Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Lega


__ADS_3

Bab. 25


Tanpa menunggu lagi, Ryu langsung berlari menuju ke mobilnya. Namun sebelum itu ia mengambil alih jaket milik Ara dari tangan Citra. Baru kemudian Ryu masuk ke dalam mobilnya.


"Siall!" rutuk Ryu seraya memukul lingkaran setir mobil dengan penuh sesal. Ia tidak menyangka jika apa yang ia lakukan tadi berdampak seperti ini pada Ara. Karena Ryu pikir juga Ara sama seperti anak remaja pada umumnya. Terlebih lagi sikap gadis itu tadi sangat berani sekali menurutnya.


Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang gadis yang tengah menangis sesenggukan di dekat danau buatan yang berada di pinggiran kota. Entah mengapa dia bisa sampai di sini.


Gadis itu menangis tanpa suara. Hanya sesekali saja terdengar di saat mengusap ingus nya. Tatapan mata teduh itu mengarah ke arah danau.


"Gimana nanti kalau Mama dan Papa tau apa yang terjadi padaku tadi? Pasti mereka bakalan marah besar," gumam gadis itu.

__ADS_1


Bukan mengkhawatirkan apa yang sudah hilang dari nya, melainkan gadis itu takut akan kemarahan kedua orang tuanya yang sudah membesarkan dirinya selama ini.


Ya. Dialah Ara. Ara tahu, ia bukanlah anak kandung di keluarga Rayyansyah. Namun berusaha semaksimal mungkin agar tidak membuat kecewa kedua orang paruh baya tersebut. Karena kasih sayang yang mereka berikan sangatlah tulus kepada dirinya.


Ara termenung, memikirkan nasibnya jika saja tidak ada mama Yuan dan papa Rio, akan seperti apa hidupnya saat ini. Lantas, untuk apa ia bersedih hanya sebatas kehilangan ciuman pertamanya? Batin Ara.


Ara menghentikan tangisnya. Gadis itu memejamkan mata, lalu menarik napas dalam dalam untuk menenangkan dirinya.


"Oke, Ra. Anggap aja yang tadi itu uji coba sekalian belajar, biar kalau tiba-tiba suami lo muncul dan minta anu, lo nggak keliatan bego-bego banget," ucap Ara mendoktrin dirinya sendiri.


Memang agak sedikit beda pemikirannya. Namun begitulah Ara. Gadis yang tidak bisa bersedih terlalu lama dan menganggap semua itu seperti angin lalu saja. Hadapi dan jalani, itulah slogan yang selalu ia ingat dari seseorang di masa kecilnya. Orang yang mengajarkan dirinya banyak hal walaupun sangat singkat dan Ara tidak bisa mengingat lebih banyak dari ini.

__ADS_1


"Ingat, Ra. Lo harus jadi cewek yang kuat dan tangguh. Agar Kak Ryuga mau pulang dan bisa kumpul lagi kayak dulu," ujar Ara.


Mengingat kakak angkatnya itu, Ara terkadang merasa kasihan pada mama Yuan. Karena wanita yang susah menyayangi dirinya layaknya orang tua kandung, hanya memiliki satu anak saja. Itu pun sosok yang dulunya selalu mengajari dirinya untuk berani dan jangan takut pada orang asing, tidak pernah Ara lihat lagi semenjak kejadian beberapa tahun yang lalu.


Setelah di rasa dirinya mulai tenang, Ara pun mengusap air matanya dan beranjak dari tempatnya. Coklat hangat yang sempat ia beli pun Ara habiskan terlebih dulu. Akan sangat disayangkan jika dibuang begitu saja. Pikirnya.


Ara juga mau membersihkan roknya, sebab tadi duduk begitu saja tanpa memakai alas. Gadis itu baru menyadari jika dia tidak mengenakan jaketnya.


"Loh, jaket gue ke mana?" kaget Ara menoleh ke arah sekitar, namun tetap saja tidak menemukan jaketnya.


Sementara itu, di tempat yang tidak jauh dari tempat Ara berada sekarang, ada seseorang yang memperhatikan tingkah gadis itu. Orang yang sempat begitu cemas dengan keadaan Ara yang pergi begitu saja dalam kondisi marah. Kini pria itu bisa merasa lega dan tersenyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2