
Bab. 77
Meskipun sudah pernah berciuman beberapa kali dengannya, tetapi pergerakan gadis nya ini masih belum ada kemajuan. Terasa sangat kaku. Sehingga membuat Ryu harus dengan sabar mengajari Ara. Tidak bisa main sat set dan langsung melakukan penyatuan jiwa dan raga.
Tidak. Tidak bisa seperti itu. Karena jika ia melakukan cara seperti itu, bisa Ryu pastikan Ara jelas akan pingsan. Karena sangking shocknya. Akan panjang urusannya nanti.
Dengan gerakan yang begitu lembut, Ryu menuntun Ara untuk membalas apa yang ia lakukan. Juga sentuhan tangannya yang sangat mendukung pada titik titik bagian tertentu.
"Ikuti aku, Yaang. Jangan buru-buru. Malam masih panjang," ujar Ryu mnuntun Ara untuk mengikuti dirinya.
Setelah memberi jeda pada Ara untuk mengambil napas, pria itu pun kembali menyatukan bibir mereka tanpa menunggu kesiapan dari Ara. Kali ini lebih dalam dan semakin menuntut Ara untuk bisa mengimbangi dirinya.
"Engghh!" lenguh Ara ketika dengan sengaja Ryu menyesap di bagian leher.
Sementara Ara yang sedari tadi terus di serang oleh pria yang memang berhak akan dirinya. Sebisa mungkin gadis itu menjaga kesadarannya. Ara ingat betul jika lusa ada ujian. Tidak mungkin baginya untuk melayani suaminya sekarang ini. Terlebih lagi mereka belum memastikan perasaan mereka masing-masing. Apakah yang dirasa oleh mereka hanya sebuah hasr4t semata, atau memang rasa yang lebih spesial dari kasih sayang antara saudara.
__ADS_1
"Ka-kak ... tunggu dulu!" cegah Ara di saat Ryu memaksa dan Ara agar mendongak. Memberinya akses lebih untuk menikmati leher jenjang Ara. Memberi beberapa tanda di sana. Agar orang yang melihatnya besok tahu kalau gadis ini miliknya.
Ya. Segila itu Ryu pada Ara saat ini. Sampai-sampai otaknya yang cerdas itu tidak berfungsi secara normal. Hanya hasr4t yang begitu menggebulah yang ingin segera dipuaskan.
Puas di bagian leher, Ryu pun bergerak turun tanpa menjauhkan wajahnya dari tubuh Ara. Seolah aroma tubuh Ara bagai nikotin bagi Ryu. Ingin terus merasai dan menghisap nya. Lagi dan lagi tanpa ada rasa bosan sedikit pun.
Ara yang merasa aneh dan sedikit penasaran sebenarnya ketika Ryu mulai mengendusndi bagian dadanya. Gadis itu masih bisa berpikir secara normal, sehingga Ara menangkup kedua sisi wajah Ryu. Menghentikan tindakan Ryu yang menggila sedari tadi.
Meskipun sebenarnya di dalam dirinya ia merasa takut, namun Ara mencoba sekuat mungkin untuk menyadarkan Ryu. Dari pada ia sendiri yang akan rugi nantinya.
Sedangkan Ryu membalas tatapan Ara dengan tatapan sangat ingin.
"Jangan halangin aku, Yaang. Dia udah pingin banget," ujar Ryu lebih dulu seraya menekan pinggul Ara.
Sehingga istri nya itu bisa merasakan sesuatu yang sudah terlanjur bangun di bawah sana. Mana tanpa memakai pengaman dan rok yang Ara kenakan juga tersingkap ke atas. Sehingga paha mulus milik Ara pun terekspose begitu jelas.
__ADS_1
"Eh!" Ara tersentak kaget ketika merasakan sesuatu yang keras di bawahnya. Benar-benar sangat keras.
Ara bergerak gelisah, ingin turun dari pangkuan suaminya. Karena merasa kurang nyaman. Akan tetapi gadis itu tidak sadar, jika pergerakan dari pinggulnya itu semakin membuat Ryu tergoda. Sampai-sampai pria itu mendongak ke atas sembari mengeram. Menahan sesuatu yang ingin meledak secepatnya.
"Kamu sengaja bikin aku tersiksa kalau kayak gitu, Yaang," ujar Ryu dengan suara mengeram.
Ara yang tidak paham pun masih mencari tempat yang nyaman untuk dirinya. Ryu yang tidak tahan lantas meremas pinggul Ara dan membaringkan tubuh istrinya itu di atas tempat tidur yang sekarang ini mereka tempati. Tanpa Ara sadari, tangan Ryu yang begitu nakal menarik sesuatu dari balik rok yang tengah Ara kenakan dan melemparnya asal. Dengan gerakan cepat pria itu menyelimuti tubuh mereka dan memeluk Ara yang terbaring di sampingnya saat ini.
"Udah, tidur, Yaang. Udah malem!" ajak Ryu memeluk erat Ara dengan menghadap ke arah sang istri.
"Hah?"
Ara yang tidak paham dengan sikap Ryu pun merasa bingung dan juga merasa lega. Paling tidak ia selamat untuk malam ini. Meskipun harus berakhir tidur seranjang dengan Ryu.
"Mau dilanjut sekarang? Hmm?" tanya Ryu memhuk matanya kembali, menatap Ara yang masih belum memejamkan mata.
__ADS_1