
Bab. 93
Melihat Ryu yabg baru turun dan berjalan menuju ke ruang tamu, Gista langsung beranjak dari tempatnya. Melangkah mendekat ke arah Ryu dan langsung main meluk begitu saja. Melupakan adat yang ada di negara ini.
Grep!
"Aku kangen banget sama kamu, Ryuga!" ujar Gista dengan nada begitu senang. "Kamu pulang nggak bilang-bilang dulu sama aku. Mana lama banget nggak balik ke sana." protes Gista menjauhkan tubuhnya tanpa melepas tangan yang melingkar di pinggang Ryu.
Sementara Ryu tampak terkejut, terbengong, tidak menyangka, tidak menduga dan apalah itu sebutannya. Yang jelas ia melupakan mahkluk yang satu ini kalau memang akan datang ke sini. Bisa-bisanya ia selama ini mengabaikan pesan dari Gista dan mencegah wanita ini agar tidak jadi menemui dirinya. Jika sudah seperti ini? Ryu harus apa?
Terlebih lagi tatapan mama Yuan begitu menusuk ke arahnya sambil melipat tangan di depan dada.
"E ... jangan seperti ini. Nggak sopan," ujar Ryu sambil mendorong bahu Gista agar ada spasi di antara mereka.
Gista menatap heran dengan sikap Ryu.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya heran. "Biasanya juga aku meluk-meluk kamu, kamu diem aja, Ryuga. Kenapa sekarang enggak boleh?" tanya wanita itu sedikit protes.
"Karena adat di negara inu tidak sama dengan ada di negara kamu!"
Bukan Ryu yang menjelaskan semua itu. Tetapi mama Yuan. Membuat Gista menoleh ke arah wanita yang dia tahu sebagai mamanya Ryu.
Terlihat begitu jelas sekali di wajah mama Yuan, jika dia sedang sangat sangat kesal.
Gista tidak mengerti dengan keadaan ini. Wanita itu tampan bingung dengan sikap mama Yuan yang tiba-tiba saja berubah. Lalu Gista menoleh ke arah Ryu, meminta penjelasan mengenai situasi yang ada di hadapannya sekarang melalui tatapan matanya.
Helaan napas keluar dari mulut Ryu. Pria itu kemudian menyuruh Gista untuk duduk. Karena sebagai tuan rumah, tentu Ryu harus bersikap ramah, bukan?
"Kalau di sini berbeda, Gis. Kita nggak ada hubungan apa-apa, jadi nggak boleh asal main peluk saja," jelas Ryu dengan nada rendah.
Sementara papa Rio sudah lebih dulu menenangkan istrinya agar tidak terpancing. Cukup menemani putra mereka mengobrol dengan temannya. Mencegah sebuah kesalahpahaman yang mungkin saja bisa terjadi dan tentunya itu akan membuat tuan putri mereka bakalan murka nantinya.
__ADS_1
Gista menaikkan alisnya. Tidak mengerti maksud dari ucapan Ryu barusan.
"Jadi ... kalau di sini kita nggak boleh pelukan?" tanya Gista lagi.
Ryu mengangguk membenarkan kesimpulan yang Gista ucapkan.
"Tapi kalau sudah kembali ke Kanada, boleh, kan?" tanya Gista lagi.
Tidak memeluk Ryu sama sekali, sama saja menjauhkan nikotin dari dirinya. Tidak! Ia tidak bisa melakukan itu. Ditinggal pria yang ada di depannya ini pulang hampir dua bulan saja, sudah membuat Gista mau gila rasanya. Rindu akan aroma Ryu yang dulu hampir setiap hari ia hirup. Juga wajah tampan nya yang begitu meneduhkan serta menenangkan hati. Argh ... rasa rasanya baru beberapa detik saja menjauh dari Ryu, mampu membuat Gista mendambakan pelukan pria itu lagi. Karena tadi belum sempat ia puas melampiaskan rasa rindunya pada Ryu.
"Ah, itu ...."
"Kakaaaakkk ....!"
Belum sempat Ryu berkata panjang dan ingin memperjelas statusnya sekarang, terdengar suara yang begitu melengking dari arah ruang tengah dan orang itu berlari ke arah mereka.
__ADS_1
Hayo tebaaakkk ... Ara cosplay jadi apa? prok prok prok. wkwkwk