
Bab. 58
Ara yang sudah merasa baikan pun merengek meminta pulang. Karena ia tidak betah berada di sini lama-lama. Bau obat yang terlalu menyengat itulah penyebab Ara selalu meminta pulang. Di tambah lagi papa dan mamanya tidak menjenguk dirinya sama sekali. Membuat Ara sedikit bosan dan harus ekstra waspada jika berduaan saja dengan pria mesum itu.
"Mama kenapa nggak ke sini sih? Udah nggak sayang sama Ara, ya?" protes Ara pada mama Yuan di sambungan telepon.
Sementara itu orang yang sudah mengusir orang tuanya sendiri pun berlagak tidak mendengar percakapan dua wanita tersebut. Ya. Ryu memang sengaja menyuruh kedua orang tuanya agar pulang saja dan dirinya lah yang akan menjaga istrinya.
"Ya tapi kan aku nggak mau ditemani sama dia, Ma. Lagian aku udah mendingan. Pulang sekarang aja, ya?"
Terdengar jika Ara tengah membujuk mamanya agar memperbolehkan dirinya untuk pulang sekarang.
"Nggak boleh!" sahut Ryu membuat Ara menoleh dan menatap ke arah pria itu dengan lirikan yang begitu tajam.
"Udah dulu ya, Ma. Pokoknya Ara pulang malam ini," ujar Ara segera menutup sambungan telepon nya dengan mama Yuan, di saat ia mendengar perkataan Ryu.
__ADS_1
Ryu melangkah mendekat ke arah ranjang pasien dan duduk di pinggiran ranjang. Menatap serta menunggu Ara yang ingin melayangkan protes ke arahnya.
"Kenapa? Kok malah diam?" tanya Ryu menatap menyelidiki di saat Ara yang malah justru diam saja.
Ara menggelengkan kepala namun dengan tatapan bingung.
"Nggak. Aku tuh heran banget loh sama kamu, Kak," ujar Ara yang seolah tidak mengerti sesuatu di sini.
Ryu mengangkat sebelah alisnya, menunggu Ara melanjutkan perkataannya. Sedangkan gadis itu membenarkan duduknya dan kini menghadap ke arahnya.
"Kamu tuh udah menghilang puluhan tahun, ta—"
Lagi dan lagi pria ini sangat suka sekali menyentil kening Ara. Mana tenaganya tidak di diskon barang sedikit saja.
"Kak! Sakit!" pekik Ara menatap kesal pada Ryu.
__ADS_1
Ryu malah terlihat begitu santai dan seolah tidak merasa bersalah sedikit pun dengan apa yang dia lakukan barusan.
"Makanya, kalau ngomong itu dipikir dulu. Jangan asal ngomong," ujar Ryu seolah membenarkan perbuatannya tersebut tidak lah salah. "Siapa juga yang menghilang? Hmm? Aku cuma melanjutkan pendidikan di sana," ralat Ryu mengenai anggapan Ara barusan.
Ara mencebikkan bibirnya. Terlihat begitu menggemaskan dan ingin sekali Ryu gigit rasanya.
"Sama aja. Lagian mana ada orang pergi nggak kasih kabar ke adiknya sama sekali." protes Ara seraya membuang mukanya.
Inilah alasan yang sangat ingin sekali Ara dengar, mengapa Ryu sampai tidak pernah memberi kabar kepada dirinya.
Namun ternyata respon Ryu sama sekali tidak sesuai dengan ekspetasi Ara. Pria itu mendekat sembari menajamkan tatapannya. Membuat Ara mundur dan gadis itu merasa kurang nyaman jika berdekatan begitu dekat dengan Ryu seperti sekarang ini.
"Adik? Siapa? Aku nggak punya adik. Aku anak tunggal," ucap pria itu yang begitu menusuk tepat di jantung Ara rasa-rasanya.
Membuat gadis itu menatapnya dengan tubuh membeku. Bukan karena sedang terpesona dengan ketampanan yang dimiliki oleh pri di hadapannya sekarang. Melainkan tidak menyangka jika pria ini benar-benar sangat kejam kepada dirinya.
__ADS_1
Matanya terasa panas dan perlahan buliran bening yang ia coba tahan, akhirnya pun mengalir begitu saja tanpa bisa dihentikan.
"Ternyata sebegitu bencinya kamu sama aku, Kak?" tanya Ara dengan suara yang lirih. Lalu kemudian gadis itu mengangguk lemah. "Baiklah, aku paham sekarang," lanjut Ara yang salah paham dengan ucapan Ryu barusan.