
Bab. 67
Tidak ingin membuat otaknya semakin mengarah ke hal yang selama ini berada di dalam imajinasinya, Ryu memutuskan untuk melanjutkan mengendarai motor matic yang membuat kakinya begitu tidak nyaman sebenarnya. Namun, pria itu berusaha menahan demi bisa mengantar Ara.
Di tambah lagi pernyataan Ara tadi ternyata banyak juga cowok yang menyukai istri nya itu. Tentu saja mereka jelas memandang fisik. Ryu juga tidak memungkiri jika dirinya merupakan salah satu pria yang memandang fisik pada Ara. Selain dari sikap dan sifat gadis itu yang sangat ajaib rupanya.
"Jangan main ponsel terus. Mau lulus apa mau jadi seorang ibu?" tegur Ryu ketika ia sibuk menjelaskan pertanyaan yang Ara kurang pahami, tetapi gadis itu justru tampak asik memainkan ponselnya. Entah sedang berbalas pesan atau sedang bermain game.
Ara memyebikan bibirnya. "Bisa nggak sih bercandanya selain itu, Kak? Ngeri banget kedengarannya," protes Ara yang kemudian menaruh ponselnya di atas meja lalu kembali fokus pada soalan yang ada di tangannya saat ini.
"Enggak ngeri kalau langsung dipraktekin," balas Ryu seraya mengangkat sebelah alisnya. Langsung mendapat lirikan malas dari Ara.
Ryu sengaja memilih tempat yang agak sepi. Bukan berada di depan bangunan cafe, melainkan di sebelah bangunan cafe sedikit ke belakang. Di samping meja mereka saat ini terdapat kolam ikan.
"Kamu soal kayak gini aja nggak bisa?" tanya Ryu menunjuk salah satu soal yang Ara lompati. Sedangkan yang lain sudah ada jawabannya.
Ara melihat soal yang dimaksud oleh Ryu. "Bisa sih. Cuma emang sengaja nggak aku isi. Kasian yang lain kalau sampai aku isi semua," balas Ara memberi alasan mengenai pertanyaan Ryu. Membuat pria itu membelalakkan matanya. Lagi lagi cara berpikir Ara memang selalu di luar prediksi Bumikage.
"Harusnya kan lebih bagus, Ra, kalau kamu jawab semua. Buat nambahin nilai kamu dan nggak khawatir jika dikejar sama yang lain," ingat Ryu agar Ara mengubah cara berpikir nya yang selalu berhasil mmbuat dirinya tercengang. Tidak menyangka dan tidak pernah ada dalam dugaan dirinya.
Ara menggelengkan kepala. "Nggak perlu, Kak. Nanti para guru malah sayangnya ke aku. Aku nggak mau jadi kesayangannya mereka. Udah pada tua semua. Aku nggak suka." balas Ara.
__ADS_1
Memang seharusnya Ryu menambah stok sabarnya jika menghadapi istrinya ini.
"Terserah kamu aja sudah. Yang penting harus jaga diri, jangan deket-deket sama cowok lain. Nggak boleh genit apa lagi tebar pesona. Ingat kamu udah punya suami dan suamimu sangat tampan dan kaya. Jadi jangan aneh-aneh," ucap Ryu menatap serius. Mengingatkan Ara mengenai batasan gadis itu kepada pria lain.
Bukannya di dengar dengan cermat, Ara malah menggerakkan bibirnya. Seolah mengikuti cara bicara Ryu tetapi tanpa suara.
Ryu menahan rasa gemasnya pada gadis berseragam SMA ini. Bisa-bisanya dia malah berekspresi seperti ini.
"Paham nggak, Yaang?" ulang Ryu memastikan istri nya itu mengerti apa tidak mengenai ucapannya barusan.
Ara mengangguk tanpa menatap ke arah Ryu. Gadis itu menenggelamkan fokusnya pada soal di lembaran yang ada di tangannya.
Ryu memperhatikan wajah Ara yang terlihat fokus seperti sekarang. Tidak ada raut menyebalkan dan juga jahil lagi. Ara terlihat begitu cantik dan juga anggun. Kalau saja tidak memakai seragam, mungkin Ara disangka seorang wanita kantoran yang memiliki wajah begitu imut.
Mumpung mempunyai kesempatan yang sangat langka dan Ara tampan tenang serta jinak, tidak lagi penuh drama. Ryu pun mengeluarkan ponselnya dan diam-diam pria itu mengarahkan kamera yang ada di ponselnya ke arah Ara. Mengambil gambar Ara tampa ijin terlebih dulu.
Lalu ia juga menggantinya dengan kamera depan yang ia arahkan kepada dirinya. Menghadap tepat ke arah kamera, sedangkan di belakangnya terlihat Ara yang masih belum menyadari. Ryu langsung saja mengambil gambar mereka berdua beberapa kali.
"Cantik," gumamnya lirih ketika melihat hasil jepretannya satu per satu.
"Dari dulu aku sudah cantik. Baru sadar?" sahut Ara.
__ADS_1
Terlihat gadis itu tengah merapikan lembaran lembaran soal ujian tahun lalu yang ia dapat dari papa Rio serta ulangan-ulangan pada bulan sebelumnya.
"Kalau mau ambil fotoku, nggak usah gengsi, Kak. Tinggal bilang aja, susah amat jaga image mulu," ucap Ara menyindir Ryu yang mengambil foto nya secara diam-diam. "Kenapa? Aku cantik banget ya? Sampai-sampai Kak Ryu ambil fotoku diam-diam," tanya Ara sembari memainkan alisnya.
Ryu hanya tersenyum. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, pria itu mendekatkan kursinya lalu merangkul bahu Ara dan menempelkan wajah mereka. Serta tidak lupa mengarahkan ponselnya ke arah mereka.
"Kalau begitu aku ambil secara terang-terangan," ucap Ryu. Membuat Ara terkejut hingga menoleh ke samping.
Tentu saja Ryu tidak melewatkan kesempatan yang datang kepada dirinya. Pria itu langsung saja menyambar bibir Ara yang seolah menghampirinya. Tidak lupa jari jempolnya menekan sebuah tombol lingkaran besar yang berada di tengah bawah layar ponselnya beberapa kali. Memanfaatkan rasa keterkejutan Ara yang diam membeku di posisinya sekarang ini.
"Iihhhh ... Om mesuuuumm!" pekik Ara ketika sadar dengan apa yang barusan ia alami. Bisa-bisanya terlena oleh sesuatu yang masih ngerasa asing baginya. Meskipun ini bukan kali pertamanya Ryu mencium dirinya.
Sementara sang pelaku tertawa penuh kemenangan. Karena mendapatkan pose yang begitu bagus dan sangat langka. Langsung saja pria itu memilih salah satu foto saat mereka berciuman, lalu mengunggahnya di media sosial miliknya. Tentu Ryu memilih posisi Ara yang sedikit membelakangi kamera. Hingga yang terlihat jelas hanya wajah Ryu yang tengah mencium seorang gadis berseragam SMA.
"Udah," tunjuk Ryu memperlihatkan layar ponselnya ke arah Ara. Terlihat di bawah foto mereka bertuliskan caption My Angel, My Wife, My World.
"Kak Ryuuuuuu!" pekik Ara dengan suara begitu melengking. Sangat malu sekali dengan foto yang fi unggah oleh Ryu. Terlebih lagi captionnya.
"Apa Sayang," goda Ryu dengan nada begitu lembut. Bukan bukan. Lebih tepatnya meledek.
"Hapus!" perintah Ara.
__ADS_1
Ryu menggeleng sreaya berdiri dan membawakan tas istrinya.
"Nggak. Ini unggahan pertamaku dalam sepuluh tahun terakhir," ujar Ryu. Lagi lagi membuat Ara menganga tidak percaya. "Para fansku pasti menunggu unggahan cowok paling tampan selama ini." lanjut Ryu seraya mengedipkan sebelah matanya. Lalu menggenggam tangan Ara dan mengajaknya keluar dari cafe tersebut. Karena jam sekolah hampir dimulai.