
Bab. 55
Papa Rio dan mama Yuan saling memandang. Mereka memang tidak berhak ikut campur dalam.urusan rumah tangga Ryu dan Ara. Hanya saja mama Yuan seolah tidak rela jika melepas Ara begitu saja. Gadis yang selalu menemani dirinya ke manapun itu. Bahkan mama Yuan menjadikan Ara sebagai sahabatnya. Karena memang mama Yuan jarang sekali bisa berkumpul dengan para sahabatnya. Sebab kesibukan mereka masing-masing.
Ketika akan mengangkat suara, papa Rio menyentuh lengannya dengan gerakan lembut. Lalu menggeleng samar ke arah mamanya.
"Biarkan semua keputusan kita serahkan ke Ryu, Sayang. Karena Ryu yang paking berhak di sini sekarang," ingat papa Rio.
Benar apa yang dikatakan oleh suaminya. Ryu adalah orang yang paling berhak bagi Ara.
"Jangan buat dia katak gini lagi, Ryu. Wanita itu sulit. Kalau kamu beginiin terus, ya kamu siap-siap aja kehilangan Ara. Ntar Mama sendiri yang bantu Ara kabur dari kamu," ucap mama Yuan sedikit mengancam. "Sama satu lagi. Kalaupun nanti Ara bisa nerima kamu sebagai suaminya, jangan di ahemin dulu. Paling nggak sampai dia lulus. Saling kenal aja dulu, kayak pacaran versi halal. Biar dia nggak kayak Mama. Nggak punya pengalaman pacaran sama sekali," sindir mama Yuan yang melirik ke arah suaminya. Mau menyesal dan kesal pun juga percuma. Karena sudah ada hasil dari kekesalannya itu.
Sementara itu papa Rio yang disindir seperti itu pun hanya bisa menghela napas pasrah. Mau di gimanain lagi. Orang sudah terlanjur keenakan. Batin papa Rio. Selalu pasrah jika disalahkan oleh istrinya seperti ini. Padahal.wanita yang berdiri di sampingnya ini juga sangat menikmati kegiatan berkeringat mereka di atas ranjang.
__ADS_1
Bahkan sampai sekarang pun mereka selalu rutin. Pagi sebelum keluar kamar, lalu siang hari ketika jam makan siang, dan juga malam sebelum tidur. Semua itu papa Rio lakukan demi menjaga kebugaran tubuhnya. Meskipun tidak jarang harus ada drama paksaan terlebih dulu.
"Iya, Ma. Ryu juga nggak cepet-cepet ajak Ara keluar dari rumah kok. Palingan nanti setelah dia selesai ujian. Karena Ryu mau nempati kediaman Atmadja. Biar Oma merasa tenang," sahut Ryu.
Dalam waktu singkat ia memutuskan segalanya dan memikirkan ke depannya mau bagaimana bersama Ara. Bahkan sudah memikirkan akan tinggal di mana.
Mama Yuan memicingkan matanya. Mengendus sesuatu yang tidak dia sukai. "Kamu mau buat Ara cepet-cepet hamil? Kok mau pisah sama kita? Hmm?" cecar mama Yuan langsung.
Mengatasi masalah perasaannya aja belum benar-benar clear. Ini malah dituduh seperti itu. Jelas Ryu sangat gemas sekali dengan cara berpikir mamanya.
"Awas kalau kamu ahemin Ara sebelum lulus, Mama potong itu burungmu!" ancam mama Yuan kemudian.
"Astaga, Ma ....!" gemas Ryu yang langsung mendapat pelototan dari papanya karena sudah berani menaikkan nada di hadapan mama Yuan.
__ADS_1
"Ck! Emang bener keputusan gue. Mending segera gue bujuk aja ini anak agar mau keluar dari rumah kalian," gumam Ryu yang kesal sendiri dengan sikap kedua orang tuanya. "Gue yang anak kandung, berasa jadi anak buangan kalau kayak gini." lanjut Ryu lagi.
Kemudian pria itu memilih keluar untuk membeli sesuatu. Membiarkan Ara yang masih terlelap bersama kedua orang tuanya di sana.
Mama Yuan terkekeh melihat Ryu yang uring-uringan seperti itu.
"Kasihan dia kalau nggak keburu nge-charge, Yaang," ujar papa Rio yang sangat tahu perasaan dan juga rasa yang di alami oleh Ryu saat ini. Karena mereka sesama pria, sehingga lebih bisa saling memahami.
Mama Yuan menoleh dengan lirikan tajam. Lalu memukul lengan suaminya.
"Aku cuma nggak mau masa muda Ara sama kayak aku, Mas. Biarkan dia bebas sedikit, meskipun memiliki tugas sebagai seorang istri. Tapi kalau bisa jangan hamil dulu. Biarkan dia mengenali sedikit kebebasan. Enggak langsung riweh sama urusan bayi. Teman-temannya pada nongkrong di cafe, eh, malah sibuk ngurusin bayi. Bisa bikin stres loh, Mas. Apa lagi usia segitu masih labil banget. Kamu nya aja yang nggak peka!" semprot mama Yuan. Kesal sendiri jika mengingat kelakuan suaminya.
Sedangkan papa Rio mengunci mulutnya rapat-rapat. Karena kalau dia balas pun tetap saja, dirinyalah yang salah di mata wanita yang selalu merasa benar.
__ADS_1