Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Pesona Ara


__ADS_3

Bab.46


Sesampainya di tempat yang diminta oleh Ara, Ryu segera keluar dsn memesan dua porsi untuk mereka berdua. Tentu di makan di sana.


Ryu pikir Ara akan mengikuti dirinya. Namun ternyata salah. Gadis itu terlihat tetap berada di dalam mobil dengan pintu yang di buka.


Ryu menghela napasnya lalu kembali menghampiri Ara. "Kenapa nggak turun?" tanya Ryu sembari menahan rasa gemasnya.


Sementara Ara yang mengotak ngatik lagu di dalam mobil, menoleh ke arah Ryu dengan ekspresi kaget.


"Ngapain?" balas gadis itu yang malah bertanya balik kepada Ryu. "Mau aku dilihatin bapak-bapak yang ada di sana," tunjuk Ara ke arah perkumpulan bapak-bapak yang berada di sisi kanan warung tenda makanan tersebut.


Ryu mengikuti arah yang ditunjuk oleh Ara. "Ya kenapa memangnya, Ra. Kan mereka juga makan. Lagian juga nggak akan berkurang kan kalau cuma dilihatin doang," ujar Ryu yang masih belum paham maksud Ara.


"Beneran nggak apa?" tanya Ara memastikan ulang.


Meskipun kurang nyaman jika makan dilihatin orang di sekitarnya, namun karena ada Ryu di sini mungkin Ara bisa sedikit tenang. Pasti kakak angkatnya tersebut masih sama seperti dulu. Walaupun tinggal secuil. Di mana pria itu akan menjaga dirinya dari orang yang ingin berbuat tidak-tidak. Bahkan jika itu melalui pandangan matanya saja.

__ADS_1


Ryu mengangguk. "Ada aku," ucap Ryu sok tenang. Tidak tahu saja jika pesona Ara sungguh membahayakan. Terlebih lagi saat ini gadis itu tengah mengenakan pakaian yang terbilang menggoda secara halus.


"Baiklah, karena ada Kak Ryu, kita makan di sana," ujar Ara.


Kemudian gadis itu menyibakkan jaket Ryu yang sedari tadi menutupi pahanya lalu dengan perlahan keluar dari mobil.


Belum juga Ara melangkah, ada beberapa anak muda yang nongkrong di sebelah tenda pecek lele yang Ryu pesan tadi, juga bapak-bapak yang tengah makan di sana, mereka semua menatap ke arah Ara dengan tatapan begitu kagum. Bukan bukan, bukan hanya sekedar kagum di kala tatapan mereka mengarah ke bawah, lalu ke atas lagi. Membuat Ara langsung bersembunyi di balik tubuh Ryu dan memegang ujung kaos pria di depannya ini.


Sementara itu Ryu yabg baru tersadar mengenai tatapan kurang ajar dari para pria itu, lantas langsung menutupi Ara sepenuhnya dan mendorong gadis itu untuk masuk kembali ke dalam mobil.


"Sudah Ara bilang, kan? Mending Ara makan di sini aja. Kalau Kak Ryu nggak nyaman, Kak Ryu makan di sana. Nggak apa-apa, kok," ujar Ara.


"Jika udah tau konsekuensi nya kayak gini, kenapa masih make baju kurang bahan kayak gitu!" erang Ryu yang merasa begitu kesal pada beberapa orang yang masih menatapi Ara. Padahal ia sudah berdiri di depan pintu dan menghalangi Ara agar tidak terlihat oleh mata keranjang mereka.


"Kan aku udah bilang, seka—"


"Mulai besok, kalau keluar rumah nggak boleh makai baju pendek-pendek kayak gini!" potong Ryu cepat dengan tatapan begitu tajam. Napas pria itu juga tidak beraturan. Seolah tengah menahan emosi yang begitu dalam.

__ADS_1


Ara heran dengan perubahan Ryu. Akan tetapi gadis itu mengangguk begitu saja.


Di saat ingin melayangkan protes, terdengar suara panggilan dari penjual pecek lele yang Ryu pesan tadi.


"Mas! Udah jadi. Mau makan di sini atau di mobil?" teriak penjual itu.


Ryu mengatur napasnya terlebih dulu agar terlihat tenang, lalu berjalan ke arah tenda.


Sesampainya di depan abang penjual pecel lele, Ryu mendapat wejangan dari penjual tersebut.


"Istrinya jangan di ajak keluar, Mas. Mending makan di dalam mobil aja. Biasa, kalau udah malam kayak gini, banyak bukanya, kadal, dan curut yang keluar. Suka nongkrong nya di sana," bisik abang penjual itu yang memang mengenali Ara.


"Istri?" ulang Ryu sedikit heran. Kenapa bisa abang penjual ini tahu hubungannya dengan Ara.


Abang penjual pecek lele tersebut mengangguk.


"Neng Ara tuh langganan di sini, Mas. Dia pernah bilang jika udah punya suami, pas ada yang ngegodain Neng Ara. Padahal waktu itu Neng Ara cuma antri di bungkus, nggak di makan di sini. Tapi udah banyak kadal yang deketin dia," jelas penjual tersebut. "Mas suaminya, kan?" tanya abang itu lagi.

__ADS_1


Ryu mengangguk, membenarkan tebakan abang pecek lele itu sembari menerima dua porsi pecek lele yang dia pesan.


"Biar dibantu sama istri saya, Mas. Ingat, kalau malam jangan biarkan Neng Ara keluar sendiri. Bahaya kalau istri secantik itu keluar tanpa pengamanan," ingat penjual pecek Lele itu lagi.


__ADS_2