Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Harga Yang Sesuai


__ADS_3

Bab. 87


Akhirnya ujian selama empat hari itu selesai juga. Hari ini merupakan hari terakhir dan Ara ingin merayakannya dengan pergi ke cafe bersama dengan Citra dan para teman-temannya yang lain. Karena ingin memberi relaksasi pada otak mereka yang sudah berjuang keras selama empat hari ini.


"Jadi ketemunya di sana, ya!" ujar Ara kepada teman-temannya ketika mereka baru keluar kelas.


"Lo yang traktir kan, Ra?" tanya Bagus memastikan ulang. Di mana pertanyaan Bagus itu mendapat sorakan dari beberapa teman yang lain.


"Yeeee ... namanya aja bagus. Tapi melakukan minta gratisan mulu!" timpal teman kelas yang lain seraya meneriaki Bagus.


Bukanya tersinggung disindir seperti itu karena memang pada faktanya seperti itu.


"Ya kan lumayan kalau di traktir. Kalau ada yang gratisan, ngapain bayar? Hidup udah ribet, jangan diperibet lagi," balas Bagus dengan senyum penuh rasa bangga.


Ara tersenyum melihat mereka yang malah saling melempar candaan.


"Tenang aja. Sepuas lo pada udah. Ntar ada CEO yang bayarin kalian!" teriak Ara sembari menarik kedua telapak nya di sekitaran mulut.


"What! CEO?" ulang Bagus dan beberapa teman kelasnya itu.


Ara mengangguk mantap dengan tatapan polosnya. "Iya. Kenapa memangnya?" tanya Ara yang semakin membuat teman kelasnya menggelengkan kepala. Bingung sendiri mau mengatakan apa. Mereka cukup terkejut dengan apa yang mereka dengar barusan.


"Ini telinga kita yang bermasalah atau memang lo bilang kalau yang bayar itu CEO? Bener kan, Ra? CEO mana? Bokap lo?" tanya salah satu di antara teman kelasnya yang tidak bisa membendung rasa penasaran orang itu.


"Bukan Papa gue. Tapi ..."


Tiba-tiba saja Ara menghentikan kalimatnya di saat menyadari jika di antara teman kelasnya tidak ada yang tahu jika dirinya sudah menikah dengan calon CEO.


"Siapa, Ra? Pacar lo?" tebak salah satu dari mereka. Lalu teman-temannya yang perempuan langsung menutup mulut mereka di kala melihat Ara yang malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gila! Belum lulus aja udah pacarannya sama CEO!" seru mereka.


"Nggak heran sih, gue. Selain Ara punya modal buat gaet para konglomerat itu, keluarga dia juga circlenya kan yang begituan semua. Meski gue masih kaget juga. Hebat lo emang, Ra. Manfaatin tuh modal yang dikasih ke lo tanpa syarat," ujar seorang gadis yang begitu kagum pada Ara.


"Dih! Habis muja, ujung-ujungnya juga pasti minta gratisan!" cibir yang lain dengan suara begitu riuh.


Ara pun kemudian pamit dan nanti bakalan ketemuan di cafe jam tujuh malam. Seperti biasa, cafe Biru yang memang sangat nyaman sekali jika dibuat nongkrong kaum anak muda seperti mereka.


Citra segera mengikuti langkah kaki Ara. Menyamai langkah sahabatnya tersebut.


"Lo mau kuliah di mana setelah ini?" tanya Citra tanpa membahas pertemuan mereka nanti di cafe.


Ara menghentikan langkah kakinya. Ia tahu betul bagaimana kondisi Citra. Terutapa pada keuangan gadis ini.


Ara menepuk bahu Citra dengan senyuman yang terukir di bibir manis wanita itu.


"Lo tenang aja. Gue udah berusaha semaksimal mungkin buat dapatin beasiswa yang nantinya lo pakai. Liat aja dulu kampus mana aja nanti yang bisa. Belum bosen kan kalau bareng sama gue empat tahun lagi? Hmm?" tanya Ara.

__ADS_1


Citra terdiam. Menatap sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca. Meskipun ia juga bisa mendapatkan nilai yang memuaskan dan juga mendapat beasiswa sendiri. Namun Citra tidak menyangka kalau Ara juga berbuat seperti ini demi dirinya.


Sontak, gadis itu langsung berhambur memeluk Ara dengan begitu erat.


"Makasih, Bestoy!" seru Citra yang tidak bisa lagi menahan rasa haru.


Ara menepuk bahu Citra agar gadis itu tidak terlalu emosional. Karena memang ini merupakan inginnya sendiri.


***


Ara terlihat begitu sibuk memoleskan cream lalu bedak padat di wajahnya. Tidak lupa juga memakai perona pipi serta pewarna bibir dengan warna yang terlihat smoth. Membuat Ryu yang sedari tadi menunggu istrinya selesai itu menatap curiga. Perasaan ia tidak mengajak Ara keluar malam ini. Namun kenapa wanita itu malah terlihat mempercantik diri serta baju yang dipakai juga sedikit formal.


"Mau kemana, Yaang? Tumbenan banget makai perona pipi saat di rumah?" tanya Ryu yang mendekat ke arah Ara.


Ara yang baru selesai dengan kesemuanya pun menoleh ke belakang, di mana suaminya itu berdiri tepat di belakang dirinya.


"Memangnya aku belum bilang sama kamu ya, Kak?" wanita itu malah balik bertanya kepada Ryu.


Ryu mengangkat alisnya lalu menggeser tubuh Ara agar memberinya tempat untuk duduk di sana. Karena merasa tidak nyaman sebab kurang panjang, akhirnya Ara berdiri dan berpindah ke pangkuan suaminya tanpa di suruh.


"Nah, begini lebih nyaman," ucap Ara sembari tersenyum manis ke arah Ryu.


"Hmmm ... udah berani godain aku nih ceritanya," balas Ryu mencolek dagu Ara.


"Enggak. Aku cuma nyari tempat yang nyaman doang, Kak. Sama sekali nggak niat banget godain kamu. Orang nggak digoda aja masih suka kelewat batas. Apa lagi kalau di pancing. Bisa-bisa aku nggak bisa duduk," cerocos Ara membuat Ryu tertawa mendengarnya.


Kemudian pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Ara serta di balas dengan pelukan di leher oleh wanita yang sudah berani mengekspresikan sikapnya terhadap dirinya.


"Mau kemana memangnya dandan cantik banget kayak gini? Hmm? Nggak mungkin kan kalau kamu cuma niat rebahan di rumah," tanya Ryu ingat dengan pertanyaan yang tertundanya tersebut.


Ara tidak langsung menjawab. Wanita itu terlihat memainkan alis Ryu yang tebal dan tertata rapi. Membuatnya begitu iri, karena miliknya lebih tipis daripada milik Ryu.


"Harusnya yang kayak gini itu milikku, bukan milikmu, Kak," ujar Ara yang malah membahas alis.


Ryu tersenyum ketika Ara memayunkan bibirnya ke depan.


"Pingin yang kayak gini?" tanya Ryu penuh jebakan.


Ara langsung mengangguk tanpa berpikir panjang.


"He'em. Biar nggak perlu makai pensil alis lagi, Kak. Nggak perlu ngerapihin juga," balas Ara masih belum curiga mengenai maksud dari suaminya.


Ryu semakin mengeratkan tangannya di pinggang Ara. Lalu mengecup bibir yang terlihat sedikit merah itu.


Cup!


"Mau buat satu apa dua langsung?" kali ini pertanyaan Ryu sedikit terdengar jelas jika pria ini memiliki maksud tertentu.

__ADS_1


Ara mengerutkan kening. Mencernanya terlebih dulu sebelum masuk jebakan suami mesumnya ini. Dan ketika Ara paham dengan maksud Ryu, wanita itu langsung memukul bahu suami mesumnya.


"Apaan sih, Kak. Udah dibilang aku nggak mau punya anak dulu," protes Ara sedikit kesal.


"Lah, kan katanya pingin punya alis kayak punyaku. Ya dengan cara itu tuh bisanya," balas Ryu terkekeh gemas.


Bukan karena benar-benar tidak memiliki anak. Pingin banget malah. Siapa juga yang tidak gemas dengan anak kecil yang bisa ia buat mainan nanti. Namun, Ara masih belum siap saja. Ia sadar jika mengurus dirinya sendiri saja belum becus, di tambah lagi juga masih belajar dalam melayani Ryu. Bukan hanya untuk urusan ranjang, melainkan kesemuanya. Ara masih perlu banyak belajar.


Apa lagi kalau mengurus anak. Ara takut kalau sampai nanti anaknya terlantar hanya karena dirinya belum bisa membagi waktu serta belum belajar mengenai pemahaman merawat seorang bayi. Hanya itu yang Ara takutkan. Belum lagi ia juga harus mewujudkan mimpinya yang ingin menjadi designer ternama.


"Nggak jadi pingin deh kalau yang itu," ujar Ara.


Wajah Ryu langsung berubah. Tidak seceria seperti tadi. Membuat Ara cepat-cepat menjelaskan mengenai pemikirannya agar suaminya ini tidak salah paham.


"Kamu ngerti maksudku kan, Kak?" tanyanya setelah menjelaskan semua itu kepada Ryu.


Awalnya Ryu memaksa dan mengatakan kalau dirinya siap membantu serta akan menggaji seseorang untuk menjadi baby sitter anaknya kelak. Namun, Ara menolak dan ingin merawatnya sendiri jikalau mereka punya anak nantinya. Tetapi tidak untuk sekarang ini.


"Lagi pula kita musti harus belajar untuk memperdalam perasaan di antara kita kan, Kak. Jadi, jalani aja dulu kayak gini. Anggap aja kita masih pacaran. Hmm?" ucap Ara lagi mencoba meyakinkan Ryu untuk tidak terlalu terburu buru dalam mengambil tindakan.


"Tapi aku takut kalau kamu nanti kecantol sama temen kamu di kampus, Yaang." akhirnya Ryu mengatakan alasan yang sebenarnya di balik kegelisahannya selama ini.


Ara menghela napas berat. Belum apa-apa ternyata suami nya ini sudah main cemburu saja.


"Secinta itu ya kamu sama aku, Kak?" goda Ara dengan tatapan menyipit.


Ryu yang gemas pun langsung menggelitik pinggang Ara.


"Banget banget banget! Karena aku nggak rela kamu didekati pria lain, bahkan dilirik pun bakalan aku congkel itu mata cowok yang liatin kamu, Yaang!"


Ara cukup ngeri mendengar ancaman Ryu yang masih semu tersebut.


"Oya, Kak. Aku boleh pergi nggak malam ini?" ijin Ara yang tersadar jika dirinya harus segera pergi ke Cafe Biru. Karena sekarang ini teman-temannya pasti sudah menunggu dirinya.


Ryu menghentikan tangannya. "Kemana?" tanya pria itu menatap menyelidik.


"Ke cafe Biru," jawab Ara dengan suara lirih.


"Nggak boleh!" tolak Ryu cepat.


"Sebentar doang loh, Kak. Ini tuh pertemuan terakhir aku sama temen-temen sebelum lulusan nanti. Aku udah undang mereka semua loh!" mohon Ara.


Ryu semakin menjauhkan wajahnya dari Ara.


"Oh ... jadi kamu dandan kayak gini tuh karena mau ke cafe?" Ara pun mengangguk jujur. "Kalau begitu aku ikut." tegas Ryu.


"Nggak masalah. Boleh aja. Kan nanti Kak Ryu yang bayar!" balas Ara begitu enteng tanpa beban sama sekali.

__ADS_1


Ryu sudah menduga ini. "Boleh. Asal aku hapus riasan kamu ini dulu," ucap Ryu yang langsung menggendong Ara dan melemparnya di kasur. Membuat wanita nya itu memekik dan mendesah di saat yang bersamaan ketika si Jun yang langsung main menerobos pintu lawannya.


__ADS_2