Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Ketahuan


__ADS_3

Bab. 81


Plak!


"Ini semua juga gara-gara kamu, Mas!" sentak Ara ketika Ryu ingin melihat bagian yang terasa sakit. Gadis itu mendelik ke arah pria yang malah tersenyum. "Nggak usah senyam senyum kayak gitu! Pokoknya aku nggak mau gituan lagi! Bilangnya nempelin doang, tapi sampai dilukai!" sewot Ara yang sangat sangat kesal kepada Ryu.


Ryu sendiri mengangguk tanpa memberi pembelaan untuk dirinya. Karena memang awalnya dirinya lah yang berbohong. Lagian, mana mungkin ia cuma menempelkan doang. Ya nanggung banget lah! Batin Ryu.


"Iya iya, Yaang ... maaf deh, maaf. Nanti bakalan diulang kalau udah baikan," ucap Ryu dengan nada lirih.


Ara mendelik lalu memukul lengan Ryu lagi. "Astaga ... ini aja masih kayak gini loh rasanya, Mas! Tega bener malah udah ada wacana buat nyakiti aku lagi."


Ara tidak habis pikir dengan suaminya ini. Bisa-bisanya dia menjadi pria yang begitu kejam. Bahkan rasa nyeri akibat kegiatan mereka semalam aja masih begitu kentara sekali. Bahkan di kala ia menggerakkan kakinya, benar-benar sangat sakit.


Ryu memilih diam ketika istri nya ini mengomel marah kepada dirinyam. Sebab kalau ia balas pun juga memang dirinya yang salah. Sehingga mengambil posisi yang aman saja.


"Ya sudah, kalau begitu mandi dulu Yaang. Habis itu aku ambilin makan. Udah siang, ngisi tenaga dulu," ujar Ryu seraya menyingkap selimut yang Ara pakai lebih banyak lagi. Akan tetapi gadis, eh, bukan, wanita itu menahannya dengan kuat. "Kenapa?" tanya Ryu menatap tidak mengerti.


Ara menggelengkan kepala. "Aku bisa sendiri," jawab Ara memegang begitu erat selimut di dadanya sekarang ini.

__ADS_1


"Bisa?" tanya Ryu khawatir.


Ara mengangguk mantap. Membuat Ryu melepas selimut dari tangannya dan memperhatikan Ara yang ingin turun dari ranjang. Namun, belum juga kakinya benar-benar tergeser, wanita itu memekik kesakitan dan bersamaan dengan itu pintu kamar Ryu diketuk dari luar.


Tok tok!


"Buka pintunya sekarang juga!" terdengar suara mama Yuan yang berteriak di depan kamar Ryu.


Ara menatap ke arah Ryu dengan mata melebar. Sedangkan yang ditatap malah terlihat sangat santai.


"Aku bukain dulu, Yaang. Dari pagi tadi Mama udah teriak-teriak nyari Tuan Putrinya yang hilang," ujar Ryu yang mendapat pukulan dari Ara. Karena berkata seperti itu dengan tatapan meledek ke arahnya.


Kemudian pria itu melangkah menuju ke pintu kamarnya dan memutar kuncinya.


Klek!


"Ryu! Di mana Ara?"


Belum juga pintu terbuka dengan sempurna, suara mama Yuan terdengar begitu melengkung. Bahkan wanita paruh baya itu mendorong pintu kamar Ryu hingga terbuka lebar. Karena Ryu tidak berhasil menahannya.

__ADS_1


Ara yang melihat mama Yuan berdiri di ambang pintu, semakin mengeratkan selimut yang melilit tubuhnya.


Ryu pikir tadi ia akan membuka pintunya sedikit. Karena takut kalau Ara malu terlihat oleh mama Yuan dengan keadaan seperti sekarang. Namun, lagi dan lagi untuk ke sekian kalinya ia dibuat tercengang dengan sikap wanitanya itu.


"Mamaaaa ...! Kak Ryu jahat sama aku! Kak Ryu nyakitin aku!" rengek Ara dengan suara begitu keras sambil menangis dengan gaya wanita itu yang jatuhnya malah terlihat lucu.


Mama Yuan menutup mulutnya di saat melihat Ara yang berada di atas tempat tidur milik Ryu. Terlebih lagi dalam kondisi berlilitkan selimut. Lalu mama Yuan menatap ke arah sekitar. Memang tampak begitu berantakan. Apa lagi baju yang masih berserakan di lantai.


"Ada apa, Yaang?" tanya papa Rioyang mendekat ke arah mama Yuan.


Sontak, membuat Ryu menutup pintunya sebagian agar papanya tidak melihat kondisi Ara di dalam sana.


"Nggak ada apa-apa, Pa," jawab Ryu masih dengan gaya santai nya.


Tubuh mama Yuan yang hampir merosot pun segera ditangkap oleh papa Rio. Membantu menahan hingga mama Yuan masih tetap berada di posisinya.


Tatapan mata wanita yang sering kali disangka kakaknya Ryu tersebut begitu kecewa pada Ryu. Membuat papa Rio yang belum mengerti terlihat bingung.


"Ada apa ini sebenarnya?" tanya papa Rio lagi.

__ADS_1


__ADS_2