Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Perjuangan Berujung Nihil


__ADS_3

Bab. 85


Araenoleh ke kanan kiri. Ia kira sahabatnya ini akan melupakan apa yang pernah ia janjikan sewaktu istirahat tadi. Namun ternyata setelah mereka selesai mengerjakan soalan di hari pertama dan pulang, Citra masih saja mendesak dirinya. Meminta penjelasan dari Ara untuk memuaskan rasa haus dari penasaran yang Citra rasa sekarang.


"Siapa Ra?" tanya Citra yang masih setia menunggu Ara untuk membuka suaranya mengenai hal yang sempat terpotong tadi.


"Bisa nggak sih, nggak usah bahas yang itu lagi," sahut Ara dengan bibit ditipiskan.


Citra menggelengkan kepala cepat. "Nggak bisa. Udah terlanjur penasaran gue dari tadi. Sampai hampir nggak fokus sama soal kedua. Eh, lo malah mau main kabur saja. Nggak! Sekarang ngaku, siapa?" tegas Citra yang sudah terlanjur sangat sangat ingin tahu siapa orang yang sudah memberi Ara sebuah tanda di tempat yang begitu menggiring pikiran Citra kalau sahabatnya itu habis nina ninu.


Ara menghembuskan napas sedikit besar. "Harus banget, ya?" tawarnya lagi.


Siapa.tahu sahabatnya ini memberi dirinya kelonggaran sehingga Ara tidak harus menceritakan apa yang sudah terjadi kepada dirinya. Untuk bagian yang ini Ara ingin menyimpannya sendiri. Meskipun kedua orang tua, eh, ralat. Sekarang mereka merupakan mertuanya, dan mereka lah yang tahu.


Citra terdiam. Jika dari sikap Ara, Citra melihat kalau sahabatnya ini agak keberatan menceritakan satu bagian yang ini.


"Ya udah deh, kalau memang ini sangat privasi banget buat lo dan lo nggak siap untuk cerita ke gue, nggak masalah," ujar Citra pada akhirnya.

__ADS_1


Meskipun rasa penasaran iru kian membesar, akan tetapi jika prang yang bersangkutan saja tidak bersedia memberitahu dirinya, maka Citra tahu harus bagaimana. Karena ia sendiri juga mungkin akan melakukan hal yang sama seperti apa yang Ara lakukan, kalau saja ia menganggap itu sangat privasi sekali buatnya.


Ara mengangguk. "Maaf," cicitnya kemudian dengan tatapan tidak enak hati.


Citra menepuk bahu Ara. "Udah, nggak apa. Ya udah, kalau begitu gue pulang duluan, ya! Ada kerjaan habis ini soalnya," pamit Citra yang kemudian pergi meninggalkan Ara di depan sekolah. Sedangkan Citra menuju ke tempat parkir. Mengambil motor kesayangannya.


Ara melambaikan tangan ke arah Citra ketika gadis itu melambaikan tangan saat melewati dirinya dan tersenyum di balik helm yang dipakai oleh Citra.


Saat akan melangkah ke depan menunggu jemputan, Ara dikagetkan dengan sebuah tepukan di bahunya.


Ara melirik malas ke arah Satria lalu menepis tangan pria itu yang masih berada di bahunya.


"Pulang. Gampang!" jawabnya begitu irit dan sangat jelas.


Bukanya Satria segera menyingkir dari sana. Namun, pria itu justru semakin ingin menggoda Ara.


"Ngafe yuk! Sekalian lo ngisi suara di cafe temen gue. Mayan lah, itung-itung nabung pahala, Ra," ajak Satria yang begitu tidak tahu waktu.

__ADS_1


Plak!


Akhirnya pria itu pun mendapatkan geplakan dari Ara di kepalanya dengan begitu keras. Sampai-sampai kepala Satria menunduk. Sebab tidak menduga jika Ara sesadis ini terhadap dirinya.


"Kalau ngomong itu di pikir duli, Bang Sat! Kita tuh masih ujian. Lo malah ajakin gue nongkrong! Otak lo bener-bener udah ke dengkul emang!" omel Ara menatap tajam ke arah Satria. Tangan wanita itu masih saja memberi pukulan du lengan Satria sebelum memutuskan pergi. Meninggalkan tiga pria yang kini menatapnya ngeri.


"Cewek incaran lo makin hari makin sadis aja, Bro," ujar salah satu teman Satria sembari mengangkat bahunya.


"Kalau gue di posisi lo, udah mending mundur aja dah. Dari pada nanti gue jadi pengganti posisi samsak sama dia," timpal teman yang satunya lagi.


Sementara itu Satria menarik bibirnya ke atas dengan tatapan yang tidak lepas dari kepergian Ara.


"Lo nggak tau aja, dia tuh unik. Nggak ada bandingannya pokoknya. Bakalan gue perjuangin, sampai dia benar-benar melihat gue sebagai laki-laki," sahut Satria yang penuh percaya diri kalau suatu saat nanti Ara akan melihat ke arahnya.


Kedua teman Satria hanya memberi tepukan di bahu pria itu.


"Semoga beruntung deh lo," kata mereka begitu kompak. Memberi semangat kepada Satria, yang jelas-jelas pria itu akan kalah. Sebab, wanita yang sedang dia incar merupakan wanita yang sudah memiliki pawang.

__ADS_1


__ADS_2