannya dan kenapa membawa putrinya ke sini.
__ADS_1
Rio sempat terkejut mendengar cerita mantan tunangan dari adiknya tersebut, begitupun dengan Yuan. Mereka tidak menyangka jika hidup Tusha selama ini sangatlah memprihatinkan. Sampai-sampai menghasilkan seorang gadis yang begitu cantik dan menggemaskan, di mana gadis itu saat ini sudah berada di atas pangkuan seorang pria muda yang merupakan anak tunggal dari pasangan Rio dan Yuan.