
Bab. 70
"Siapa Kak?" desak Ara.
Gadis itu tidak serta merta melepas Ryu dengan begitu mudah. Jelas, rasa penasaran yang sudah terlanjur meluap pun meminta untuk dipuaskan. Ia pun menunggu jawaban Ryu. Di mana pria itu yang malah terlihat cemas di tempatnya.
Ara memicingkan mata lalu mendekatkan dirinya ke arah Ryu. Mengerjapkan matanya beberapa kali, merayu agar suami nya itu mau menjelaskan apa yang sudah terlanjur terucap tadi.
"Sayang ...." panggil Ara dengan sengaja serta menowel lengan atas Ryu dengan gerakan begitu menggemaskan. "Mau dijelasin apa enggak?" tanya Ara lagi.
Ia bukan tipe perempuan yang bisa melepas masalah begitu saja. Terlebih lagi itu mengenai pria yang ada di sampingnya ini.
Ryu terlihat semakin gusar di tempatnya. Pasalnya ia takut kalau sampai akan mempengaruhi mood Ara malam ini.
Ryu menghembuskan napas kasar sebelum menjelaskan apa yang sudah terlontar tadi kepada Ara.
__ADS_1
"Janji jangan marah," ujar Ryu. Menoleh sebentar ke arah Ara lalu kembali fokus dengan kemudinya.
Ara mengangkat bahunya. "Tergantung apa dulu. Pokoknya peraturannya satu satu. Kalau Kak Ryu aneh-aneh, aku juga bakal lakuin yang sama." tegas Ara.
Glek!
Belum apa-apa sudah di ancam duluan oleh istri kecilnya ini. Lebih baik mencari aman. Namun, jika ketahuan berbohong yang ada nanti Ara bakalan melakukan apa yang sudah dia ucapkan.
Menurut cerita dari mamanya, Ara selalu melakukan apa yang sudah gadis itu katakan. Bahkan ketika tidak lagi membeli komik selama ujian belum usai, dan ternyata terbukti sampai sekarang. Bahkan Ara juga tidak terlihat membaca komik sama sekali. Selain belajar.
"Bicaranya di cafe aja ya? Mau? Kalau di mobil kurang nyaman. Aku juga sedang nyetir. Gimana?" tawar Ryu pada akhirnya memilih untuk jujur saja.
"Terserah Kak Ryu aja," balas Ara yang kembali bersikap cuek.
'Astaga ... punya bini pendendam banget sih!' Ryu mengusap dadanya. Berusaha untuk bersikap tenang dan tidak menunjukkan rasa resahnya.
__ADS_1
Tidak berselang lama, mobil yang dikemudikan oleh Ryu pun sampai di sebuah plataran cafe yang biasa Ara kunjungi. Gadis itu sedikit kaget. Namun sebisa mungkin tetap bersikap biasa.
"Kenapa malah ke sini?" tanya Ara seraya menatap bangunan cafe di depan mereka.
"Kenapa memangnya, Yaang?" Ryu balik bertanya. "Sekalian liat laporan penjualan bulan ini. Hiro sibuk ngajar. Nggak sempet ngecek perkembangan cafenya Om Ji," jelas Ryu.
Ara hanya menggelengkan kepala. Tidak lagi bertanya. Dan ketika gadis itu ingin membuka pintu di sampingnya, Ryu membukanya lebih dulu. Entah kapan pria itu keluar dan kini membukakan pintu untuknya. Tidak lupa menaruh tangannya di atas kepala Ara agar gadis itu tidak terbentur ketika keluar.
"Harus gini banget ya, Kak?" tanya Ara di saat akan melangkah, pria yang semulanya begitu dingin dan datar, kini malah menautkan jari-jarinya dengan jari Ara. Menggenggamnya dengan begitu erat namun tetap memberi kenyamanan pada Ara.
"Harus!" balas Ryu. "Aku tahu di dalam sana selalu ada pelanggan yang menanti kedatanganmu, kan?" tebak Ryu menatap penuh arti ke arah Ara.
"Kok tau?" Ara pun juga tidak berniat menutupi kebenaran semua itu.
Ryu menowel ujung hidung Ara yang sangat mancung. Gemas dengan sikap dan juga sifat Ara yang selalu jujur dan tidak pernah terlihat memyembunyikan sesuatu. Bahkan dengan statusnya yang sebagai seorang istri. Meskipun di awal gadis itu tidak tahu suaminya siapa. Ara selalu menekankan kepada pria yang mendekati gadis itu, bahwa dia sudah memiliki suami.
__ADS_1
Sangat berbeda sekali dengan dirinya. Ryu masih memiliki beberapa hal yang belum ia katakan kepada Ara. Bukan bukan, lebih tepatnya memang Ryu belum mengatakan apapun mengenai dirinya.