Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Pengantin Usang


__ADS_3

Bab. 49


Pagi harinya Ara segera bersiap untuk berangkat sekolah. Gadis itu keluar dari.kamarnya dan menuruni anakan tangga melewati ruang makan tanpa berniat untuk bergabung dengan keluarganya. Di mana mereka tampak tengah menikmati kopi hitam sebelum sarapan. Kecuali mama Yuan yang tidak terbiasa minum kopi.


Mama Yuan menyadari Ara yang melewati mereka begitu saja. Membuat wanita paruh baya tersebut mengerutkan keningnya. Ada apa dengan putrinya.


"Ara ... sarapan dulu, Sayang," ujar mama Yuan di kala Ara akan keluar lewat pintu samping yang menghubungkan dapur dengan garasi di bagian samping rumah.


Ara menoleh dengan raut wajah yang tidak seceria sebelumnya. Kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya ke arah mama Yuan.


"Ara langsung berangkat aja, Ma. Ada tugas yang belum selesai Ara kerjakan," balas Ara yang tentu saja berbohong kepada mama Yuan.


Karena alasan utamanya ialah ia tidak ingin bertemu dengan kakak angkatnya itu. Untuk sementara Ara ingin menghindari pria itu. Dan kalau bisa Ara tidak pernah bertemu dengannya sampai pria yang mengaku menikahinya itu datang dan menjemput dirinya. Meskipun membayangkan momen itu akan segera datang, membuat Ara semakin merasa berat meninggalkan kedua orang tua yang sudah membesarkan dan juga menyayangi dirinya selama ini.

__ADS_1


Namun, jika ia berada di sini terus, maka Ara takut mempunyai rasa yang tak seharusnya Ara miliki kepada Ryu. Lebih lagi pria mesum itu selalu melakukan hal di luar nalarnya.


"Nanti kamu sakit kalau nggak makan dulu, Ra," sahut papa Rio yang juga ikut angkat bicara. Pria paruh baya yang tengah memangku sebuah itu menatap ke arah Ara.


Memang dasarnya Ara sebenarnya anak yang sedikit keras kepala, gadis itu tetap menggelengkan kepalanya lalu kemudian pamit berangkat ke sekolah. Tidak lupa Ara kembali untuk mencium tangan mama Yuan dan papa Rio. Tanpa menatap ke arah Ryu barang sedikit saja.


"Ara berangkat Ma, Pa," pamit Ara yang kemudian melangkah keluar lalu memakai sepatunya. Mengambil kunci motor kesayangannya dan tidak ketinggalan Ara mengenakan helm serta jaket yang tadi ia sampirkan di lengannya.


Sementara di ruang makan, mama Yuan menatap tajam ke arah putra nya yang tampak terlihat tenang. Padahal jelas-jelas tatapan Ara tadi tidak mengarah ke arah Ryu sedikit pun. Bahkan Ara juga tidak berpamitan pada Ryu.


Sementara Ryu merasa resah sebenarnya ketika melihat Ara keluar dan malah langsung menuju ke garasi. Bukan mengarah ke ruang makan lebih dulu. Namun, tidak mungkin Ryu mengatakan jika ia mencium Ara lagi. Karena semalam pria itu tidak langsung segera beranjak dari tubuh Ara di kala gadis itu terbangun.


Namun Ryu justru menekan dan mengunci kedua tangan Ara untuk kemudian menikmati bibir yang kali ini terasa sambel terasi nya lebih dominan dari pada rasa manis seperti sebelumnya. Namun tetap terasa lezat bagi pria yang bisa dibilang sudah kecanduan akan racun dari bibir Ara.

__ADS_1


"Nggak ada," jawab Ryu berusaha tetap tenang. Agar tidak terlihat jika dirinya sedang berbohong.


Plak!


"Mama yang lahirin kamu, Ryu! Jangan kira kamu bisa bohongin Mama!" tekan mama Yuan seraya memukul lengan Ryu dengan sangat keras. Membuat pria muda itu terjingkat kaget, karena tidak menyangka jika mamanya akan melakukan KDRT seperti ini kepada dirinya. "Walaupun Ara nggak makan nasi kalau pagi, tapi gadis itu nggak pernah melewatkan sarapan bersama kita sebelumnya. Tapi kenapa pas kamu udah pulang, selalu aja ada kejadian seperti ini. Jujur, nggak!"


Mama Yuan melayangkan pukulan demi pukulan kepada Ryu hingga pada akhirnya Ryu mengaku.


"Iya iya, Ma. Ryu bakalan ngaku, tapi ini bukan salah Ryu sepenuhnya," ucap pria itu membuat mama Yuan menghentikan tindakannya. Sedangkan papa Rio berusaha untuk mencegah mama Yuan ketika istrinya itu akan memberi pukulan lagi kepada Ryu.


"Sayang ... udah. Kita belum punya cucu. Jangan kamu bikin cacat anakmu dulu," ingat papa Rio membuat Ryu mendelikkan matanya.


"Ck! Bisa-bisanya Papa bilang kayak gitu," sahut Ryu begitu kesal dengan ucapan papanya yang seperti sedang menyumpahi dirinya.

__ADS_1


"Diem. Papa tuh sedang bantu kamu," balas papa Rio sembari berusaha menyuruh mama Yuan duduk. Bukan ke kursi yang ada di sebelahnya, melainkan di atas pangkuannya. Tanpa rasa malu sedikit pun, papa Rio malah melingkarkan tangannya ke perut istrinya.


__ADS_2