Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Siap Menampung


__ADS_3

Bab. 53


Saat itu Ryu tengah bersiap untuk berangkat ke kantor bersama papanya. Dari pada di rumah terus dan nanti malah mendapat wejangan dari sang mama, Ryu lebih memilih mempelajari sistem perusahaan yang saat ini masih dikelola oleh papanya sendiri. Sebagian juga perusahaan Atmadja Group.


Di mana perusahaan itu milik neneknya yang seharusnya dikelola oleh tante Zuma. Namun lagi-lagi wanita itu melimpahkan semuanya ke dua saudara laki-lakinya dan malah berimbas pada Ryu dan Hiro sekarang. Karena mereka lah yang akan mengurusnya.


"Kamu angkat dulu. Siapa tau penting," ucap papa Rio ketika mereka akan berangkat dengan Ryu yang akan mengemudikan mobilnya.


Jarang-jarang sekali papa Rio mendapat sopir tampan dan muda. Tentunya sangat multifungsi sekali.


Ryu yang dari tadi mengabaikan panggilan di ponselnya, akhirnya pria itu memilih untuk menerima panggilan tersebut. Mengurungkan niatannya menghidupi mesin mobil yang saat ini mereka tumpangi.


Ryu mengerutkan alisnya di kala melihat ada sebuah nomor yang tidak tersimpan di ponselnya. Karena sudah berulang kali memanggil ke nomornya, Ryu pun menggeser tombol warna hijau di ponselnya.


"Ya, siapa?" tanya Ryu langsung tanpa berbasa basi terlebih dulu.


"Saya wakil kepala sekolah Mahardika, Tuan Muda Pertama," ucap orang yang berada di seberang sana. Membuat Ryu mengangkat alisnya karena orang itu mengetahui dirinya.

__ADS_1


"Hmm," balas Ryu memang begitu dingin jika pada orang lain.


"Saya cuma mau memberitahu, kalau Pak Hiro sedang menuju ke Rumah sakit CitraHusada. Anda disuruh untuk segera ke sana," ucap pak Lukman pada Ryu.


Ryu sedikit kaget. Pasalnya kemarin mereka berdua masih bertemu. Bahkan Hiro sempat bermain di apartemennya ketika Ryu memutuskan untuk berkemas.


"Baik, terimakasih," balas Ryu tanpa tahu siapa sebenarnya yang sakit.


Papa Rio yang duduk di samping Ryu pun bertanya kepada putranya tersebut.


"Siapa yang sakit, Ryu?" tanya papa Rio juga sedikit penasaran dengan siapa Ryu mengobrol barusan. Karena dari tampangnya saja Ryu tampak seolah khawatir.


Papa Rio kemudian menghubungi asistennya untuk melihat jadwalnya hari ini. Jika tidak ada pertemuan yang sangat penting, papa Rio menyuruh asistennya untuk memundurkan jadwalnya. Karena pria paruh baya tersebut juga khawatir dengan keadaan keponakannya.


Hingga selang beberapa menit, mobil yang dikemudikan oleh Ryu pun sampai di rumah sakit yang tidak jauh dari kantor papanya.


"Lo ada di mana?" tanya Ryu di kala ia menghubungi nomor Hiro. Anehnya, pria itu langsung menjawab panggilan teleponnya. Padahal seharusnya dia sedang kenapa napa kalau memang berada di rumah sakit ini. "Oke. Gue ke sana sekarang," ujar Ryu yang kemudian mematikan sambungan teleponnya dengan Hiro.

__ADS_1


Papa Rio mengikuti langkah Ryu yang langsung menuju ke ruang UGD. Dia pun melihat keberadaan Hiro yang berdiri di depan pintu ruang UGD. Sedikit kaget, kenapa dia malah berada di luar.


"Loh, terus siapa yang sakit, Ro?" tanya papa Rio yang juga ikut bingung dengan situasi ini.


Hiro menoleh ke asal sumber suara yang memanggil dirinya.


"Emang bukan gue yang sakit," ujar pria itu dengan raut sedikit gusar. "Magh istri lo itu yang kambuh. Nggak lo beri makan tadi pagi?" lanjut Hiro cukup mengejutkan Ryu dan papa Rio.


"Ara?" tanya Ryu memastikan.


Hiro berdecak.


"Memangnya lo punya istri lagi selain dia?" sindir Hiro menatap malas melihat sikap Ryu yang tidak bisa sat set. "Punya istri bukannya diperhatiin, ini malah dikibulin mulu." lanjut Hiro yang mulai keluar kalimat pedasnya.


Ryu tidak membalas ucapan Hiro. Pria itu melangkah mendekat ke arah pintu ruang UGD. Sedangkan papa Rio langsung menghubungi istrinya agar segera datang ke rumah sakit.


"Kalau emang lo nggak bisa jaga, biar gue aja," imbuh Hiro lagi yang langsung mendapat lirikan tajam dari Ryu.

__ADS_1


"Jangan mimpi lo!" sahut pria yang berdiri di depan pintu ruang UGD.


__ADS_2