
Bab. 39
Hingga selang beberapa menit, akhirnya mama Yuan bergabung bersama mereka seraya membawa sesuatu di tangannya. Membuat Ara yang duduk di sampingnya pun memicingkan mata.
"Apa itu, Ma?" tanya Ara sambil menatap hidangan yang di bawa oleh mama Yuan.
Mama Yuan menoleh ke arah Ara. "Makanan kesukaan Kakak kamu, Ra. Masa nggak ingat?" balas mama Yuan.
Di mana jawaban mama Yuan barusan semakin membuat Ara tidak mengerti.
"Tumben buat makanan kesukaan Kak Ryuga. Kak Ryuga mau pulang, Ma?" tebak Ara. Wajahnya berubah senang di saat mendapat anggukan kepala dari mama Yuan.
"Serius?" ulang Ara untuk memastikan jika benar apa yang dikatakan oleh mamanya itu.
"Serius, Sayang. Udah, kamu pindah gih duduknya di sana," tunjuk mama Yuan di kursi depan Ara.
"Kenapa? Kan biasanya tempat Ara di sini Ma. Lagian nanti juga ada tamu Mama, kan?" balas Ara namun tetap menuruti permintaan mamanya tersebut.
__ADS_1
Mama Yuan menggelengkan kepala. Memang Ara ini tidak bisa jika diam dan langsung nurut. Pasti ada aja yang diprotes oleh gadis ini. Apapun itu dan mama Yuan tidak keberatan sama sekali.
Baru saja Ara menempelkan pantatnya di kursi baru itu, datangnya seorang cowok dengan tatanan rambut yang asal. Membuat mama Yuan menghela napasnya. Sudah berusia dua puluh tujuh tahun, tetapi masih saja cuek dengan penampilannya. Sangat berbanding terbalik dengan penampilan putrinya malam ini.
"Oh, ya, Ma. Tamu Mama ma—"
Ketika Ara baru membenarkan roknya dan mengangkat wajah, betapa terkejutnya gadis itu di saat melihat seorang pria yang sangat ia benci.
"Lo!" sentak Ara dengan mata melotot ke arah Ryu. Dia benar-benar terkejut dengan kehadiran Ryu di sana. Bahkan Ara sampai berdiri sari tempatnya.
Membuat mama Yuan bingung dengan sikap Ara yang seperti itu. Karena biasanya gadis itu sangat lemah lembut jika di depan orang yang baru dia temui.
Sedangkan Ryu dengan santai nya melangkah menuju ke kursi kosong yang berada di dekat Ara, lalu dengan tampang rasa bersalahnya, pria itu duduk dengan tenang dan membalikkan piring yang ada di hadapannya lalu mengambil nasi dan menaruhnya di atas piring miliknya. Mengabaikan tatapan tajam dan penuh amarah dari Ara. Serta tatapan bingung dari mamanya sendiri.
"Ma, jelasin. Kenapa bisa cowok brengsek ini ada di sini?" tanya Ara menahan rasa geramnya. Karena ia masih sadar jika ia tengah berbicara dengan mamanya. Meskipun rasa-rasanya ingin sekali meluapkan amarahnya tersebut kepada Ryu.
"Jaga bicara lo dengan orang yang lebih tua dari lo," ingat Ryu dengan wajah datar nya. Semakin membuat Ara benar-benar tidak bisa lagi menjaga imagenya.
__ADS_1
"Ma ...." rengeknya pada mama Yuan..
Sedangkan mama Yuan menatap bingung ke arah Ryu dan Ara.
"Ini sebenarnya ada apa? Kenapa kamu manggil Kak Ryu dengan sebutan brengsek, Sayang?" tanya mama Yuan masih dengan nada normal. "Apa kalian sudah pernah ketemu sebelumnya?" tebak mama Yuan kemudian.
Mama Yuan tidak pernah melihat Ara semarah ini. Lalu wanita paruh baya tersebut menatap ke arah suaminya yang duduk tenang di tempatnya seraya mengangkat bahu. Sungguh sungguh mencurigai sikap mereka semua.
Ara semakin tidak menyangka jika pria yang ada di depannya ini merupakan kakak angkatnya sendiri.
"Dia Kak Ryuga?" tanya Ara. Sangking terkejutnya dengan fakta yang baru ia ketahui, sampai-sampai membuat kaki Ara lemas dan hampir saja gadis itu terjatuh.
Beruntung Ryu dengan cekatan menahan tubuh Ara hingga gadis itu duduk secara perlahan.
"Nggak! Lo bukan Kakak Ryuga-nya Ara!" tekan Ara seraya menepis tangan Ryu yang seenaknya berada di pinggangnya.
Ryu mengangguk. "Memang bukan kakak lo," jawabnya tanpa punya dosa sedikit pun.
__ADS_1
Membuat mama Yuan melotot, tidak menyangka jika putranya tumbuh menjadi pria yang mulutnya begitu pedas dan sikapnya memang sangat menjengkelkan. Pantas saja Ara langsung marah-marah. Namun, ada sesuatu yang membuat mama Yuan sangat penasaran.
"Iiihhh ... nyebelin banget sih jadi orang!" kesal Ara. "Sana, balik ke Tante Zuma!" usirnya secara spontan sembari memukul bahu Ryu.