Terpaksa Menikahi Kakak Angkat

Terpaksa Menikahi Kakak Angkat
TMKA. Minta Suapi


__ADS_3

Bab. 47


Ara menikmati makan malam yang terlambat tersebut dengan begitu lahap. Membuat Ryu yang duduk di sebelahnya, lebih tepatnya di balik kemudi tersebut menatap gadis yang tidak jaim sedikit pun saat makan. Sangking menikmati makanannya, Ara sampai menyingkap jaket Ryu dan menyampirkannya di sandaran kursi yang Ara duduki. Sedangkan cobek yang berisi ikan lele, sayur, beserta sambal terasi dia taruh di atas dashboard mobil di depannya.


"Pelan-pelan aja. Nggak ada yang mau ngambil punyamu," ingat Ryu ketika melihat cara Ara makan seperti tanpa dikunyah dengan benar. Sampai-sampai Ryu menahan tangan Ara yang akan memasukkan sesuap nasi beserta lauknya ke dalam mulutnya lagi. "Sudah dibilang pelan-pelan," ulang Ryu lagi membuat Ara mengalihkan pandangannya ke arah pria yang begitu cerewet menurut Ara.


Masa sedari awal dirinya makan, pria yang ia tahu kakak angkatnya tersebut selalu mengomentari apa-apa yang dilakukan oleh Ara.


"Cobain dulu makanya, Kak," ucap Ara seraya memasukkan nasi yang tidak jadi masuk ke mulutnya itu ke mulut Ryu. Hingga pria itu terdiam dan mengunyah makanan yang Ara suap dengan tangannya secara langsung. "Enak, kan?" tanya Ara setelah Ryu mengunyah makanan yang kini ada di dalam mulutnya.


Tubuh Ryu membeku, lagi dan lagi pelaku yang membuat dirinya seperti ini masihlah sama. Di tambah lagi ini baru kali pertamanya bagi Ryu disuapi menggunakan tangan secara langsung, setelah sekian puluh tahun. Mungkin terakhir kali Ryu mendapat suapan dengan tangan secara langsung ialah dua puluh dua tahun yang lalu. Di mana dirinya ketika masih berusia lima tahun. Itu pun mamanya sendiri yang menyuapi dirinya.


"Kak Ryu nggak suka pedas, ya?" tanya Ara lagi ketika baru tersadar jika itu tadi merupakan suapan untuk dirinya. Sehingga Ara mengambil sambal sedikit lebih banyak. Tidak tahu apakah Ryu suka pedas atau tidak. Lebih lagi pria yang duduk di sampingnya ini hanya diam saja. "Kak?" panggil Ara lagi karena Ryu malah memejamkan mata.


"Lagi," ujar Ryu tiba-tiba seraya menyerahkan porsi miliknya.


Tentu saja apa yang dilakukan oleh Ryu membuat Ara menatapnya bingung.


"Hah? Maksud Kak Ryu?" tanya Ara tidak mengerti.

__ADS_1


Ryu menghembuskan napasnya. Masa seperti ini saja Ara tidak paham dengan apa yang ia maksud.


"Suapi aku," jelas Ryu seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Ara.


"Kak Ryu kan punya tangan," protes Ara. "Bisa makan sendiri." lanjut gadis itu menolak permintaan Ryu.


"Nggak bisa misahin durinya," ujar Ryu yang mendapat picingan mata dari Ara. Gadis itu seolah sangsi dengan apa yang dikatakan oleh Ryu barusan.


Meski begitu Ara kemudian menurut juga. "Tinggal bilang minta disuapi aja susah banget," sindir gadis itu. Tetapi tangannya kembali mengambil nasi, ikan, serta sambal untuk kemudian mengarahkannya di mulut Ryu. Tentu Ryu langsung membuka mulutnya. "Gengsinya itu di kurangin. Biar nggak terlalu nyebelin jadi orang," omel Ara seraya menarik tangannya.


Kemudian gadis itu melakukan hal yang sama, namun kali ini masuk ke dalam mulutnya sendiri. Ara terus mengulang nya hingga dua porsi pecek lele yang ada di hadapannya habis dan dimakan oleh mereka berdua secara bergantian.


"Cuci dulu," ujar Ryu sembari menuangkan sabun ke tangan Ara.


Lalu setelah gadis itu menggosoknya sebentar, Ara sedikit mengarahkan tangannya ke arah luar san Ryu langsung menuangkan air untuk membilas tangan Ara yang penuh dengan busa sabun.


"Makasih," ucap Ara menatap sekilas dan mendapat anggukan dari Ryu. Pria yang mempunyai paras datar tersebut kembali ke tenda seraya membawa piring serta cobek yang ditumpuk menjadi satu.


Istri dari penjual pecek lele melihat Ryu sedikit kerepotan, langsung menghampirinya dan membantu membawakan piring nya.

__ADS_1


"Harusnya tadi manggil saya, Mas," ujar wanita paruh baya tersebut.


"Nggak apa, Bu. Berapa semuanya?" kemudian Ryu mengeluarkan satu lembar uang berwarna merah dan diberikan kepada pria paruh baya di sampingnya.


"Kembaliannya, Mas," ujar pria itu ketika Ryu akan beranjak dari sana.


"Tidak usah, buat Bapak aja," ujar Ryu sembari pergi menjauh.


"Wah, terimakasih, Mas! Sering-sering kalau begitu. Saya doakan semoga kalian cepat punya momongan!" teriak paruh baya tersebut dengan suara yang begitu lantang.


Plak!


"Hust! Neng Ara masih sekolah, Pak. Masa disuruh punya anak. Kasihan Neng Ara-nya dong," ingat istrinya seraya memukul lengan suaminya.


Tentu saja obrolan sepasang suami istri penjual pecek lele itu masih bisa Ryu dengar begitu jelas. Diam-diam pria itu tersenyum tipis meskipun menggelengkan kepalanya samar.


'Boro-boro punya anak. Dicium aja hebohnya satu kampung.' batin Ryu ketika mengingat kejadian siang tadi.


Entah, Ryu tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi gadis yang kini berada di dalam mobilnya, jika ia melakukan hal yang lebih dari apa yang ia lakukan siang tadi di rumah komik kepada Ara. Mungkin gadis itu akan menggemparkan media sosialnya dengan kalimat uniknya.

__ADS_1


__ADS_2