
Bab. 86
Sedangkan Ryu yang masih berada di perusahaan, lebih tepatnya di ruang rapat yang sekarang ini masih berlangsung. Tentu dengan papa Rio yang juga berada di sana, pria itu beberapa kali melihat ke arahnya jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Seraya mengetukkan jarinya ke meja beberapa kali hingga menarik perhatian orang di sekitarnya.
"Kenapa?" tanya papa Rio di saat mereka masih mendengarkan penjelasan mengenai laporan bulanan tersebut.
Ryu menoleh ke arahnya papanya lalu mendekat.
"Waktunya Ara pulang, Pa," ujar Ryu.
Papa Rio kemudian mengintip jarum jam yang tengah dj pakai oleh Ryu. Walaupun padahal pria setengah baya itu juga memakai jam dengan merk yang sama seperti yang dipakai oleh putranya.
Benar juga. Sekarang ini putri sekaligus menantunya tersebut sedang ujian. Sehingga akan pulang lebih awal dari jam pulang sekolah biasanya.
"Tunggu lima menit lagi. Kita jemput bareng ke sana," ucap papa Rio kemudian. Lalu pria itu meminta beberapa ketua dari beberapa divisi yang berada di ruang rapat di sana untuk mempersingkat laporan mereka.
Sementara Ryu mendengkus kesal ketika papanya ingin ikut menjemput istri kecilnya itu.
'Ck! Kalau Papa ikut, yang ada gue nggak bisa pacaran sama Ara.' gerutu Ryu di dalam hati.
Ingin melarangnya pun Ryu tidak memiliki keberanian yang cukup, setelah apa yang mama Yuan peringatkan kepada dirinya. Atau kalau tidak menurut, bisa-bisa ibunda ratu itu akan melakukan sesuatu di luar prediksi mereka semua.
Tidak ingin membuat Ara menunggu tanpa kabar, Ryu memilih untuk mengirim pesan kepada Ara agar menunggunya di kantin atau kalau tidak di cafe yang berada di sebelah gedung sekolah Mahardika itu.
__ADS_1
Ting!
Sebuah pesan balasan pun masuk dan cepat-cepat Ryu membukanya.
My Mine.
'Aku ada di cafe. Di kantin udah sepi. Takut diajak pacaran sama Mang Imron kalau nunggu di sana.'
Begitulah isi pesan balasan sari istri kecilnya itu. Membuat Ryu menggelengkan kepala. Dari mana asalnya rasa percaya diri yang Ara miliki. Benar-benar wanita yang unik dengan segala pemikirannya.
'Iya, tunggu saja di sana. Habis ini aku sampai, Yaang.' balas Ryu.
Padahal keluar dari ruang rapat saja belum, tetapi pria itu malah mengetukkan sesuatu yang tidak sama seperti fakta yang ada.
"Papa aja yang nyetir," ucap papa Rio sebelum Ryu masuk ke bagian kemudi.
Membuat Ryu menaikkan alisnya. Heran dengan ucapan papanya barusan.
"Tumben? Kenapa?" tanya Ryu menatap curiga.
Papa Rio merauo wajah putranya dengan sangat kasar. Lalu masuk ke bagian kemudi.
"Papa masih punya rencana buat bikinin adik buat kamu. Kalau kamu yang bawa mobilnya, yang ada nyawa Papa terancam dan wacana Papa itu akan gagal sebelum terlaksana. Buat antisipasi saja," balas papa Rio membuat Ryu ingin sekali memggeplak kepala papanya kalau saja tata krama dan sikap sopan santun itu dihapus dari muka bumi ini. Bisa-bisanya papanya itu berpikiran sesuatu yang jelas-jelas tidak akan ia lakukan. Sebab ia sendiri juga masih sayang dengan nyawanya.
__ADS_1
"Memangnya Papa pikir Ryu nggak sayang ama nyawa sendiri?" ketus Ryu. "Ryu juga masih pingin buatin Papa cucu yang banyak. Biar Papa dan Mama nggak ada waktu buat tanam benih lagi!" tekannya menatap penuh dendam ke arah papanya.
Papa Rio melirik serta tersenyum miring ke arah Ryu setelah menyalakan mesin mobilnya.
"Kita lihat saja. Siapa di antara kita yang lebih dulu jadi," tantang papa Rio seraya menatap penuh arti ke arah putranya. "Tapi kalau kamu tidak takut dengan ancaman Mama." imbuh papa Rio lagi dengan tawa penuh kemenangan.
Ryu mendengkus kesal lalu membuang wajahnya ke samping. Andai mamanya tidak mengancam kalau akan mengirim Ara ke Paris demi mewujudkan mimpi wanita itu yang ingin menjadi designer ternama. Mungkin, Ryu tidak perlu takut mengenai tantangan dari papanya barusan. Ia lebih takut dengan kesaktian yang dimiliki oleh mamanya. Terlebih lagi memang Ara sempat mengatakan ingin menjadi seorang designer.
Kemarin malam ketika mereka makan malam bersama, mama Yuan memang mengeluarkan ultimatumnya kepada Ryu di hasapan Ara secara langsung. Kalau sampai Ryu membuat Ara hamil di usia sebelum dua puluh tahun, mama Yuan bakalan melakukan sesuatu yang berhasil membuat Ryu tidak bisa berkutik sama sekali. Ti tambah lagi Ara juga sangat setuju dengan apa yang dikatakan olah mamanya semalam. Memang, dua orang wanita itu sangat pandai sekali dalam menyiksa dirinya. Tidak tahu apa, kalau di luaran sana banyak serangga yang suka dengan istri kecilnya itu.
"Ck! Kalau nggak Ryu buat hamil, takutnya malah semakin banyak serangga yang deketin Ara, Pa. Cobalah Papa bantu Ryu mendapat keringanan sedikit dari Mama. Emangnya Papa mau, kalau sampai nanti Ara pas udah masuk kuliah, terus kecantol sama pria seumuran dia? Papa akan kehilangan putri sekaligus menantu Papa loh!" bujuk Ryu agar papa Rio mau berpihak kepada dirinya.
Sembari mengemudikan mobil yang mereka tumpangi, papa Rio menoleh ke samping sekilas. Lalu fokus pada jalan yang ada di depannya sekarang ini.
"Kalau yang itu, kamu urus sendiri. Papa nggak mau ikut campur, dari pada jatah Papa dikurangin. Kamu tau sendiri kan, kalau pas udah di ujung itu rasanya pingin banget nerobos," ujar papa Rio melirik penuh arti. Membuat Ryu semakin kesal.
"Dih! Nggak ingat umur banget!" cibir Ryu. Bisa-bisanya papanya ini malah mengedepankan kegiatan berkeringat nya di banding menolong kelangsungan rumah tangga putranya sendiri.
"Karena iru yang terpenting bagi Papa untuk saat ini. Kamu udah besar, udah bisa nentuin hidup dan rumah tanggamu sendiri," timpal papa Rio.
"Nentuin sendiri apanya. Orang Mama masih suka ikut campur!"
Papa Rio tertawa mendengar kekesalan Ryu.
__ADS_1
"Ya itu pintar-pintarnya kamu dalam mengambil keputusan."