Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Mengidam


__ADS_3

Bab. 102


"Mas, bangun, Mas. Aku laper," rengek Ara sambil menggoyangkan tubuh Ryu yang terlelap di sampingnya.


Pria itu menggeliat, lalu mengucek matanya dan melihat ke arah jam yang berada di atas nakas. Dan jarum jam di sana menunjuk ke angka sebelas malam dan baru saja dirinya berhasil memejamkan mata. Mungkin baru satu jam. Tetapi istrinya ini malah membangunkan dirinya.


"Udah jam sebelas loh, Yaang. Kan tadi baru makan martabak," balas Ryu mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya. Kepalanya terasa berputar di saat ia buat duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur.


Plak!


Ryu tersentak kaget ketika Ara memukulnya. Tanpa sebab dan tanpa tahu kesalahan apa yang ia lakukan sebenarnya.


"Kok malah mukul sih, Yaang. Kan aku cuma nanya. Di mana salahnya?" protes Ryu sambil mengusap lengannya yang dipukul oleh Ara barusan.


"Masih nanya di mana salahnya!" semprot Ara dengan nasa begitu ngegas. "Kamu yang buat aku kayak gini, Mas. Masih nanya segala macam. Nih, di sini nih yang laper. Makanan satu porsi kecil kayak gitu mana bisa buat mereka kenyang, Mas. Belum lagi aku. Kamu emang nggak tanggung jawab banget ya jadi orang. Ingkar banget. Pas mau bikin aja bilangnya manis-manis, sampai kek pemanis. Tapi giliran udah jadi dan mereka yang minta, malah bilang kayak gitu. Hiks! Kamu keterlaluan memang, Mas. Tau gini mending aku sama ...."


Ara tidak melanjutkan lagi perkataannya, karena wanita yang tengah hamil delapan bulan tersebut menangis sesenggukan. Cepat-cepat Ryu menarik sang istri ke dalam pelukannya dan mengusapnya lembut serta penuh kasih sayang. Sebelum nanti disalahkan lagi oleh ibu dari anak-anaknya ini.

__ADS_1


"Iya iya ... maaf, Yaang. Aku yang salah. Aku nggak peka. Aku yang nggak tau. Maafin Daddy ya, para kesayangannya Daddy," ujar Ryu meminta maaf, meskipun itu bukan sepenuhnya salah Ryu.


Pria yang selalu menjadi tempatnya salah itu pun sambil mengusap perut istrinya yang terlihat sangat besar. Mungkin karena memang di dalamnya ada dua bayi. Sehingga ukurannya melebihi dari kata normal pada orang hamil yang berisi satu bayi saja.


Ryu terus melakukan seperti itu hingga tidak terdengar isak tangis Ara. Wanita itu terdiam dan tinggal sesenggukannya saja. Baru kemudian Ryu menjauhkan wajahnya demi bisa melihat sang istri. Mengusap pipinya yang basah.


"Ya usah, sekarang mau makan apa? Hmm? Atau mau aku masakin?" tawar Ryu dengan nada begitu lembut.


Sesayang itu sebenarnya Ryu kepada Ara. Selalu memanjakan wanita yang akan melahirkan penerusnya. Hanya saja mungkin karena pengaruh hormon kehamilan, terkadang Ara sering kali tidak terbaca. Yang jelas berhasil membuat dirinya serba salah.


"Tapi jangan dimarahi dulu," ucap Ara sebelum Ryu terkejut dengan permintaannya setelah ini.


Ryu mengangguk dengan senyuman lembut yang mengembang di bibirnya.


"Iya. Memangnya Sayangnya Daddy Ryu ini mau makan apa? Hmm?" Ryu mengusap lembut pipi Ara yang juga sedikit berisi.


Tentu, hamil anak kembar sudah jelas membuat tubuh Ara mengalami pembengkakan. Meskipun tidak terlalu berlebih. Namun tetap saja bertambah lebih berisi dari sebelumnya.

__ADS_1


Ara tersenyum senang ketika mendapat tawaran dari suaminya.


"Yakin mau belikan?" tanya Ara lebih dulu. Kebetulan dirinya memang sangat menginginkan makanan ini.


Meskipun rasa kantuk itu masih terasa sangat jelas, Ryu tetap menganggukkan kepalanya.


"Iya, Sayang. Apa sih yang nggak buat kamu. Pingin pulau? Bakalan Daddy belikan," ujar Ryu sedikit menyombongkan apa yang dia punya.


Pria itu tampaknya lupa jika istrinya ini tidak terlalu gila harta.


"Baby twins pingin banget makan pecel Madiun, Daddy," ungkap Ara dengan nada manja. Bahkan wanita itu seolah lupa jika beberapa menit yang lalu dia masih marah-marah dan menangis sesenggukan.


"Oke, kalau begitu Daddy belikan," balas Ryu merasa lega. Karena permintaan Ara kali ini tidak terlalu rumit seperti biasanya.


"Tapi yang jual harus orang Madiun asli, Dad. Pokoknya nanti kamu liat KTP-nya, terus kamu foto dan kirimkan ke aku. Aku mau liat, yang jual itu beneran orang asli Madiun atau bukan. Pokoknya aku maunya yang orang sana asli." permintaan Ara seketika membuat Ryu lemas.


'Aku pikir hari ini libur dulu penderitaan ku. ternyata ditunda sampai malam doang.' keluh Ryu di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2