
Bab. 66
Ara menggelengkan kepala. "Terkejutnya udah dari awal. Jadi sekarang tinggal sisanya aja dikit," balas Ara dengan wajah polosnya.
Karena memang apa yang ia katakan barusan. Ia terkejut di awal, di waktu papa Rio menceritakan cerita yang sebenarnya dan siapa suaminya. Juga pria paruh baya itu memberi banyak sekali wejangan kepada Ara. Intinya, percuma saja semua di sesali. Karena memang beginilah takdir di antara Ara dan Ryu.
"Masih mau cerai?" tanya Ryu yang langsung mendapat anggukan kepala dari Ara.
Petak!
Ryu menyentil kening istrinya itu dengan tenaga yang berkurang. Lebih lembut dari biasanya. Meskipun tetap terasa sakit di kening Ara. Sampai-sampai membuat bibir gadis itu menciut.
'Ah ... jadi pingin belok ke hotel beneran.' batin Ryu yang memang memiliki imin lebih tipis dari tisu.
"Jangan harap!" tegas Ryu membuat Ara menatapnya penuh mohon.
__ADS_1
"Tapi aku masih muda banget," rengek gadis itu. Berharap Ryu mau menyudahi hubungan mereka. Atau bahkan sebenarnya Ara tidak memahami apa yang sedang dia lakukan sekarang ini. "Aku nggak mau punya anak. Aku masih kecil, Kak."
"Hah?" Ryu tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ara sekarang ini. Sampai-sampai pria itu turun dari motor dan berdiri menatap ke arah Ara.
Ara pun ikut berdiri namun di cegah oleh Ryu. Pria itu menahan keseimbangan motor agar Ara tidak jatuh.
"Kan Mama, Tante Sila dan Tante Zuma, mereka langsung punya anak setelah nikah. Nah, aku nggak mau kayak gitu. Jadi kita cerai aja dulu, Kak. Baru nanti kalau aku udah agak dewasaan dikit dan udah siap punya anak, baru nikah lagi. Gimana?" usul Ara dengan wajah polosnya.
Entah, dari mana pemikiran gadis di hadapannya ini berasal. Sampai-sampai membuat Ryu ingin sekali menyeburkan diri ke dasar danau. Sayangnya danau buatan yang ada di kota ini masih jauh letaknya dari posisi mereka sekarang.
"Hmm?" balas Ara mendongakkan kepala ke arah Ryu yang berdiri di depannya. Sedangkan dirinya masih duduk di jok belakang bagian motornya.
Sementara itu Ryu mengangkat tangannya dan menaruhnya di bahu Ara. Mencoba untuk membuat dirinya tenang meskipun ingin sekali ia salto sekarang juga setelah mendengar usulan Ara barusan.
"Kamu sadar nggak, dengan apa yang kamu ucapkan barusan?" tanya Ryu dengan rahang menegas. Karena tengah menahan emosi agar tidak meledak saat ini juga.
__ADS_1
Ara mengangguk. "Sudah aku pikirkan mateng-mateng setelah Papa kasih tau aku kebenarannya dan Papa setuju kok dengan usulanku barusan," balas Ara.
Di mana jawaban itu langsung membuat Ryu mengepalkan tangannya di samping bahu Ara. Serta mengeratkan rahangnya. Ingin sekali mengajak papanya duel sekarang juga.
"Apa kata Papa?" tanya Ryu yang ingin tahu tanggapan papanya. Meskipun emosinya sudah mencapai puncak saat ini.
"Langsung katakan saja apa yang membuatku keberatan pada Kak Ryu. Udah aku sampaikan barusan, kan?" ujar Ara. Lalu tiba-tiba saja mata gadis itu memicing ke arah Ryu, membuat pria yang ada di hadapannya mengerutkan kening.
"Kenapa?" tanya Ryu penuh dengan rasa was-was. Karena ia takut kalau sampai gadis SMA di hadapannya ini mempunyai rencana di luar nalarnya.
"Jangan bilang kalau Kak Ryu mau punya anak langsung?" tebak Ara dengan picingan mata begitu tajam.
Ryu terbatuk. Bukan. Lebih tepatnya pria itu tersedak oleh salivanya sendiri.
'Bukan pingin punya anak langsung. Tapi cuma pingin muasin si Jun yang selama ini musti puasa. Padahal ada hidangan halal buat dia di sini.' jelas Ryu di dalam hatinya. Tidak berani berkata jujur seperti ini, karena yang ada nanti Ara malah kabur darinya.
__ADS_1