
Bab. 75
Tidak ada percakapan sama sekali saat menuju rumah. Ara sampai heran, apa yang membuat pria di sampingnya itu kembali dingin dan datar kepada dirinya. Padahal tadi banyak sekali topik yang Ryu bahas dengannya.
Tiba-tiba saja mobil berhenti di apotek yang berada tidak jauh dari rumah mereka. Membuat Ara menoleh ke arah Ryu dan ingin bertanya. Namun, pria itu sudah lebih dulu keluar dan masuk ke apotek tersebut.
"Dia sakit, ya?" gumam Ara.
Karena sedari tadi ia melihat Ryu dalam keadaan baik-baik saja. Tidak memperlihatkan gejala jika pria itu sedang sakit. Ara semakin dibuat bingung dengan sikap Ryu malam ini.
Hingga pria itu masuk kembali ke dalam mobil, namun tidak membawa apa-apa di tangannya. Hanya saja ada yang sedikit berbeda di saku jaket yang Ryu kenakan.
"Kak Ryu sakit?" tanya Ara dengan raut khawatir.
Ryu menoleh sekilas. Lalu pria itu menggelengkan kepala. "Enggak," jawabnya super singkat.
"Ck! Nyesel gue tanya. Balik lagi mode kayunya," gumam Ara seraya memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Meskipun mendengar celotehan Ara, namun Ryu memilih diam. Menetralkan emosinya terlebih dulu, merupakan hal utama yang Ryu lakukan saat ini. Karena Ryu tidak ingin jika nanti dirinya dikuasai oleh amarah dan malah akan membuat Ara terluka.
Mereka pun kembali diam saat mobil melaju dengan kecepatan sedang. Karena sudah memasuki perumahan yang mereka tempati.
__ADS_1
Sesampainya di rumah pun Ryu tetap mengunci mulutnya meskipun sikap pria itu masih sama. Membukakan pintu yang ada di samping Ara dan menaruh tangannya di atas kepala istrinya itu. Lalu berjalan lebuh dulu di depan Ara menuju pintu utama rumah tersebut.
Ara merasa heran. Ada apa sebenarnya dengan Ryu. Kenapa perubahannya secepat kilat. Perasaan ia tidak menyinggung atau berdebat dengan Ryu tadi. Kecuali ketika Ara merasa sangat kesal hingga berakhir menggigit dada Ryu.
"Apa jangan-jangan luka ya tadi?" gumam Ara. Sekejap gadis itu merasa bersalah karena sudah menggigit dada Ryu dengan begitu kuat tadi.
Kemudian Ara masuk ke dalam rumah dan ia sudah tidak mendapati Ryu di sana.
"Cepet banget ngilang nya. Kayak kunti aja," ujar Ara lirih.
Tidak mau memikirkan perubahan sikap Ryu, Ara naik ke lantai dua dan menuju ke kamarnya. Bergegas membersihkan diri dan lanjut tidur. Dia akan puas-puaskan tidur hingga bangun siang besok. Sebelum benar-benar menghadapi pertempuran yang akan menentukan dirinya mendapat nilai paling tinggi atau tidak. Sebab itu juga yang akan menentukan kelanjutan sekolah dari sahabatnya.
Namun, niatnya yang ingin langsung pergi tidur pun Ara urungkan. Karena gadis itu kepikiran mengenai luka yang ada di dada Ryu.
Menebak nebak sendiri pun juga percuma. Karena tidak akan menemukan jawaban yang pas jika tidak bertanya secara langsung kepada orangnya sendiri.
Oleh sebab itu, setelah memakai cream malam dan segala sesuatunya untuk perawatan tubuhnya, Ara yang teledor karena memakai baju tidur seperti biasa yang gadis itu pakai pun melangkah keluar dari kamarnya dengan membawa salep pereda nyeri. Siapa tahu barang itu nanti di butuhkan untuk mengobati luka akibat gigitan nya tadi.
Gadis yang mengenakan baju tidur dengan terusan di atas lutut dsn juga seutas tali yang menyampir di kedua bahunya, juga belahan dada yang cukup rendah dan juga rambut yang dicepol ke atas pun melangkah menuju kamarnya Ryu.
Sesampianya di depan kamar Ryu, Ara mengetuk pintu kamar pria itu.
__ADS_1
Tok tok!
"Kak! Udah tidur?" tanya Ara di depan pintu. Namun, tidak mendapat sahutan dari dalam.
Ara kembali mengetuk pintu kamar Ryu dan tetap. Masih sama. Tidak mendapat sahutan dari pemilik kamar itu. Hingga kemudian Ara memutuskan untuk mencoba membuka pintu kamar itu. Ternyata tidak dikunci.
Namun, ketika ingin mendorongnya ke dalam, ia dikejutkan dengan sosok yang berada di balik pintu. Pria itu bertelanjang dada dengan handuk yang melilit di pinggang. Ara terkejut hingga gadis itu memutar tubuhnya. Membelakangi Ryu yang saat ini berada di ambang pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Ryu terdengar begitu dingin.
Ara menjulurkan tangannya ke arah Ryu dan menyerahkan salep yang dia bawa tadi. Tentu, posisinya tetap membelakangi Ryu.
"Aku cuma mau kasih ini buat obatin lukanya Kak Ryu," ujar Ara tanpa menatap ke arah Ryu.
Pria itu tidak mengenakan baju dan hanya berlilitkan handuk di pinggang. Sehingga membuat Ara tidak berani menatapnya.
Ryu menatap tangan Ara yang mengarahkan sebuah salep ke arahnya. Lalu menatap ke arah gadis itu yang menutupi matanya. Bibirnya tertarik ke atas. Membentuk sebuah senyuman yang begitu licik.
'Emang, kalau udah rejeki nggak akan kemana.' batin Ryu. Lebih lagi memindai penampilan Ara dari atas hingga bawah. Benar-benar sudah sangat mendukung sekali untuk membangunkan apa yang memang ingin ia bangunkan malam ini.
"Kak! Buruan! Pegel ini tanganku kayak gini terus!" protes Ara yang tidak merasa jika Ryu mengambil salep itu dari tangannya. Sampai-sampai tangannya terasa pegal.
__ADS_1
Ryu tersenyum penuh arti. Kemudian tangannya terulur. Bukan hanya salep saja yang Ryu raih. Melainkan tangan Ara sampai gadis itu menjerit dan berbalik ke arahnya.
Tentu saja Ryu tidak membuang kesempatan dan juga rejeki yang datang kepadanya. Tanpa ia susah payah membuat alasan untuk datang ke kamar Ara. Ryu menarik pinggang Ara dan membawanya masuk ke dalam. Tidak lupa Ryu juga mengunci pintu kamarnya. Karena tidak ingin diganggu malam ini. Ia benar-benar akan membangunkan apa yang memang ingin bangun dan akan membuatnya bekerja semalaman.