
Bab. 65
Dengan bibir yang mengerucut, di mana Ara terlihat begitu lucu karena kedua sisi wajahnya yang tertekan oleh helm pun semakin menambah volume pada pipinya.
"Aku mau berangkat sendiri," jawab Ara dengan nada datar.
Gadis itu menghampiri Ryu dan meminta tasnya. Akan tetapi Ryu malah menjauhkan tas Ara dari pemiliknya.
"Di anter apa nggak aku ijinin sekolah sekolah sekalian," ucap Ryu memberi dua pilihan kepada Ara. Di mana pilihan itu tidak jauh dari kata sebuah ancaman.
"Kak! Udah deh, jangan bercanda lagi. Nggak lucu! Aku mau belajar di sekolah loh, Kak. Lusa udah harus ujian," ujar Ara menekan emosinya agar tidak meluap. Sebab, jika sampai meluap sekarang yang ada seharian ini moodnya akan benar-benar buruk.
"Belajarnya sama aku aja," balas Ryu yang kemudian mengeluarkan motor matic milik Ara seraya memakai ransel istrinya itu dengan posisi di depan dadanya. "Naik!" perintahnya.
"Nggak mau!" balas Ara yang begitu keras kepala.
"Naik atau aku hamilin sekarang? Hmm? Biar nggak lulus sekalian sekolahnya? Mau?" Ryu menoleh ke arah Ara dengan tatapan begitu serius. Membuat gadis itu terdiam dan sepertinya takut dengan ancaman Ryu barusan.
__ADS_1
"Udah!" teriak Ara yang sudah duduk di bagian belakang motornya. Tentu memberi spasi di antara mereka.
Ryu tersenyum tipis melihat Ara uang marah-marah seperti ini.
"Mana ada seorang Kakak mau hamilin adiknya sendiri. Nggak pantes banget," gerutu Ara yang kini memegang ujung baju Ryu.
"Udah aku bilang berapa kali. Kamu bukan adikku. Kamu itu istriku. Kalau nggak—"
"Nggak ada bukti! Lagian aku udah nikah!" sela Ara cepat.
Ara langsung memukul punggung pria mesum yang ada di depannya. Entah mengapa otak Ara langsung konek ke arah anu.
Ryu terkekeh. "Ciee ... udah bisa baca pikiranku sekarang. Udah siap dong dilecetin?" goda Ryu seraya menoleh ke belakang, namun dengan segera dihalangi oleh Ara.
"Hadap depan! Kalau nggak, aku naik bus aja."
"Nggak boleh. Ntar banyak Bapak-bapak yang godain kamu. Bisa turun dong harga diri suamimu ini. Masa cakep begini saingan nya bapak-bapak." cegah Ryu seraya melajukan motor menuju jalan depan rumahnya.
__ADS_1
Ara mendelik mendengar perkataan Ryu barusan. Tidak bisa menahan tangannya lagi, gadis itu pun memberi cubitan yang begitu kuat di pinggang Ryu.
"Astaga ... ini muluuuuuttt! Kenapa lemes banget sih! Lagian kenapa musti bapak-bapak juga! Asal Kak Ryu tau ya, yang naksir aku tuh di sekolah banyak. Cowok tajir semua. Ganteng semua. Kamu mah nggak ada a—"
"Tapi nggak ada yang CEO kayak aku," sahut Ryu cepat. Tidak terprovokasi sedikit pun meskipun memang kenyataannya seperti itu. Sebab Ryu tahu seperti apa Ara di sekolah. "Lagian tetep aku yang milikin kamu. Mereka cuma bisa natap doang."
"Ck! Siapa juga yang mau dimilikin. Orang setelah lulus aku mau minta cerai," celetuk Ara. Membuat Ryu mengerem mendadak.
"Ke hotelnya sekarang aja a?" tanya Ryu ketika pria itu menghentikan motornya di tepi jalan dan menatap Ara dengan raut sangat serius.
Ara pun langsung menggelengkan kepalanya cepat. Tentu ia tidak mau dibuka sekarang. Yang ada nanti ia tidak fokus pada soal ujian dan jelas katanya kalau orang habis melakukan itu, apa lagi dengan cara dipaksa, akan membuat tubuh sakit semua dan berujung nggak bisa bangun.
Ara tidak kaget lagi dengan candaan Ryu yang mengatakan kalau pria yang sebenarnya adalah kakak angkatnya tersebut ternyata juga suaminya. Rumit memang. Namun, itulah yang Ara dapat dari jawaban papa Rio. Di mana Ara pada malam ketika mama Yuan berteriak marah kepada Ryu, Ara mendatangi ruang papa Rio ketika tanpa sengaja Ara terbangun tengah malam dan melihat ruang kerja papa Rio terbuka dengan lampu menyala.
"Enggak. Lanjut aja ke cafe dekat sekolah. Katanya mau ngajarin aku bentar. Hmm?" balas Ara seraya mengedipkan matanya beberapa kali. Memasang ekspresi memohon kepada Ryu.
Ryu mengangkat alisnya. "Udah sadar sekarang?" tanya Ryu mengenai status di antara mereka dan melihat anggukan dari Ara. "Nggak terkejut?"
__ADS_1