
Bab. 82
Seharian ini Ara menghabiskan waktu di dalam kamar milik Ryu. Melakukan segala aktifitasnya di kamar. Karena cukup malu dan juga kakinya terasa tidak begitu nyaman jika dipakai jalan. Terlebih lagi terlihat sangat aneh hingga membuat Ara memutuskan untuk di dalam kamar saja. Tentu, ditemani suaminya yang sangat menyebalkan.
"Sanaan, ih!" Ara mendorong kepala Ryu yang tengah ditempelkan di atas pangkuannya.
Namun, pria itu seolah mengabaikan ucapan Ara dan tetap dalam posisinya.
"Bentaran doang, Yaang. Mumpung aku sedang libur. Besok-besok udah nggak bisa kayak gini lagi," bujuk Ryu yang sudah jelas hanya sebuah ucapan palsu belaka. Karena tidak mungkin pria mesum itu tidak memgulangnya lagi.
Ara merengut. "Ck! Palsu banget ucapan kamu, Kak!" balas Ara.
Ryu tertawa melihat kekesalan istrinya. Pria itu justru semakin membenakan posisinya hingga terasa nyaman bagi dirinya.
"Masih sakit memangnya, Yaang?" tanya Ryu mengenai apa yang sudah ia lukai. "Nggak mau keluar? Dari semalem kamu terus di kamar loh, Yaang. Nggak bosen?" tanya Ryu.
Sementara Ara yang berusaha untuk berkosentrasi dengan buku di tangannya, wanita itu pun menutup buku itu dengan hembusan napas kasar.
"Yang buat aku kayak gini memangnya siapa? Hmm? Yang bikin jalanku aneh kayak Soang, siapa? Kamu mau aku diketawain semua orang di rumah? Hmm? Seneng gitu kalau mereka nertawain jalanku? Terus aku musti jawab apa kalau sampai Mama tanya-tanya sama aku, Kak! Aku tuh malu. Tau nggak sih kamu? Nggak peka banget jadi orang!" omel Ara membuat Ryu terdiam sejenak.
Ryu bangkit dari rebahannya dan kemudian duduk disamping Ara yang tengah bersandar di head board. Lalu meraih tangan Ara lalu mengusapnya begitu lembut.
"Sayang ... ini tuh ibadah loh kita lakuin nya. Jangan kayak menyesal gini dong. Lagi pula, ini juga kewajiban seorang istri. Harus melayani suaminya dan me—"
Ara menutup mulut Ryu dan menatapnya serius. Membuat Ryu juga menghentikan omongannya.
__ADS_1
"Kamu bilang kayak gitu tuh udah mikir dulu, Kak?" tanya Ara.
Ryu menganggukkan kepalanya. "Udah. Karena aku nggak mau kamu dilirik sama pria lain."
Ara menahan geramnya mendengar jawaban Ryu. Sangat berbeda sekali dengan apa yang ia maksud.
"Ternyata nggak makai perasaan. Pantes aja kasar banget kamu," cicit Ara menarik tangannya dari mulut Ryu. Raut wajahnya kembali terlihat sedih.
Ara tahu, sangat tahu betul jika apa yang Ryu lakukan terhadap dirinya itu merupakan hak dia dan kewajiban Ara sebagai seorang istri. Namun, Ara tidak memungkiri jika ia juga mengharapkan sesuatu yang lain. Perasaan misalnya. Ara ingin tahu, ketika Ryu memutuskan untuk menyentuh dirinya dan mempertahankan pernikahan mereka, apakah pria itu mempunyai rasa atau hanya sekedar formalitas saja.
Ryu gelapan mendengar perkataan Ara barusan. Cepat-cepat pria itu meluruskan kesimpulan yang Ara dapat.
"Bukan begitu juga konsepnya, Yaang," sergah Ryu. "Aku akui, memang rasa cinta itu masih kecil. Tetapi, dengan modal kecil itulah aku mencoba untuk membuatnya lebih besar bahkan sampai kamu nggak bisa menerimanya nanti. Makanya, aku melakukan semua ini juga agar hubungan kita lebih dekat lagi. Aku ingin kamu menjadi milikku sepenuhnya, pun begitu sebaliknya," jelas Ryu.
Ia sudah memikirkan hal ini sebelumnya. Tidak mungkin ia menyentuh Ara hanya sekedar bermodalkan hak dan kewajiban saja. Tetapi rasa tidak mau kehilangan wanita ini dan juga modal rasa cintanya kepada Ara yang mungkin masih belum bisa disebut dengan kata cinta itu.
"Kita belajar bareng ya, Yaang. Belajar untuk saling mencintai dan melengkapi. Gimana?" Ryu benar-benar ingin menjalani rumah tangganya tanpa ada hambatan atau keberatan dari masing-masing pihak.
Meskipun mereka diikat dengan cara yang tidak normal menurut sebagian pandangan seseorang, namun Ryu ingin menjalaninya dengan sangat serius.
"Yaang?" panggil Ryu ketika Ara tidak menanggapi perkataannya. "Kamu nggak mau?" tanya Ryu lagi. Kali ini tatapannya berubah lembut, berbeda dari sebelumnya.
Ara menatapnya begitu tajam serta menipiskan bibirnya. Tanpa Ryu duga, wanita itu kembali melayangkan tangannya ke arah Ryu.
Plak plak!
__ADS_1
"Kalau aku bilang nggak mau, ya rugi banget aku, Kak! Udah kamu bikin kayak gini juga, masih aja nanya mau apa enggak. Emang bener-bener drh kamu tuh!" amuk Ara memukul Ryu dengan amarah yang begitu menggebu.
Bisa-bisanya pria setengah mateng ini menanyakan hal itu kepada dirinya setelah apa yang dia lakukan terhadapnya semalam. Itu saja siang tadi masih ditambahi.
Ryu menghindari amukan istri kecilnya itu dengan tawa bahagia. Itu artinya Ara juga mau mempertahankan rumah tangga mereka.
"Memang nggak salah aku konsul dulu sama Papa kemarin. Benar-benar pilihan yang tepat emang aku anuin kamu dulu, Yaang. Nanti-nanti aku bakalan tanya gaya biar nggak jadi janin. Agar kamu nggak minum obat terus tiap malam, Yaang. Gimana?" ujar Ryu seraya memainkan alisnya.
Ara mendelik. "Setiap malam?" tanya wanita itu sangat terkejut dengan pernyataan Ryu. Lebih lagi ketika pria itu menganggukkan kepalanya dengan begitu mantap.
"Iya, Yaang. Memangnya mau jadi seorang ibu secepatnya a?" tanya Ryu dengan tidak tahu dirinya.
Tentu saja Ara menggeleng. "Kan bisa diminumnya kalau pas habis ..." Ara menghentikan ucapannya. Sangat malu sekali kalau harus membahas perihal penyatuan jiwa dan raga dalam keadaan sadar seperti ini.
Ryu menahan senyumnya laku mendekatkan wajahnya ke arah Ara. Menatap jahil istri kecilnya yang tengah tersipu.
"Habis apa, Yaang?" goda Ryu dengan sengaja. "Habis olahraga, apa habis cari keringat bareng? Hmm?" dia semakin menggoda Ara. Membuat wajah Ara semakin terasa panas. Sampai-sampai Ara memalingkan wajahnya ke samping.
Ryu tidak melepas Ara begitu saja. Pria mesum itu masih terus menggodanya hingga mencapai batas kesabaran Ara.
"Kak Ryuuuuuu!" pekik Ara mendorong wajah Ryu menggunakan bantal.
"Apa, Kesayangannya Ryu?" Ryu semakin menjadi dalam menggoda Ara.
"Tau, ah! Nyebelin!"
__ADS_1
"Cie ... pingin di anuin lagi ...." godanya.