
Bab. 79
"Loh, Ara sama Ryu kemana, Mas? Kok pada belum turun mereka. Tumbenan banget," tanya mama Yuan ketika tidak melihat dua pasangan muda itu yang belum bergabung dengan mereka di meja makan.
Papa Rio yang sedang menikmati kopi pahitnya itu mengalihkan tatapannya ke lantai atas. Terlihat pintu kamar mereka tidak ada tanda-tanda akan terbuka.
"Mungkin semalaman mereka pulang agak larut, Yaang. Biarkan saja dulu," ujar papa Rio yang kembali menyeruput kopinya lagi.
Mama Yuan menghembuskan napas kasar. Sudah lelah menyiapkan makanan kesukaan mereka, namun yang disiapkan malah tidak turun turun. Terlebih lagi mama Yuan juga sudah menyiapkan salad yang merupakan makanan kesukaan Ara. Karena gadis itu tidak terbiasa makan pagi. Terutama makan nasi.
"Kalau dimakan agak siangan nanti nggak enak, Mas. Aku udah bangun pagi-pagi cuma buatin ini demi mereka loh! Masa di anggurin kayak gini!" omel mama Yuan.
Jika sudah begini, papa Rio tidak berani menyahut. Karena nanti ujung-ujungnya dirinya juga akan terkena omelan dari wanita tercintanya tersebut.
__ADS_1
"Coba aku luat dulu ke atas, Mas. Apa lagi Ara kan katanya mau olahraga bentaran. Biar nggak terlalu tegang buat hadapi ujian besok," ujar mama Yuan yang mendapat anggukan dari papa Rio.
Mama Yuan pun melangkahkan kakinya menuju tangga dan menaiki anakan tangga tersebut. Mama Yuan lebih dulu menuju ke kamar Ara.
Tok tok!
"Sayang ... bangun, Sayang! Ini sudah jam delapan loh! Katanya kemarin mau jogging ke taman sebelah. Nggak jadi a?" tanya mama Yuan dengan volume yang begitu tinggi. Sampai-sampai suaranya masih terdengar begitu jelas di ruang makan yang bersekat beberapa ruang.
"Ara! Kamu baik-baik saja, kan?" mama Yuan berteriak sekali lagi seraya menambah volume suaranya.
Raut panik jelas begitu kentara terlihat di wajah mama Yuan. Wanita itu kemudian membuka pintu Ara yang ternyata tidak dikunci. Dan betapa kagetnya mama Yuan ketika tidak mendapati Ara di dalam kamar gadis itu. Mama Yuan masuk ke dalam, mencari Ara ke beberapa titik, namun tetap tidak menemukan Ara. Bahkan di dalam kamar mandinya pun gadis itu tidak ada. Semakin membuat mama Yuan begitu khawatir.
"Mas! Sini, Mas! Ara nggak ada!" teriak mama Yuan menghebohkan penghuni rumah. Bahkan bi Tijah dan pak Sul pun mengatakan tidak melihat Ara keluar.
__ADS_1
"Yaang ... kamu tenang dulu," ujar papa Rio berusaha untuk menenangkan istrinya yang terlalu panik.
"Gimana aku bisa tenang, kalau Ara nggak ada, Mas!" semprot mama Yuan. Perasaannya yang begitu kacau, malah disuruh tenang oleh suaminya yang memiliki tingkat kepekaan begitu rendah.
"Memangnya kamu sudah dari ke seluruh kamar, Yaang? Kamarnya Ryu? Udah?" tanya papa Rio membuat mama Yuan menghentikan sikapnya yang terlalu panik.
"Kamar Ryu?" ulang mama Yuan seolah tiba-tiba saja otaknya tidak mau mencerna beberapa praduga yang melintas di benaknya.
Papa Rio mengangguk mantap. "Iya, Yaang. Siapa tau kan Ara diculik sama anakmu sendiri," jelas papa Rio.
Mama Yuan menggelengkan kepala. Menolak hasil peruntungan dari nalar dan hati nuraninya. Yang jelas mama Yuan belum siap akan kesimpulan itu.
"Enggak, Mas. Itu jelas nggak mungkin!" tolak mama Yuan. "Aku sudah memperingati Ryu agar nggak macam-macam dulu sama Ara. Dia nggak mungkin lakuin itu, kan?" imbuhnya lagi yang teringat akan ancaman yang pernah mama Yuan lontarkan kepada putranya sendiri.
__ADS_1