Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Perasaan Yang Berantakan


__ADS_3

Bab. 51


"Ck! Lagi lagi lo mukanya ditekuk kayak gini. Kenapa lagi sekarang?" tanya Citra ketika melihat Ara yang datang-datang dengan muka ditekuk.


Bahkan gadis itu mengabaikan Satria yang sengaja menunggu kedatangan Ara di ambang pintu. Tidak meladeni godaan dari cowok sok kegantengan tersebut.


"Ada apa Nona Muda?" tanya Citra lagi. Karena Ara langsung menempelkan wajahnya di meja tempatnya.


Satria yang di abaikan oleh Ara pun mendekat ke meja gadis itu. Bertanya kepada Citra apa sebenarnya yang terjadi pada Ara melalui tatapan mata mereka. Citra mengangkat bahunya. Karena ia sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi pada Ara.


"Beby ... lo kenapa sih pagi-pagi kok cantiknya disembunyikan kayak gini. Mamas Sat jadi nggak bisa liat, loh!" ujar Satria yang mencoba untuk membujuk Ara.


Akan tetapi usahanya sia-sia saja. Karena Ara tidak menghiraukan sedikit pun bujuk rayu dari Satria.


Citra yang melihat kelakuan Satria pun berdecak. Ara bukan tipe gadis yang bisa dirayu hanya dengan sebuah kata. Sahabatnya ini terlalu unik. Sehingga tidak sembarang obyek yang bisa membuatnya luluh.


Mumpung jam masuk masih kurang dua puluh menit, Citra menarik tangan Ara, membuat gadis yang tengah dilanda dilema tersebut pun menatap ke arah Citra.

__ADS_1


"Gue traktir seblak pedas di seberang jalan," bisik Citra yang tentu saja sangat menggiurkan Ara. Sampai-sampai membuat gadis itu langsung menegakkan tubuhnya. Seolah mendapat energi dan semangat begitu cepat.


"Serius? Enak, nggak?" tanya Ara langsung bersemangat. Dan Citra langsung menganggukkan kepalanya.


Melihat Ara yang terlihat mulai bersemangat, membuat Satria mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.


"Bunga mawar yang cantik, untuk Nona Ara yang manis dari Mamas Sat," ujar Satria seolah begitu puitis menurutnya. Padahal yang terlihat sebenarnya justru tampak begitu menggelikan.


Hatinya yang sudah kesal sedari rumah, ditambah lagi dengan sikap Satria yang menggelikan menurut Ara. Lantas gadis itu pun mendorong bunga yang disodorkan ke arahnya oleh Satria.


Suara Ara yang kencang itu menarik perhatian teman-temannya yang ada di kelas. Beberapa siswa yang sudah datang pun menatap ke arah mereka seraya menahan tawa mereka. Tentu saja mereka tidak berani memperlihatkan dengan jelas. Karena takut dengan konsekuensi yang akan mereka terima dari Satria. Di mana cowok itu dijuluki sebagai preman sekolah, selain kapten basket di sekolah Mahardika ini.


Setelah mengatakan itu Ara berganti menarik tangan Citra dan mengajak temannya itu keluar. Menggeser Satria hingga cowok itu hampir terjatuh jika saja keseimbangannya tidak bagus.


"Dedek Ara! Mamas Sat jangan ditinggal!" teriak Satria yang menjadi lunak jika itu mengenai Ara. Benar-benar berbeda jika sedang berada di lapangan basket atau ketika cowok itu memimpin tawuran antar sekolah.


Satria pun mengejar langkah dua cewek yang meninggalkan dirinya begitu saja. Menjadi bahan tawaan. Beruntung emosinya sedang terlelap hari ini. Kalau saja mudah terbangun, mungkin keadaan kelas Ara tidak akan tetap rapi seperti sekarang.

__ADS_1


Sedangkan Ara melangkah lebar dan menyeberang jalan menuju tempat yang dikatakan oleh Citra.


"Lo beneran mau makan ini?" tanya Citra ketika pesanan seblak pesanan mereka sampai di hadapan mereka saat ini.


Ara mengambil sumpit serta sendok yang tertata di depannya. Lalu menyicipi kuah seblak super pedas san masih panas tersebut.


"Bukannya lo yang mau nraktir gue?" tanya Ara balik. "Ya sebagai teman yang baik kan gue nggak boleh menyia nyiakan temen cari pahala. Gue terimalah. Kan lo sering bilang, rejeki nggak boleh ditolak," imbuh Ara sembari memainkan alisnya.


Sedangkan Satria yang duduk di sebelah Citra, karena Ara tidak mau didekati oleh cowok itu, mengedikkan bahunya. Begitu ngeri melihat kuah seblak di mangkuk milik Ara. Begitu merah merona dan ah ... yang jelas dirinya tidak berani mencobanya.


Kalau Citra malah merasa khawatir. Ia tahu Ara penyuka makanan pedas. Oleh sebab itu tadi demi membenahi mood Ara agar membaik, makanya ia menawarkan makanan tersebut.


"Tapi lo belum makan apa-apa, Ra," ingat Citra yang tahu kebiasaan Ara.


Ditengah Kekhawatiran citra dan Satria, Ara malah tersenyum manis ke arah mereka. Dan dengan sikapnya yang tenang, gadis itu mulai memakan seblak super pedas nya.


Memang terasa perih ketika makanan itu sampai di perutnya, namun karena rasa pedasnya yang sangat luar biasa, Ara merasa ia lebih bersemangat dari masalahnya yang begitu carut marut. Terutama mengenai perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2