Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Tebakan Citra


__ADS_3

Bab. 84


Setalah melalui drama yang begitu rumit dan juga melelahkan, tibalah juga hari-hari yang begitu menegangkan ke depannya bagi murid kelas dua belas. Karena hari ini merupakan hari pertama mereka menjalani ujian.


Semua tampak tertib dan patuh. Bahkan siswa yang biasanya berpenampilan dan bersikap seperti seorang berandal pun tampak kalem hari ini. Mereka juga tidak membuat ulah.


"Kamu kenapa sih, Ra? Gue perhatiin dari tadi kok kayak nahan sakit gitu?" tanya Citra kepada Ara di saat mereka baru keluar kelas dan beristirahat sejenak. Sebelum nanti akan dihadapkan lagi dengan soal-sola ujian yang mampu membuat otak mereka panas.


Ara melangkah begitu pelan dan penuh kebagian. Berusaha menjaga sikap dan gaya jalannya agar terlihat seperti biasa. Normal seperti sebelum sebelumnya. Meskipun di bagian yang paling privasinya itu masih terasa membesar.


"Nggak kenapa napa. Ada apa?" Ara balik bertanya kepada Citra. "Tampilan gue pucet ya? Padahal tadi gue udah makai lip tint. Tapi sama Mama suruh hapus," ujar Ara mencoba mengalihkan kecurigaan Citra. Karena tidak mungkin bagi Ara mengatakan hal yang sebenarnya pada Citra.


Citra menjauh dari Ara. Memberi sekat di antara mereka agar bisa mengamati Ara lebih jelas lagi. Sampai-sampai gadis itu menyipitkan matanya demi memastikan kalau matanya tidaklah salah.


"Enggak, bukan itu yang gue maksud," balas Citra seraya menggelengkan kepala dengan tangan yang memegang dagu. "Jalan lo aneh banget, Ra. Kayak ...."

__ADS_1


Ara tersentak ketika Citra menyadari cara jalannya. Padahal sebisa mungkin ia berusaha agar terlihat biasa.


"Ck! Perasaan lo aja. Orang gue biasa saja," sahut Ara yang kemudian menegakkan badan dan berjalan sedikit serampangan. Seperti yang dia lakukan selama ini. Walaupun harus menahan rasa sakit yang semakin terasa kalau ia buat bergerak terlalu berlebih.


Bagaimana tidak sakit, kalau saja semalam suami mesumnya itu masih melakukan anu terhadap dirinya. Tentu saja, pria itu mengeluarkan segala macam bujuk rayunya hingga Ara percaya begitu saja dan terjatuh pada rayuan rubah jantan tersebut. Dsn kegiatan mereka selesai pada jam sebelas malam. Tidak sempat lagi untuk Araembuka bukunya sebentar.


Anehnya lagi, kenapa setiap bangun pagi raut muka suaminya itu selalu terlihat bugar dan berseri. Tidak ada tanda-tanda jika kurang tidur. Sangat berbeda dengan dirinya. Terlihat lelah dan tidak bersemangat. Seolah malas melakukan apa-apa dan inginnya rebahan terus.


"Gue nggak salah, Ara!" tekan Citra. "Lo habis jatuh memangnya? Kok dari tadi jalan lo tuh aneh. Jatuh di mana? Hmm? Makanya yang sakit. Gue liat."


Sedangkan Ara semakin mengeratkan bibirnya di saat Citra dengan kasarnya merubah posisi dirinya.


'Citra sialan! Gue di puter puter kayak ore0 aja! Mana sakit banget, anj*r!' jerit Ara di dalam hati.


Ingjn rasanya Ara memukul kepala Citra. Akan tetapi takut jika sahabatnya itu akan semakin curiga kepada dirinya. Parahnya nanti malah gadis itu menganggap dirinya sudah melakukan yang iya iya. Karena memang Ara sudah melakukan iya iya itu.

__ADS_1


"Lo apaan sih, Cit! Malu tau!" sentak Ara menepis tangan Citra dari pinggangnya. "Mending ke kantin dulu deh. Ngadem kepala. Beli top ice kek. Atau yang lebih lembutan pop ice gitu. Dari pada lo bikin malu kayak gini!" ujar Ara mendorong kening Citra ketika gadis itu berada begitu dekat dengannya. Di tambah lagi Citra terlihat sedang memperhatikan lehernya.


"Bentar bentar deh, Ra!" sergah Citra yang semakin memicingkan matanya. Gadis itu menarik kerah Ara karena melihat sesuatu di balik kerah seragam yang Ara gunakan. "Astag—hmphh!"


Teriakan Citra tertelan lagi ke tenggorakannya karena dengan sigap dan penuh cekatan, Ara segera membungkam mulut Citra ketika menemui sesuatu yang sudah Ara sembunyikan.


"Diem! Jangan banyak tanya! Ntar gue jelasin!" sergah Ara ketika Citra akan melayangkan protes ke arahnya melalui tatapan mata gadis itu.


Kemudian Ara membawa Citra ke kantin dengan posisi yang masih sama. Baru sampai di kantin, Ara melepaskan tangannya dari mulut Ryu.


"Hah!"


Citra mengatur napasnya. Lalu memicingkan mata ke arah Ara dan seceapt kilat merubah ekspresinya.


"Nggak perlu lo jelasin, gue udah tau habis ngapain." potong Citra cepat mengenai apa yang akan dijelaskan oleh Ara stelah ini.

__ADS_1


"Sama siapa? Hmm?" Citra memainkan alisnya serta menatapnya dengan tatapan begitu menyebalkan.


__ADS_2