
Bab. 63
"Udahlah, Mas. Ini beneran anak kamu. Bukan anakku. Aku nggak punya anak yang nggak peka sama sekali pada perempuan," ujar mama Yuan menahan gemasnya pada putranya sendiri.
Bisa-bisanya Ryu memiliki pemikiran seperti itu dan sangat sangat tidak romantis sekali dalam penyampaian mengenai statusnya atas Ara.
Helaan napas berat sering kali mama Yuan hembuskan. Sementara papa Rio juga menggelengkan kepalanya. Entah, menurun siapa sifat Ryu yang seperti ini. Padahal dirinya juga tidak separah Ryu, meskipun mereka sama-sama memiliki sikap yang sangat cuek.
"Mungkin usia Mama terlalu muda waktu itu pas lahirin Ryu. Makanya sampai lupa kayak gini," sahut Ryu yang tidak terima jika mamanya berkata seperti itu.
"Haish!" kesal mama Yuan yang langsung melempar bantal sofa ke arah Ryu.
"Pemilihan waktu dan tempat yang salah, Ryu. Seharusnya kamu ajak dia makan di luar atau pas momen apa gitu. Pas ajak di taman atau apa. Kalau bisa sih ya langsung di hotel aj—akh!"
__ADS_1
Papa Rio mendapat pukulan di lengan dengan begiru keras dari istrinya sendiri.
"Jangan bicara yang enggak-enggak, Mas! Meskipun Ara istrinya, tapi dia masih sekolah!" geram mama Yuan kepada dua prianya ini. Kenapa sikap mereka sama-sama menyebalkan dan pikirannya selalu kotor.
Papa Rio meringis. "Ya lagian salahnya Ryu, Yaang. Hal kecil gitu aja nggak ngerti," sahut papa Rio memberi pembenaran mengenai sikapnya. "Papa jadi ragu padamu, Ryu. Kamu di asuh sama Jinan dan Papa sangat tau betul tabjay dia seperti apa. Juga segala prestasi yang selama ini melekat pada pria itu. Terus kata Mama juga kamu dekat sama cewek sana. Benar? Terus kamu ngapain aja selama ini kalau urusan seperti ini saja nggak ngerti? Hmm?" tanya Ryu kepada putra semata wayangnya tersebut.
Pria paruh baya itu tentu saja meragukan Ryu. Apakah dia berada di jalan yang benar atau belok. Atau jangan-jangan sikapnya kepada Ara kemarin kemarin itu hanyalah sebuah tipuan semata.
Padahal perawakannya juga tidak kalah dari papa Rio dulu. Bahkan lebih terlihat gagah. Dari segi wajah juga Ryu terlihat cool.
"Bukan begitu. Papa hanya nggak nyangka kalau kamu kayak gini saja nggak paham-paham. Meskipun kaum mereka susah untuk di pahami, tapi cobalah belajar memahaminya, Ryu. Bahkan anak SMA saja tau cara membuat pasangan mereka terkesan dan langsung jatuh hati padanya. Masa kamu kalah. Ck! Malu sama gelar dan posisimu, Boy!" ujar papa Rio.
Membuat Ryu mengangguk beberapa kali. Lalu pria itu berdiri membuat kedua orang tuanya menatap heran.
__ADS_1
"Oke! Karena kalian yang meragukan Ryu. Bakalan Ryu buktikan kalau Ryu bukan pel4ngi," ucap Ryu begitu tegas.
"Kamu mau apa?" tanya mama Yuan sedikit penasaran.
"Mau hamilin menantunya Mama!" jawab Ryu sembari melangkah pergi dari ruang tengah tersebut. Meninggalkan dua orang paruh baya yang sebentar lagi pasti akan murka kepadanya.
"Ryu! Jangan sembarangan, kamu!" teriak mama Yuan dengan suara melengking keras.
Sampai-sampai teriakan mama Yuan tersebut terdengar dari kamar Ara. Membuat gadis itu tersentak kaget dengan suara mamanya.
"Tumben Mama teriak kayak gitu?" gumam Ara. "Ada apa, ya?"
Ara sangat penasaran sekaligus khawatir dengan keadaan mamanya. Hingga kemudian gadis itu berencana untuk keluar dari kamar sekalian mengembalikan piring bekas buah ke dapur.
__ADS_1