
Bab. 56
Ara mengerjapkan matanya di saat mendengar suara seseorang yang sangat dia kenali. Sayu-sayu matanya menangkap sosok yang menghadap ke arah jendela dengan ponsel di tempelkan di telinga. Sepertinya orang itu tengah berbicara dengan seseorang di seberang sana.
"Ya. Kamu beresin semua barang-barangku yang ada di sana. Berkas apapun itu. Langsung kamu bawa pulang ke sini. Biarkan Om Jinan yang mengurus semua di sana. Ya. Kamu juga ikut ke sini. Kita ke perusahaan induk. Gantikan Papa. Iya. Kalah bisa minggu ini sudah harus pindah. Tenang aja, ada apartemen milikku yang nganggur. Nggak perlu beli rumah. Oke. Aku tunggu," ucap Ryu yang kemudian menutup sambungan teleponnya dengan seseorang tersebut.
Sementara itu Ara yang merasakan perutnya sedikit nyeri, gadis itu mendesis sakit di saat ingin duduk dan turun dari ranjang. Karena ingin pergi ke kamar mandi. Menuntaskan apa yang ingin ia keluarkan saat ini.
Akan tetapi belum sampai kakinya menyentuh lantai, tiba-tiba saja ada sepasang tangan yang memegangi lengannya.
"Mau ke mana?" tanya Ryu dengan raut khawatir. Lebih lagi di saat melihat wajah pucat Ara.
"Toilet," jawab Ara singkat.
Gadis itu masih sangat kesal dengan sikap Ryu yang begitu mudahnya menyentuh dirinya. Sedangkan ia selama ini mencoba menjaga jarak. Ara pun mendorong tangan Ryu agar tidak menyentuh lengannya. Karena ia merasa kurang nyaman. Bukan fisiknya, melainkan hatinya.
__ADS_1
Takut kalau sampai ia oleng dengan sikap Ryu yang sedikit melebihi batas sebagai kakak angkatnya. Jadi, walau sebutuh apapun Ara, kalau bisa bukan Ryu yang menolong dirinya. Itulah harapan Ara.
Ryu yang seolah paham dengan permintaan Ara, pria itu pun menjauhkan tangannya dari istrinya sendiri. Meski tidak tega melihatnya bersusah payah ingin turun dari ranjang pasien, akan tetapi Ryu tidak mau gegabah dan mengulang kesalahannya. Yang ada dirinya malah semakin dibenci oleh Ara.
"Pelan-pelan," ucap Ryu ketika Ara langsung berdiri.
Tentu saja terasa pusing. Oleh karena itu Ryu siap siaga berdiri di belakang Ara. Menjaga istrinya kalau saja hilang keseimbangan. Karena Ara tidak menginginkan dirinya menyentuhnya.
Ara diam. Tidak menghiraukan apa yang dilakukan oleh pria di belakangnya. Karena perutnya lebih penting saat ini.
'Ck! Kenapa lo malah bikin ulah sih, Ra. Kagak ingat apa minggu depan lo itu ujian. Malah make ngeracun diri sendiri.' rutuk Ara di dalam hati. Menyalahkan dirinya sendiri yang berpikiran sangat sempit.
Tidak ada percakapan di antara mereka hingga Ara masuk ke kamar mandi. Tentu saja infus yang terpasang pun membuat Ara sedikit kesulitan. Bagaimana bisa dirinya membuang hajat nya, jika tangannya di infus seperti ini. Sementara kantung cairan infus tengah dibawa oleh Ryu.
"Kenapa?" tanya Ryu di saat Ara tidak kunjung menutup pintunya.
__ADS_1
Ara menatap Ryu dengan wajah pucatnya. "Nggak ada cantolannya di sini," ujar Ara memberitahu.
Membuat Ryu masuk dan melihat ke dalam. Memang tidak ada cantolan yang berukuran kecil hingga muat di lubang kantong khusus pengait di ujung. Adanya printilan buat baju. Di mana ukurannya hampir sebesar jari Ara.
"Nggak muat kalau di sini," gumam Ryu mengamati printilan dari bahan plastik yang menempel di dinding.
Sedangkan Ara mendesis sakit, tidak bisa lagi bisa menahan rasa ingin buang air kecilnya.
Ryu yang tiba-tiba saja gugup pun melangkah keluar dan berdiri di ambang pintu.
"Aku pegangin. Tutup sedikit aja pintunya," ucap Ryu yang kemudian berdiri membelakangi Ara.
Ara memicingkan matanya. Ingin protes, namun keadaan yang memaksa menurut.
"Jangan ngintip!" ingat gadis itu waspada.
__ADS_1
'Kalaupun gue ngintip juga nggak bakalan dosa.' sahut Ryu di dalam hati.
Ara pun melakukan apa yang ingin dia lakukan di dalam sana. Tanpa tahu detak jantung Ryu berdebar begitu cepat di kala otak mesumnya membayangkan sesuatu.