
Bab. 38
Mengganti pakaian hanyalah sebuah alasan yang Ryu pakai. Karena sebenarnya pria itu belum siap untuk bertemu dengan Ara lagi malam ini. Setelah apa yang ia perbuat tadi siang di rumah komik.
Entah kenapa dirinya memutuskan sesuatu dengan sangat gegabah tanpa dipikirkan ulang mengenai konsekuensi yang akan terjadi nanti. Mana mamanya malah mengajak makan malam bersama, yang itu artinya mau tidak mau mereka akan bertemu juga.
"Huh! Haruskah sekarang?" gumam Ryu bingung sendiri.
Pria itu bukannya segera melepas hoodie yang dia pakai, dia malah merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang sudah lama tidak dia tempati. Tentu saja kasur nya jelas sudah diganti oleh mama Yuan. Karena sudah sangat lama. Hanya penataan serta barang-barang lain miliknya lah yang masih tetap sama. Seperti beberapa miniatur anime koleksi Ryu dulu waktu masih remaja pun juga berada di tempat yang sama. Bahkan fotonya dengan Ara kecil ketika gadis ingusan itu baru datang ke rumahnya.
__ADS_1
Ryu juga tidak ada niatan untuk menggeser mereka atau menggantinya dengan barang lain. Pria itu tenggelam dalam kenangan di kamar ini. Hingga tiba-tiba saja terdengar sebuah ketukan dari pintu kamarnya yang berhasil membuat Ryu tersadar seraya menoleh ke arah pintu.
Tok tok!
"Sayang! Buruan keluar! Papa sudah nunggu di ruang makan loh!" teriak mama Yuan dari arah luar. Membuat Ryu menghela napas berat.
Baru saja ingin bernostalgia dengan kenangan yang ada di kamarnya, mamanya itu sudah datang mengganggu. Memang, tinggal di apartemen lebih aman. Tenang dan damai. Karena Ryu sendiri selama ini juga terbiasa dengan keadaan tang tenang. Sebab, sepupunya yang ada di Kanada itu mereka sangatlah cuek dan tidak banyak bicara.
Tidak ingin mamanya semakin menjadi, Ryu segera melepas hoodie yang dia pakai dan hingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang padat serta berisi di balik kaos hitam yang ketat.
__ADS_1
Mengacak rambutnya sebentar lalu bersiap untuk keluar dan menuju ke ruang makan yang berada di lantai dasar rumahnya.
Sementara itu di ruang makan tampak papa Rio ditemani dengan Ara yang duduk dengan bersekat satu kursi. Karena itu tempat mama Yuan. Gadis itu penasaran siapa sebenarnya tamu mereka.
"Siapa sih Pa, tamunya? Kok makai nginep di kamar atas?" tanya Ara yang masih belum diberi tahu.
Papa Rio bingung harus menjawabnya seperti apa. Karena takut disalahkan oleh istrinya jika ia yang memberitahu kalau tamu mereka adalah Ryu. Mama Yuan tadi juga sempat berpesan kepada papa Rio untuk tidak memberi tahu Ara terlebih dulu. Biarkan mereka bertemu secara langsung. Katanya biar kejutan buat Ara. Padahal papa Rio tahu, jika mereka berdua sudah pernah bertemu. Lebih dari satu kali malah.
"Nanti kamu juga bakalan tau, Ra " jawab papa Rio yang hanya membuat Ara semakin menekuk bibirnya.
__ADS_1
"Ck! Papa dan Mama sekongkol ini pasti. Kompak banget nggak kasih tau Ara. Padahal tinggal sebut nama aja loh, apa susahnya Pa. Lagian juga belum tentu Ara kenal," protes Ara seraya mengambil gelas kosong lalu berdiri dan menuangkan air putih untuk papanya juga dirinya. Tidak lupa gelas untuk mamanya.
Papa Rio hanya bisa diam di omeli Ara seperti ini. Bukan karena tidak mau memberitahu, tetapi takut disalahkan dan malah dirinya lah yang akan kena konsekuensi dari sang istri.