
Bab. 43
Ara yang tidak bisa menahan rasa haus serta rasa sedikit laparnya. Pun kemudian gadis itu segera menuju ke dapur. Mengambil air minum dan berencana ingin memasak mie instan untuk mengganjal perutnya.
Tanpa Ara sadari ketika gadis itu sibuk dengan panci yang berisi mie instan di hadapannya, tentu saja kompor yang Ara gunakan pun bukan kompor biasa. Semenjak kejadian di waktu kecil dan membuatnya trauma akan api, mama Yuan mengganti semua kompor yang ada di rumahnya dengan kompor induksi. Sehingga Ara tidak melihat api secara langsung. Di belakang Ara ada seseorang yang entah berapa lama sudah mengamati Ara dari tempatnya saat ini.
Dan ketika mie yang Ara masak sudah matang, betapa terkejutnya ketika gadis itu memutar tubuhnya lalu berniat duduk di tempat makan. Beruntung panci kecil yang Ara bawa tidak jatuh. Ara langsung menaruh mienya di atas meja dan sedikit mundur.
"Kak Ryu ngapain?" tanya Ara dengan lirih. Ada raut ketakutan yang terlihat begitu jelas pada ekspresi Ara ketika melihat Ryu melangkah mendekat ke arahnya. Ara langsung memasang sikap waspada nya.
Sedangkan Ryu dengan santai nya berjalan mendekat ke arah meja makan. Di mana pria itu kemudian menuangkan air di gelas kosong yang ada di sebelah tempat air. Bukanya segera pergi setelah menuangkan air, pria itu malah duduk di kursi dekat mie milik Ara.
"Kenapa masak mie instan?" tanya Ryu mengabaikan pertanyaan Ara setelah meneguk air yang dia tuang barusan.
Padahal niatannya ke sini ialah membuat kopi dan membawanya ke kamar lalu melanjutkan pekerjaan yang dia tinggal. Namun, karena ada mangsa di sini dan akan sangat disayangkan jika diabaikan, maka dari itu Ryu lebih memilih berlama lama berada di dapur.
"Laper," jawab Ara jujur.
__ADS_1
Ryu mengangguk lalu mengintip ke arah panci kecil yang berisikan mie di sana. Dari baunya, mie yabg di masak Ara merupakan mie soto.
Meskipun ada rasa takut dengan kakak angkatnya ini, namun rasa lapar yang Ara rasa lebih dominan dari rasa takutnya. Karena dari siang ia belum memakan sesuatu.
'Bodo amat sudah. Dia nggak akan berani macem-macem kalau di rumah. Mending lo segera makan dan masuk ke kamar, Ra.' batin Ara.
Dengan memberanikan diri Ara perlahan duduk di kursi yang berada di dekat Ryu. Meskipun agak canggung, namun Ara berusaha untuk terlihat biasa.
"Maaf," ucap Ara ketika sadar dengan ucapannya tadi. Di mana dirinya malah menyuruh mama Yuan untuk mengusir putra kandungnya.
Ryu mengangkat alisnya. Tidak paham dengan kata maaf dari Ara barusan untuk apa.
Ara melirik sekilas lalu tangannya meraih panci yang berisi mie. Namun dengan sengaja Ryu malah menjauhkan mie tersebut. Membuat Ara menoleh, menatap ke arah Ryu dengan tatapan penuh protes.
"Jawab dulu," ujar Ryu.
Nada bicaranya tidak semenyebalkan seperti ketika mereka bertemu sebelumnya. Kali ini lebih lembut.
__ADS_1
"Bersikap nggak sopan," balas Ara mengakui kesalahannya. "Tapi itu nggak sepenuhnya salahku." tekan Ara kemudian. Ryu menarik sudut bibirnya ke atas mendengar kalimat terakhir Ara.
"Jangan bersikap seperti itu di depan pria lain," ingat Ryu langsung pada intinya.
Awalnya Ara tidak paham dengan maksud Ryu yang mana. Hingga membuat Ryu menjelaskan mengenai sikap Ara ketika di rumah komik.
"Jangan suka nantangin orang, kalau memang belum kenal betul sama orangnya," jelas Ryu.
Kali ini wajah Ara merona merah. Ia sendiri juga tidak berniat untuk menggodanya. Tadi itu hanya spontanitas saja. Sebab Ryu yang memang sangat menyebalkan.
"Ck! Kak Ryu sendiri juga kayak gitu. Main mojokin aku ke rak komik. Siapa juga yang nggak kesal coba," protes Ara yang tetap tidak mau mengalah.
Nada bicara mereka sudah tidak seperti musuh lagi. Meskipun Ara masih sedikit ketus, namun tidak separah sebelumnya.
Ryu tertawa lirih melihat Ara yang menekuk wajahnya seperti ini. Terlihat menggoda, eh, menggemaskan. Sampai-sampai Ryu tidak bisa menahan tangannya untuk tidak mengusap puncak kepala Ara.
"Jangan di ulangi lagi," ujar Ryu seraya mengacak rambut Ara. Lagi dan lagi membuat gadis itu bertambah kesal.
__ADS_1
Ara segera menepis tangan Ryu. "Jangan sentuh aku, Kak!" ingat Ara.
Bukan karena tidak suka, Ara malah sangat merindukan usapan tangan Ryu di kepalanya. Seperti yang biasa Ryu lakukan di masa lalu. Namun, kali ini status Ara berbeda. Sehingga Ara juga tetap harus menjaga dirinya. Meskipun itu dari kakak angkatnya sendiri. Sebisa mungkin Ara menjaga interaksi di antara mereka agar tidak terlewat batas.