
Bab. 48
Di dalam perjalanan menuju pulang, Ryu merasa aneh. Karena tiba-tiba saja keadaan di dalam mobil terasa hening. Kemudian Ryu menoleh ke arah samping. Di mana ada istrinya di sana.
"Ck! Pantas saja sepi. Pembuat onar nya udah tidur," gumam Ryu menggelengkan kepalanya.
Ryu sendiri tidak menyangka kalau ternyata istrinya modelan seperti gadis di sampingnya saat ini. Dirinya yang lebih suka suasana hening, justru mendapatkan seorang istri yang sukanya heboh sendiri. Bahkan sepanjang perjalanan sampai beberapa menit yang lalu, Ara tidak hentinya mengoceh. Membahas apa saja, bahkan mengenai tokoh di dalam komik yang sedang dia baca. Tentu saja Ryu tidak paham, karena komik yang kebanyakan Ara ceritakan dari merupakan serial cantik. Di mana Ryu tidak membaca genre tersebut.
"Bener omongan Hiro. Hidupku bakalan penuh warna setelah ini. Baru juga belum ada sehari, dia sudah membuatku sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pemikiran dan segala ucapannya sangat diluar ekspetasiku," desah Ryu lagi.
Ini masih satu hari. Entah bagaimana kalau lebih dari satu minggu. Mungkin bisa-bisa uban di kepalanya cepat tumbuh karena kebanyakan senam otak.
Ryu pun membenarkan jaket miliknya untuk menutupi tubuh Ara agar tidak kedinginan karena AC mobil. Kemudian pria itu menambah laju mobilnya agar cepat sampai di rumah.
Sesampainya di rumah, Ryu menggendong Ara dan masuk ke dalam rumah. Ketika akan menaiki tangga, Ryu dikejutkan dengan kehadiran Mama yang tiba-tiba saja keluar dari arah dapur.
"Habis dari mana?" tanya mama dengan suara sedikit terkejut.
__ADS_1
Ryu langsung mengisyaratkan mamanya untuk memelankan suaranya. Karena Ara sudah tertidur.
"Habis makan di luar, Ma," jawab Ryu dengan suara lirih.
Mama Yuan memicingkan mata. "Terus ngapain main gendong gendongan segala macam? Kayak yang pengantin baru aja," celetuk mama Yuan yang entah mungkin wanita paruh baya itu masih mengantuk. Sehingga lupa akan status Ryu dan Ara yang memang pengantin baru.
Ryu menatap malas ke arah namanya. "Mama lupa?" tanya Ryu seraya melanjutkan langkahnya untuk menaiki anakan tangga.
Mama Yuan tersenyum. "Jangan sekarang, Ryu. Ara belum ujian," ingat mama Yuan sembari mengikuti Ryu. Takut kalau saja putranya khilaf lagi.
Ryu menghentikan langkahnya di tengah-tengah tangga tersebut lalu menoleh ke belakang.
Setelah mama Yuan yakin dan membalikkan badannya, Ryu pun melanjutkan langkahnya menuju ke lantai dua. Di mana kamar Ara berada di sisi kiri tangga. Bersekat satu ruang dengan kamarnya.
Dengan pelan tangan Ryu yang berada di bawah tubuh Ara, membuka pintu kamar gadis itu. Beruntung lampu nya masih menyala, sehingga tidak membuat Ryu kerepotan untuk menyalakan lampu kamar gadis yang saat ini berada di dalam gendongan Ryu.
Setelah masuk bukannya langsung merebahkan Ara di tempat tidur berukuran luas yang ada di depannya, Ryu malah mengedarkan tatapannya untuk menelisik ruangan berwarna peach serta Lilac tersebut. Benar-benar kamar seorang gadis.
__ADS_1
"Masih disimpan ternyata," gumam Ryu ketika melihat boneka yang ada di atas nakas, serta di samping boneka itu ada foto Ara kecil bersama seorang remaja laki-laki yang tidak lain ialah dirinya.
Ryu menarik sudut bibirnya ke atas. Ada rasa senang karena gadis ini rupanya menyimpan barang kenangan darinya. Padahal selama ini ia menolak untuk berkomunikasi dengan Ara, karena takut jika Ara membenci dirinya setelah kejadian di belakang rumah mereka. Di mana pada saat itu Ryu menyalakan kembang api bersama Ara kecil untuk merayakan tahun baru.
Namun naasnya beberapa kembang api yang dibeli oleh Ryu dalam jumlah banyak tersebut terbakar secara bersamaan karena terkena percikan dari kembang api sebelumnya. Dan hal itu menyebabkan gazebo yang terbuat dari kayu dan sedang mereka tempati terbakar hingga merembet ke bangunan belakang lainnya yang memang di desain seperti pondok kayu. Membuat Ara kecil mendapat luka bakar di punggungnya. Karena baju bagian belakang gadis kecil itu terkena sahutan api.
Ryu tanpa sadar meremas tangannya di tubuh Ara, seraya memejamkan mata begitu erat ketika mengingat kejadian itu. Itulah mengapa Ryu memutuskan untuk ikut tantenya ke Kanada. Karena rasa bersalah yang teramat luar biasa kepada adik angkatnya tersebut. Sampai-sampai Ryu rela memberikan kasih sayang orang tuanya kepada Ara.
"Ck! Ryu berdecak.
Susah payah dirinya kabur dari kenyataan, namun justru takdir seolah ingin mempermainkan nya dan menghukumnya secara bersamaan. Kini dirinya malah terikat begitu erat dengan gadis yang masih berada di dalam gendongannya.
Ryu menatap wajah tenang Ara ketika terlelap seperti ini. Benar-benar sangat cantik. Lebih lagi bibirnya yang ranum. Ah ... Otaknya mulai mengajak Ryu untuk berkelana.
Tidak ingin semakin teracuni, Ryu kemudian segera membaringkan Ara di atas tempat tidur yang ada di belakangnya. Dengan gerakan yang begitu pelan dan tidak membuat Ara terusik sedikit pun, Ryu pun mulai menarik tangannya dari bawah punggung serta kaki Ara.
Akan tetapi tiba-tiba saja Ryu kehilangan keseimbangan di kala Ara menarik tangannya dan memeluk lengannya layaknya bantal guling. Sampai-sampai Ryu terjatuh di atas tubuh Ara dan menindih tubuh gadis itu.
__ADS_1
Entah sebuah kebetulan atau memang memanfaatkan situasi, bibir mereka saling menempel dan tentu saja hal tersebut membuat Ara membuka matanya lebar-lebar. Terkejut dengan apa yang Ryu lakukan kepada dirinya.