Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Tak Terbendung


__ADS_3

Bab. 82


Ryu menghembuskan napas kasar lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Masa apa yang terjadi di dalam rumah tanggaku, aku harus bicarain ke Mama dan Papa sampai detail?" ujar Ryu yang semakin membuat papa Rio bingung.


Mama Yuan yang baru bisa menguasai dirinya lagi pun wanita itu menegapkan tubuhnya. Berdiri tanpa dibantu oleh suaminya lagi.


Plak plak plak!


Tanpa babibu terlebih dulu, mama Yuan memukul seluruh tubuh Ryu dengan penuh amarah. Sampai-sampai Ryu melangkah keluar dari kamarnya lalu menutup pintu rapat-rapat. Tidak akan membiarkan papanya melihat Ara dalam keadaan berlilitkan selimut. Walau yang terlihat hanya bahu ke atas, namun Ryu tetap tidak rela jika kemulusan istrinya itu dilihat oleh pria lain. Meskipun itu papanya sendiri.


"Ampun, Ma! Ampun!" ujar Ryu.


Tangan mamanya memang lebih kecil darinya. Akan tetapi tenaga yang dikeluarkan benar-benar sudah di niat kan dan di khususkan untuk dirinya kayaknya.


"Nggak ada ampun buat anak bandel kayak kamu! Sudah mainnya jauh. Nggak pulang-pulang. Dinikahin nggak mau. Giliran dilarang jangan di buntingin, malah langsung di buntingin! Nggak ta—"


"Siapa yang buntingin, Ma! Ryu cuma pingin praktek ilmu biologi yang diajarin oleh Papa sama pencegahannya juga. Cuma itu doang. Ryu nggak bikin Ara bunting, karena Ara semalam udah minum obat yang Ryu beli!" pangkas Ryu sebelum mamanya memarahinya lebih dari ini.

__ADS_1


Papa Rio mendelik ketika dirinya diikut sertakan oleh putra durjananya ini. Sudah untung ia mau menjelaskan, namun malah dibalas dengan sebuah pengkhianatan seperti itu.


Sementara itu Ryu memberi tatapan memohon dan meminta maaf pada papanya.


"Biologi?" ulang mama Yuan. Lalu menatap ke arah suaminya. "Bagian apa?" tanya mama Yuan pada suaminya dengan tatapan penuh amarah.


Ditatap seperti itu, membuat papa Rio gemetar. Bukan takut karena hal lain, melainkan takut kegiatan yang paling dia sukai dengan sang istri pun harus diliburkan gara-gara masalah putra durjananya.


"Re-reproduksi, Yaang," jawab papa Rio dengan suara gemetar.


Mama Yuan menahan amarahnya yang semakin meluap. Lalu wanita itu menoleh ke adah Ryu.


"Enggak, Yaang! Aku suruh dia makai sarung. Bukan makai obat!" sela papa Rio membela diri. Karena memang dirinya tidak menyarankan hal itu.


"Ryu usah coba, tapi rasanya aneh. Papa tau sendiri kan, rasanya makin—"


"Nggak. Papa nggak pernah makai sarung selama ini. Jadi nggak tau rasanya. Papa cuma makai gaya tertentu agar nggak jadi janin." pangkas papa Rio mencari aman. Membuat Ryu mendelik tidak percaya.


"Lah! Terus kalau nggak tau, kenapa nyaranjn Ryu makai sarung, Pa! Malah kurang berasa. Untung aja aku tanya sama apotekernya dan akhirnya beli obat pencegah kehamilan. Menyesatkan banget Papa ini," ujar Ryu kesal karena merasa dijebak oleh papanya. "Mulai sekarang Papa makai pengaman. Ryu nggak mau kalau sampai punya adik." tekan Ryu.

__ADS_1


"Nggak enak!" sahut papa Rio. "Lagi pula, kenapa kalau kamu punya adik? Kami masih muda. Masih pantas untuk memiliki bayi."


"Nggak boleh! Ryu udah pantas dipanggil 'Daddy' masa mau punya adik? Malu lah! Papa juga udah tua. Kalau memang pingin bayi, Ryu bisa buatin. Minta berapa? Dua? Empat? Atau sebelas sekalian? Biar nggak butuh orang luar kalau mau bentuk tim sepak bola," tawar Ryu seraya memainkan alisnya.


Mama Yuan tidak bisa lagi mencegah emosinya. Dua pria yang ada di depannya ini sungguh tidak tahu malu sama sekali.


Grep!


Mama Yuan meremas mulut kedua prianya itu tanpa melepasnya.


"Muluuuuuuuuuuuttt ... kalau nggak diruqiyah ya kayak gini. Bisa-bisanya kalian bahas seperti itu tanpa disaring! Dasar, pria sialan! Brengsek! Seenaknya sen—"


"Ma, udah, Ma. Di dalam ada menantumu. Jangan bicara kasar dulu," ingat papa Rio yang berhasil melepas tangan mama Yuan dari mulutnya lalu segera membawa istrinya tersebut pergi dari sana. Memberi tatapan penuh arti pada Ryu untuk membereskan rumah tangganya sendiri.


"Aku belum selesai, Mas! Aku mau coret dia dari KK!" teriak mama Yuan.


Papa Rio membawa mama Yuan menuruni anakan tangga. Hingga sampai di lantai dasar, baru pria itu menyahuti perkataan dari istrinya.


"Terus, kalau kamu mau coret Ryu dari KK, kita buat bayi lagi? Gitu?" tanya papa Rio menatap jahil ke arah mama Yuan dan pukulan serta tatapan sinis dari istrinya. "Boleh juga. Lagian dia juga udah nggak lucu," imbuh papa Rio yang semakin terkekeh melihat wajah mama Yuan memerah. Antara marah dan tersipu menjadi satu.

__ADS_1


"Dasar, pria tua mesuuuuummmm!"


__ADS_2