Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Kecurigaan Ara


__ADS_3

Bab. 69


"Loh, kamu mau kemana, Sayang?" tanya mama Yuan ketika melihat Ara menuruni anakan tangga dan menuju ke ruang tengah. Di mana mereka duduk santai di sana. Juga ada Ryu tentunya.


Ryu mengalihkan tatapan matanya ke arah Ara. Pria itu diam tanpa kata. Menelisik penampilan gadis yang mengenakan jeans panjang dan juga dipadukan dengan kaos. Sesuai perintah Ryu tadi. Namun bukan dengan ukuran yang longgar, melainkan ukuran yang begitu pas di tubuh Ara. Benar-benar sangat pas. Sampai-sampai memperlihatkan lekuk indah tubuh istri nya itu.


"Nggak tau tuh, Ma. Kak Ryu yang ngajak," jawab Ara.


Mama Yuan menatap ke arah Ryu. "Mau kemana Ryu? Bukannya Ara sibuk belajar? Kan mau ujian lusa," tanya mama Yuan.


Ryu mengabaikan pertanyaan mamanya. Pria itu beranjak dari tempatnya lalu melangkah menuju ke arah Ara yang berdiri di dekat mama Yuan.


Sesampainya di depan Ara, Ryu menatapi penampilan Ara dari atas hingga bawah. Membuat mama Yuan dan papa Rio mengenyit heran dengan apa yang sedang Ryu lakukan.


"Ganti bajunya, nggak?" ujar Ryu.


Ara menggelengkan kepala sebagai jawaban. Bahkan gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Membuat Ryu merapatkan rahangnya.


"Ganti atau nggak jadi keluar," tawar Ryu. Seperti biasa, pria setengah mateng itu menatap serius ke arah Ara.


Sedangkan Ara terlihat begitu tenang. Sama sekali tidak terprovokasi oleh tatapan Ryu saat ini.


Papa Rio menarik tangan istrinya agar istrinya itu duduk di sampingnya. Membiarkan pasangan suami istri yang masih seumur jagung tersebut menyelesaikan masalah mereka tanpa para orang tua ikut campur.


"Ya udah kalau nggak jadi. Aku keluar sendiri aja. Nanggung. Udah ganti baju juga," sahut Ara seraya melangkah keluar. Mengabaikan panggilan Ryu.

__ADS_1


Bibir gadis itu tertarik ke atas di saat biaa mmebalaskan sikap Ryu yang semena mena kepada dirinya.


"Memangnya kamu aja yang bisa nindas aku. Ck! Kita liat aja. Seberapa kuat nya dirimu menghadapi ku, suamiku," lirih Ara seraya terkekeh membayangkan wajah Ryu yabg kesal tadi.


Sementara itu Ryu menatap ke arah kedua orang tuanya. Ingin menanyakan sikap Ara yang pembangkang seperti ini. Namun dengan kompak kedua orang tuanya itu pergi meninggalkan Ryu sendiri. Seolah mereka tidak mau ikut cpur lagi. Menyerahkan permasalahan Ara kepada yang lebih berhak.


"Haish! Kalian sama saja," kesal Ryu yang kemudian berlari ke arah keluar. Mengejar istri kecilnya yang nakal.


"Yaang ... tungguin!" teriak Ryu ketika Ara akan membuka pagar rumah. Pria itu segera berlari ke arahnya.


Sementara Ara tertawa menang di dalam hati. Padahal ia tidak benar-benar berniat untuk keluar sendiri. Ara ingin meminta bantuan pak Sul yang jaga di pos depan dan menyuruh pria paruh baya itu untuk membelikan camilan serta es campur. Karena kebanyakan berteriak, membuat tenggorokan Ara kering dan membayangkan warna warninya es campur membuat Ara menginginkannya malam itu.


Akan tetapi gadis itu berpura-pura datar ketika Ryu sudah sampai di depan nya. Membalikkan badan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan Ara tidak menatap ke arah Ryu.


Ryu menyadari Ara tengah ngambek kepadanya, lantas pria itu pun mengalah. Mengesampingkan egonya demi hubungannya dengan gadis kecil di hadapannya saat ini tetap baik-baik saja. Lebih lagi kalau sampai Ara mengunci mulutnya rapat-rapat. Ryu khawatir kalau sampai istri nya itu akan mencari kenyamanan di luar.


Ara masih denga sikap dinginnya. Gadis itu tidak menjawab, hanya mengikuti saja langkah Ryu yang kembali menuju mobil pria itu.


Di dalam mobil pun Ara tetap mengunci mulutnya. Tidak seberisik seperti biasa. Sekarang ini hanya menjawab pertanyaan Ryu tanpa menanggapi apa yang Ryu ucapkan.


"Masih marah?" tanya Ryu lagi karena Ara diam saja.


"Enggak," jawabnya singkat dengan pandangan mengarah ke arah luar jendela.


Ryu menghembuskan napas kasar. Pria itu tidak tahu lagi harus bagaimana agar Ara bisa bersikap kembali seperti biasanya.

__ADS_1


Lama-lama Ryu bisa stres sendiri jika harus dihadapkan dengan sifat istrinya yang cueknya kelewat, bahkan tidak pandang bulu jika sedang marah seperti ini.


"Iya iya ... besok-besok Mas nggak akan larang-larang kamu, asal kamu perginya sama Mas. Kalau sendiri atau sama temen kamu, kamu tetep gunain baju yang longgar, Yaang," putus Ryu.


Tidak enak juga dicueki sama orang yang sebenarnya suka berisik seperti Ara. Ternyata orang ceria seperti itu marahnya lebih seram.


"Mas?" ulang Ara. Sedikit aneh mendengar Ryu menyebutkan dirinya sendiri dengan sebutan Mas.


"Kenapa? Mau manggil Sayang? Honey? Atau mungkin malah suamiku?' tawar Ryu dengan wajah yang begitu menyebalkan.


"Dari semua panggilan yang Kak Ryu pilihkan, masih cocokan panggilan seperti biasa," ujar Ara.


Gadis itu sama sekali tidak peduli harus memanggil Ryu dengan sebutan apa. Yang jelas bukan seperti yang barusan Ryu pilihkan. Kepala Ara tiba-tiba saja mual mendengarnya.


Ryu mengangkat sebelah alisnya. "Kakak?" tanya Ryu memastikan. Dan ternyata benar sesuai tebakan nya.


"Yup!"


"Nggak mau! Harus dirubah!" tolak Ryu. "Aku suamimu. Bukan kakakmu lagi, Yaang!" tekan Ryu memberitahukan statusnya pada Ara.


"Aku tau!" sahut Ara seraya mengangguk.


"Terus kenapa nggak diganti cara manggilnya? Biar semua orang itu tau, kalau aku milikmu. Bukan miliknya," protes Ryu yang masih tidak terima jika Ara tetap memanggil dirinya dengan sebutan kakak.


"Nya?" ulang Ara yang spontan menoleh ke arah Ryu dan menatapnya begitu dalam serta begitu tajam. "Nya siapa? Hmm? Kamu punya 'nya' yang lain?" cecar.Ara dengan tatapan begitu mengerikan. Membuat Ryu membeku ditempat.

__ADS_1


'Udah tau dia sedang ngambek, lo malah ceroboh banget sih, Ryu!' rutuk Ryu di dalam hati.


__ADS_2