
Bab. 41
Mama Yuan tidak menyangka jika putranya sudah lama pulang dan melakukan sesuatu kepada Ara, di mana gadis itu yang selama ini mama Yuan jaga. Bahkan tidak membiarkan Ara lecet sedikit pun.
"Jadi kamu melanggar larangan Mama?" mata mama Yuan memicing ke arah Ryu. Acara makan malam yang seharusnya dipenuhi dengan suasana senang, karena pada akhirnya ahli.waris dari keluarga Rayyansyah tersebut pulang, namun ternyata ekspetasi memang tidak boleh melebih realita. Sangat sangat main sekali perbandingannya.
"Mama jangan lupa, Ryu nggak salah juga kok la—"
"Apa? Nggak salah Kak Ryu bilang? Hah?" potong Ara yang tidak terima jika Ryu mengatakan apa yang dia lakukan kepada dirinya itu benar. "Asal Kakak tau aja ya, Ara tuh selama ini menjaga bibir Ara agar tetap suci tanpa ternoda sedikit pun. Bahkan nyamuk saja nggak Ara bolehin nyium bibirnya Ara. Tapi Kak Ryu? Malah bilang nggak salah nggak salah. Enak bener kalau ngomong!" protes Ara penuh dengan nada marah.
Sementara itu papa Rio dan mama Yuan menghela napas. Mau menegurnya juga bagaimana, karena memang Ryu juga tidak melakukan kesalahan mencium istrinya sendiri. Sedangkan ingin menasehati Ara, gadis itu juga benar dalam posisinya. Karena Ara tidak mengetahui siapa Ryu sebenarnya.
__ADS_1
"Terus mau lo apa? Dikembaliin lagi?" tawar Ryu menatap santai ke arah Ara. Lalu pria itu menggeser kursinya agar mendekat ke arah Ara dengan tangan yang bergerak ke depan. Membuat Ara bersikap waspada. "Sini, gue kembaliin lagi. Biar tetep utuh," ujar Ryu dengan tangan yang hampir menangkup kedua pipi Ara.
Cepat-cepat Ara mundur, menjauh dari seseorang yang dia rindukan dan menjadi pelindungnya di masa lalu. Ara pikir, kakak angkatnya itu akan tumbuh menjadi pria dewasa yang begitu menyayangi dirinya dan melindungi dirinya seperti apa yang dia lakukan di masa lalu.
Namun, lagi lagi Ara tidak boleh menaruh ekspetasi nya terlalu tinggi. Karena pada fakta yang ada di depan matanya sekarang, pria ini malah menjadi orang yang sangat menyebalkan, menjengkelkan, membuatnya benar-benar ingin mencabik-cabik wajah Ryu yang berekspresi jahil seperti sekarang.
"Mamaaaa!" pekik Ara dengan suara begitu melengking, membuat Ryu menutup telinganya segera. Dari pada gendang telinganya nanti rusak oleh suara cempreng gadis ini.
"Udah liat kan kelakuan dia yang sekarang, Ma?" adu Ara kepada mama Yuan. "Ara nggak mau dekat-dekat sama dia, Ma. Dia pria mesum," rengeknya lagi.
"Ck? Siapa juga yang mau deket-deket sama gadis cengeng," sahut Ryu yang malah mengambil makanan kesukaannya lalu memakannya dengan sangat santai. Seolah sedang tidak terjadi apa-apa di sana. Pun begitu dengan papa Rio. Pria itu juga mulai memakan makanan yang ada di atas piring nya.
__ADS_1
Melihat hal tersebut, membuat Ara melepas pelukan mama Yuan yang mencoba untuk menenangkan nya. Ara memilih pergi dari sana dan masuk ke dalam kamarnya. Tidak lupa menguncinya rapat-rapat. Ara sadar dengan apa yang dia lakukan. Ryu merupakan anak kandung mereka. Kurang ajar sekali dirinya malah meminta mama Yuan untuk mengusir Ryu dari rumah pria itu sendiri. Padahal di sini yang menumpang itu dirinya.
Hembusan napas terdengar dari Ryu. Sikap Ryu yang berpura-pura menyebalkan di depan Ara, kini tatapan pria itu berubah. Seolah tengah menyesal dengan apa yang dia lakukan.
"Kenapa? Menyesal?" tebak mama Yuan dengan nada begitu ketus.
Papa Rio yang ada di sampingnya pun langsung meraih tangan mama Yuan. Mengusapnya pelan, memberi ketenangan pada istrinya.
"Ma ... mungkin Ryu nggak sengaja," ucap papa Rio.
Mama Yuan menghela napas. "Inilah alasan kenapa Mama nyuruh kamu pulang setelah Ara lulus," ujar mama Yuan dengan nada lebih lembut. "Karena Mama sangat hapal betul, kalian para lelaki nggak akan tahan jika melihat makanan lezat di hadapan kalian. Apa lagi itu milik kalian. Benar, kan?" tebak mama Yuan seraya memijat kepalanya. Bagaimana nanti caranya untuk membujuk Ara yang tengah merajuk saat ini.
__ADS_1