Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Kejujuran Membawa Petaka


__ADS_3

Bab. 40


Ryu dengan mudah menangkap tangan Ara dan menguncinya. Menatap penuh arti ke arah gadis yang dulunya sangat cengeng, pun begitu dengan saat ini.


"Ogah. Ini rumah gue dan gue bakalan menetap di sini mulai sekarang," ucapnya kemudian. Lalu melepas tangan Ara setelah melihat ekspresi gadis itu semakin geram terhadap dirinya.


Plak!


Lagi dan lagi Ara memukul sedikit kencang bahu Ryu hingga tubuh pria itu terdorong ke depan. Membuat mama Yuan sedikit meringis, membayangkan betapa sakitnya itu. Akan tetapi wanita paruh baya tersebut tidak mau melerai mereka, sebelum mendapat jawaban yang pasti apa sebenarnya yang telah terjadi dan tidak ia ketahui.


"Ma ... dia bukan Kak Ryu, kan?" rengek Ara berharap jika pria itu bukanlah kakak angkatnya.


Namun, harapan Ara sirna sudah di kala melihat anggukan yang begitu mantap dari mama Yuan dan tentu saja hal tersebut semakin membuat Ara marah tak terkendali.

__ADS_1


Ara memukul Ryu tanpa lihat-lihat momen di antara mereka. Malam ini kepulangan Ryu ke rumah. Namun pria itu banyak sekali mendapat pukulan dari Ara.


"Jahat banget sih jadi orang!" pekik Ara yang masih memukul Ryu. Sedangkan pria itu hanya bisa menahan dan terkadang membiarkan pukulan Ara mengenainya. "Kalau lo udah tau gue adik lo, lalu kenapa lo malah nyi—mphh!"


Cepat-cepat Ryu berdiri dan membungkam mulut Ara sebelum gadis itu mengatakan apa yang sudah terjadi di antara mereka. Terlebih lagi Ryu melakukannya dengan cara memaksa Ara di tempat umum.


Mama Yuan semakin memicingkan mata. Tidak tahan dengan sikap dua orang yang ada di hadapannya, lantas wanita paruh baya itu berkacak pinggang setelah menggebrak meja untuk menghentikan sikap keduanya.


"Jelaskan pada Mama sekarang juga, apa yang kalian tutupin dari Mama?" tanya mama Yuan dengan tatapan begitu tajam. Bahkan papa Rio sampai memberi isyarat kepada mereka berdua mengaku saja. Meskipun papa Rio tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi di antara Ryu dan Ara hari ini. Sebab, pak Angga tidak melaporkan sesuatu yang mencurigai.


Sementara itu Ara menggigit tangan Ryu yang seenaknya menutup mulutnya tanpa ijin terlebih dulu.


"Arghh ..." erang Ryu ketika tangannya merasakan sakit yang luar biasa karena di gigit Ara.

__ADS_1


"Dia nih, Ma! Seenaknya nyium Ara tadi siang pas Ara di rumah komik, Ma. Mana rumah komiknya rame banget. Ara malu, Ma! Apa lagi itu kan ciuman pertama Ara. Akkhh ... pokoknya usir aja dia, Ma! Suruh balik aja ke rumahnya Tante. Udah tau Ara itu adiknya malah main ci—mpphh!"


Lagi dan lagi Ryu menutup mulut Ara yang begitu jujur serta begitu detail sekali menceritakan kejadian tadi siang.


"Nggak usah diperjelas juga," tekan Ryu dengan nada lirih.


Ara dengan kasar melepas tangan Ryu dari mulutnya. Tidak hanya gigitan saja yang Ara berikan, tetapi injakan di kaki pria itu pun Ara berikan.


"Salah Kak Ryu sendiri! Ara tuh adiknya Kak Ryu. Kenapa malah nyium kayak tadi. Mana pas di mobilnya Kak Hiro berlagak nggak kenal, lagi. Jahil banget jadi orang!" kesal Ara tidak peduli lagi jika itu aibnya yang ia umbar sendiri. Toh jujur pada orang tua itu perbuatan yang baik. Pikirnya.


Kepala mama Yuan mendadak pusing mendengar pengakuan Ara.


"Bentar bentar," ucap wanita itu yang kemudian duduk kembali di tempatnya seraya memegang kepalanya. "Dicium paksa? Di mobilnya Hiro? Berarti Ryu udah pulang lama?" tanya mama Yuan seraya memutar kepalanya mengarah ke arah sang suami yang sedari tadi diam saja. "Mas, kamu tau sesuatu, kan?" tanya mama Yuan pada papa Rio dan membuat pria paruh baya tersebut panas dingin di tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2