
Bab. 98
Dua tahun kemudian.
Brak!
"Dasar, brengsek! Nggak becus kalian! Enyah dari perusahaanku!" maki seorang pria sambil menendang sebuah meja yang ada di hadapannya hingga meja itu terguling. Membuat semua barang yang sebelumnya tertata rapi pun jatuh berserakan di lantai dalam sekejap.
Hiro yang melihat sepupunya kesetanan, lantas segera menenangkannya.
"Hei ... Tuan Muda Pertama, tenangkan dirimu," ucap Hiro menghampiri Ryu.
Dengan gerakan tangan, pria itu menyuruh orang-orang yang ada di sana untuk segera meninggalkan mereka berdua. Hingga kini benar-benar hanya tertinggal mereka berdua saja di sana.
"Minum dulu," ucap Hiro sambil menyodorkan sebuah botol mineral. "Atau mau le mobil saja?" tawar Hiro.
Saat ini mereka berada di sebuah proyek yang sedang dikembangkan oleh perusahaan RR Group. Dan lebih tepatnya sekarang mereka berada di ruangan khusus yang diperuntukkan untuk dirinya maupun Hiro jika bertandang ke sini.
__ADS_1
Napas Ryu memburu. Seolah habis melakukan maraton dua ratus meter. Dengan kasar, Ryu mengambil botol mineral yang Hiro berikan kepada dirinya. Meneguknya hingga tandas. Mengabaikan ruangan yang saat ini terlihat begitu berantakan.
"Kita balik sekarang," ujar Ryu setelah mengelap bibirnya yang sedikit basah.
Dari pada berada di sini dan melihat hasil pekerjaan bawahannya yang tidak sesuai di lapangan, Ryu memilih untuk membuat kewarasannya masih tersisa. Belum lagi memikirkan sesuatu yang membuatnya begitu jengkel. Bahkan ingin sekali Ryu meledakkan sebuah pulau saat ini.
Hiro mengangguk. Tanpa melayangkan pertanyaan atau protes, pria itu mengikuti langkah sepupunya yang berjalan lebih dulu.
Sesampainya di mobil dan Hiro sebagai sopirnya, pria itu pun mulai mengemudikan mobilnya dan membelah jalanan yang sedikit rusak. Hingga mereka sampai di jalan besar, baru Hiro membuka suaranya.
"Kenapa lagi lo?" tanya Hiro sembari melirik sekilas ke arah Ryu, lalu kembali fokus kepada kemudinya.
"Dia benar-benar nggak hubungi gue, Ro. Balas chat aja pas aku bilang mau ke sana. Dia larang gue buat temuin dia," aku Ryu pada akhirnya kepada Hiro. Mengatakan alasan mengapa amarahnya bisa meluap barusan.
Selain memang kerjaan orang-orang yang ada di proyek itu tidak becus, Ryu juga membutuhkan sebuah pelampiasan emosi yang sudah dia tahan-tahan selama ini.
Oke! Inti dari emosi Ryu sudah Hiro temukan.
__ADS_1
"Mau coba gue hubungin?" tawar Hiro.
Kasihan dan bahaya juga jika mood pria yang ada di sebelahnya ini buruk. Yang ada sebentar lagi perusahaan RR Group bakalan bangkrut. Sebab para karyawannya dipecat semua oleh Ryu.
"Nggak perlu. Ini masalah rumah tangga gue," tolak Ryu yang masih gengsi.
Bukan gengsi sih, tetapi Ryu tidak ingin jika dalam rumah tangganya ada ikut campur orang lain.
Padahal selama dua tahun terakhir ini Ryu selalu rutin menjenguk Ara yang tengah menempuh pendidikan di Paris bersama Citra. Meski berat, akhirnya mereka bisa melaluinya bersama. Hubungan dan komunikasi nya dengan Ara juga baik. Hanya saja tiga bulan terakhir ini Ara benar-benar menguji dirinya. Dijenguk tidak mau, dihubungi juga balasnya selalu sibuk.
Tidak memungkiri Ryu memiliki sempat memiliki pemikiran jika Ara mempunyai pria lain. Namun, ketika ia konfirmasikan kembali kepada Citra beserta Gendhis—bodyguard yang ia tempatkan di sisi Ara, mereka sama-sama menjawab jika Ara selama ini selalu bersama mereka berdua.
"Yakin?" tanya Hiro. "Gue takutnya kalau sebentar lagi Opa bangkrut karena ulah lo," sindir Hiro mendapat dengkusan kesal dari Ryu.
"Gue mau pulang aja." tekannya.
"Sesuai kemauan Tuan Muda Pertama," sahut Hiro cepat sambil menggerakkan tangannya seperti hormat.
__ADS_1
Lalu Hiro mengetikkan sesuatu di ponselnya menggunakan satu tangan. Setelah itu Hiro kirim pesan singkat itu kepada seseorang tanpa Ryu sadari.