
Bab. 57
"Pulang sana!" usir Ara ketika suasana di dalam ruangan rawat inap dirinya terasa sunyi.
Sedangkan pria yang tengah duduk memangku ipad di sebuah sofa panjang di sisi ruangan, mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Ara. Di mana Ara tengah duduk bersandar di atas ranjang pasien.
Karena masih terasa nyeri dan wajahnya begitu pucat, Ara tidak diperbolehkan langsung pulang. Gadis itu disuruh menginap satu malam di sini dan nanti akan dilihat perkembangannya.
"Udah, diem aja di sana. Jangan gangguin aku sedang kerja," ujar Ryu yang kemudian menatap ke arah layar ipad di pangkuannya.
Ara berdecak. Ia hanya tidak suka suasana hening seperti ini. Sebab Ara terbiasa gaduh selama ini. Diam terus tanpa ada obrolan di antara mereka membuat Ara sedikit canggung sendiri. Akan tetapi mau mengobrol pun juga tidak tahu topiknya. Di tambah lagi kan ceritanya ia masih ngambek pada pria mesum.
Namun, di sisi lain Ara sangat penasaran mengenai alasan kenapa Ryu melakukan itu kepada dirinya. Bahkan ini bukan sebuah kebetulan. Karena jika memang kebetulan, tidak akan terulang lagi dan lagi. Sangat mustahil dan mencurigai sekali.
"Sibuk banget?" tanya Ara dengan nada keduanya. Juga tanpa menatap ke arah Ryu.
Ryu langsung mengangkat kepalanya di saat mendengar pertanyaan tersebut dari Ara.
"Butuh apa? Mau pipis lagi? Dibantuin? Hmm?" cecar Ryu menaruh ipadnya di atas meja dan akan beranjak dari tempatnya. Cepat-cepat Ara mengarahkan tangan ke depan, mencegah pria itu agar tidak beralih pada tempatnya.
"Enggak! Aku cuma mau tanya aja," cegah Ara.
Ryu yang sudah berdiri pun kembali duduk. Pria itu menatap Ara dari tempatnya.
"Apa?"
__ADS_1
"Kenapa lakuin itu lagi?" Ara bertanya tanpa berani membalas tatapan Ryu yang mengarah ke arahnya.
Ryu mengangkat sebelah alisnya. Tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Ara. Karena seingat Ryu hari ini dirinya tidak melakukan kesalahan sedikit pun.
"Lakuin apa, Ra? Aku nggak ngerti apa yang kamu maksud," balas Ryu.
Melihat dari raut Ara yang mulai berubah merona pun sebenarnya Ryu paham ke mana arah pembicaraan yang di maksud oleh gadis itu. Akan tetapi entah mengapa menggoda dalam setiap kesempatan yang ada, selalu ingin Ryu lakukan. Semua ini demi lebih kenal lagi sikap dan sifat Ara yang belum pernah Ryu ketahui. Selain cerita dari sepupu dan kedua orang tuanya sendiri.
Ara melengos kesal. Mana mungkin dirinya mengatakan hal seperti kejadian semalam dengan begitu detail. Sedangkan mereka juga sama-sama mengetahuinya.
"Lupakan deh," ucap gadis itu yang kemudian membaringkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Ryu.
Ryu tersenyum tipis melihat sikap malu malu dari Ara. Lalu kemudian Ryu menaruh ipadnya dan berganti mengambil ponsel lalu melangkah menuju ke ranjang pasien. Duduk di pinggiran ranjang, di mana membuat Ara sedikit terkejut dengan gerakan di ranjang pasien yang dia tempati. Sontak membuat Ara merubah posisinya dan langsung duduk. Sedikit memberi sekat di antara mereka. Walau Ara duduk ke sisi pinggir.
"Aku nggak gigit, Ra. Udah jinak ini," canda Ryu ketika melihat wajah ketakutan Ara.
Ingin sekali Ryu menjawab jika dirinyalah suami dari gadis itu. Tetapi takut jika fakta ini terungkap sekarang, malah membebani pikiran Ara sebelum ujian tiba.
"Kata siapa udah punya pacar?" tanya Ryu dengan mengangkat alisnya.
"Kak Hiro sama Kak Tami," jawab Ara jujur. "Makanya Kak Ryu betah ikut Tante Zuma. Orang di sana udah punya pacar," lanjut Ara. "Orang bule asli, apa campuran, Kak?" tanya Ara kemudian. Ada rasa penasaran salam diri gadis itu.
Petak!
Ryu menyentil kening Ara dan sedikit menggeser tempatnya.
__ADS_1
"Ngapain makan pedes kalau udah tau punya penyakit lambung? Hmm?" Ryu mencoba mengalihkan pertanyaan Ara barusan. Karena ia tidak sedang ingin membahasnya. Yang jelas, jika waktunya sudah tepat, ia pasti akan memberitahukan semuanya pada Ara. Tetapi bukan sekarang.
Ara melengos sembari mengusap keningnya yang terasa sakit. Orang itu memang tidak kira-kira kalau mengeluarkan tenaga untuk dirinya.
"Nggak perlu nyentil juga kali. Nggak tau apa, kalau skin care yang kupake itu mahal. Mana musti nabung dulu," gerutu Ara. Takut jika warna merah akibat sentilan Ryu barusan membekas di sana.
Ryu semakin gemas saja dengan tingkah gadis ini. Di saat sakit seperti ini masih saja memikirkan skin care-nya.
"Nanti aku beliin," sahut Ryu. Membuat Ara langsung menoleh cepat dengan raut senang.
"Serius?" tanya Ara memastikan kembali. Mumpung ada om gula yang menawarkan diri, kenapa nggak Ara manfaatkan. Begitulah pikiran gadis itu.
Bukan hanya pikirannya saja yang labil. Namun juga perasaannya. Sebentar marah, tetapi sebentar juga baikan. Hanya karena iming-iming akan dibelikan skin care sama Ryu, sudah membuat Ara terlena. Ah ... memang benar-benar gadis polos satu ini.
Ryu mengangguk. "Tapi ada syaratnya," ucap Ryu. Membuat Ara menyipitkan mata dan menggigit bibirnya sendiri. Bisa menebak pikiran mesum Ryu.
"Nggak mau!" tolak Ara. "Cukup dua kali Kak Ryu ambil jatah suamiku," imbuhnya lagi.
Mendengar kata suami, lagi dan lagi membuat Ryu tersedak.
"Suami?" ulang Ryu.
Ara mengangguk. "Memangnya Mama dan Papa nggak cerita sama Kak Ryu?" Ara merubah posisinya duduknya ketika mendapat gelengan dari Ryu. "Aku udah nikah, Kak. Makanya jangan ciam cium seenaknya. Kasihan suamiku ntar dapat bekas Kak Ryu." omel Ara dengan lirikan sinis.
Ryu semakin tertarik membahas topik ini. Ingin melihat sejauh mana Ara bisa mempertahankan statusnya itu, di kala dia sendiri tidak tahu siapa suaminya.
__ADS_1
"Mau selingkuh denganku, nggak?" tawar Ryu seraya memainkan alisnya. "Biar nanti pro kalau sama suamimu," Ryu semakin menggoda Ara yang wajahnya berubah merona. "Tenang aja, gratis. Tanpa dipungut sepersen pun." tandas Ryu mencoba meyakinkan Ara. Di mana pria itu langsung mendapat tumpukan bantal dari Ara.
"Dasar, mesum! Kak Ryu gil—akh!" pekik Ara kemudian. Perutnya terasa sakit di saat ia buat berteriak dan sedikit mengeluarkan tenaga demi memukul Ryu dengan bantal.