
Bab. 45
Selang beberapa menit, Ara melangkah mendekat ke arah Ryu yang tengah memainkan ponselnya.
Jarum jam sudah menunjuk ke angka sepuluh. Sudah kelas kedua orang tua mereka sudah terlelap dalam tidur mereka. Sehingga Ara tidak meminta ijin kepada mama Yuan, toh dirinya keluar bersama Ryu. Kakaknya sendiri. Pikir Ara. Padahal tidak tahu saja gadis itu apa yang ditakutkan oleh mama Yuan ialah putranya sendiri. Takut jika Ryu tidak bisa bertahan.
"Udah," ujar Ara yang berdiri di samping Ryu. Membuat pria yang tengah asik melihat sesuatu di ponselnya tersebut pun menoleh ke arah Ara.
Entah sudah berapa kali Ryu dibuat membeku di tempatnya oleh gadis ini. Baik dari sikapnya maupun dari penampilan Ara yang selalu berhasil menarik Ryu hingga terjatuh ke alam khayalan tingkat tinggi pria itu sendiri.
"Kak Ryu," panggil Ara ketika Ryu hanya terbengong menatapi dirinya.
Merasa aneh, Ara pun melihat penampilannya lagi. Perasaan dirinya tidak ada yang aneh. Kaos longgar yang dipadukan Dengan celana pendek tidak sampai lutut, hingga Ara lebih terlihat sepeti tidak memakai bawahan.
__ADS_1
"Ganti!" perintah Ryu dengan nada pelan namun penuh penekanan.
Ara menggeleng cepat. "Nggak. Kelamaan kalau ganti lagi, Kak. Belum nanti nungguin abangnya goreng lele. Aku udah nggak kuat," balas Ara seraya memasang wajah sedih. Serta mengerjapkan mata pelan.
Beruntung ia dibesarkan oleh mama Yuan. Di mana Ara sering kali melihat mama Yuan memakai jurus ini jika sedang merayu papa Rio. Kalau-kalau ada sesuatu yang tidak disetujui oleh papanya tersebut. Memang wanita itu penuh dengan drama.
Ryu menghembuskan napasnya secara kasar. Siapa pula yang mengajari gadis ini bersikap begitu manis serta genit. Sungguh sangat-sangat membahayakan dirinya.
Tidak mau berdebat dan membuat Ara semakin menahan lapar, Ryu pun kemudian melangkah menuju ke garasi rumahnya. Di mana ia menyimpan motornya di sana.
"Nggak mau?" Ryu mengangkat sebelah alisnya.
"No no no. Kak Ryu nggak liat aku makai baju gimana?" tolak Ara. "Naik mobil aja, Kak. Lagian ini udah malem banget. Kalau naik motor, bisa-bisa aku masuk angin nanti. Ya?" pinta Ara kemudian.
__ADS_1
Mengapa ia mengenakan baju seperti ini, karena Ara pikir Ryu akan membawa mobil. Sebab malam juga semakin larut dan yang paling aman memang membawa mobil.
Lagi dan lagi Ryu hanya bisa menghela napas. Belum apa-apa juga ia langsung kena pembalasan dari gadis ini sendiri. Mau tidak mau pun Ryu mengembalikan kunci motor dan menggantinya dengan kunci mobil yang berada di barisan paling belakang. Agar lebih mudah mengeluarkannya. Sebab Ryu tidak membangunkan sopir di rumahnya.
"Nah, kalau begini kan nggak perlu amal terlalu sering, Kak," celetuk Ara ketika mereka sudah berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Ryu.
"Ck! Amal apaan. Orang kamu nggak bawa apa-apa," sahut Ryu seraya melirik kesal ke arah gadis yabg duduk di sampingnya.
Baru juga mereka baikan belum ada satu jam. Namun gadis itu sudah berhasil membuatnya menuruti keinginannya.
"Kalau nggak nyaman, kenapa juga makai celana terlalu pendek," ujar Ryu.
Untung saja tadi dirinya membawa jaket, sehingga jaket itu saat ini sungguh sangat berguna sekali. Meskipun sudah beralih fungsi. Di mana Ryu menaruh jaketnya untuk menutupi kaki Ara agar tidak terekspos terlalu banyak lagi.
__ADS_1
Karena berada di dalam mobil berdua saja dengan gadis itu, sungguh merupakan ujian terberat bagi Ryu. Di tambah lagi kaos yang Ara kenakan memiliki belahan yang cukup rendah. Sampai-sampai memperlihatkan garis indah di balik baju tersebut. Tidak jarang membuat matanya melirik ke arah garis samar itu.
"Biar nanti nggak gonta ganti lagi. Males," jawab Ara begitu enteng. Karena ia begitu malu kalau sampai nanti malam ia terbangun dan mengambil minuman dengan baju tidurnya yang tadi.