
Bab. 76
"Akh!" pekik Ara ketika punggungnya disudutkan ke pintu oleh Ryu. Sedangkan tangan pria iru segera mengunci pintu yang ada di belakangnya.
"Kamu apa-apaan sih, Kak!" sentak Ara dengan mata mengernyit. Karena punggungnya benar-benar terasa sakit.
Ryu yang menyadari itu pun langsung menarik tubuh Ara dan memeluknya. Mengusap lembut di bagian yang terasa sakit.
"Maaf, aku terlalu senang," ujar Ryu begitu jujur.
Ara mengerutkan keningnya. Mendorong dada Ryu agar ada sekat di antara mereka. Sehingga ia bisa melihat wajah pria dengan rambut yang sedikit basah. Bahkan sampai menetes di bahunya.
"Kak Ryu beneran sakit?" tanya Ara. Karena merasa sikap Ryu sangat aneh. Pria itu pun menganggukkan kepala. Membuat Ara semakin merasa bersalah.
Lalu Ara mendorong tubuh Ryu lebih jauh lagi dan melihat dada pria itu. Tidak ada luka di sana. Hanya bekas giginya saja.
"Nggak luka," ujar gadis itu masih belum menyadari bahaya yang sudah mengincar dirinya.
__ADS_1
Ara tidak sadar saja tatapan Ryu yang begitu mendamba. Bahkan jakun pria itu bergerak naik turun. Seolah tidak sabar untuk segera menikmati hidangan lezat yang ada di hadapannya saat ini.
"Bukan di situ," sahut Ryu.
Dari suaranya saja terdengar berbeda. Lebih berat dan serak. Membuat Ara mengangkat wajah dan menatap pria yang berdiri di depannya dengan kondisi yang masih mengenakan handuk di pinggang.
"Kamu panas, Kak? Kok tatapannya kayak gitu?" tanya Ara sangat polos sekali. Rasa tak sabaran Ryu semakin meningkat. Gemas sendiri melihat ekspresi Ara yang seperti sekarang.
Sementara Ara mengangkat tangannya dan menyentuhkan punggung tangannya itu ke kening Ryu.
"Nggak panas," cicit Ara.
"Bukan di situ juga, Yaang," ucap Ryu.
"Ka-kalau begitu. Aku keluar dulu, Kak," pamit Ara.
Ingin melepas tangannya dari genggaman Ryu, akan tetapi lagi-lagi pria itu bersikap aneh. Menggenggamnya begitu erat lalu mengarahkan tangan Ara ke leher Ryu sendiri. sedang tangannya mengarah ke pinggang sang istri. Sedikit mencengkeram pelan lalu mengangkatnya hingga membuat kaki Ara secara refleks melingkar di pinggang Ryu.
__ADS_1
"Kak! A-apa yang ka—"
"Siapa yang ngijinin kamu keluar, Yaang?" tanya Ryu dengan tatapan begitu sayu.
Pria itu semakin mengeratkan lingkaran kaki Ara ke pinggangnya, sementara tangannya menyangga pantat gadis itu agar tidak menurun.
"Kita akan melakukan sesuatu yang seharusnya kita lakukan dari dulu, Yaang," lirih Ryu sambil melangkah menuju ke ranjang miliknya.
Ara menoleh panik ke arah sekitar. Gadis itu benar-benar takut. Lebih-lebih tatapan Ryu yang tidak seperti biasanya, semakin membuat Ara ngeri sendiri.
"Ka-kak, Kak Ryu tahu kan, kalau aku masih sekolah. Lagian juga perasaan di antara kita juga belum sedalam itu. Kita ... kita ... ki—"
Ara tidak bisa lagi melanjutkan kalimatnya. Karena Ryu sudah benar-benar tidak bisa menahan rasa inginnya itu.
Sedari tadi melihat bibir Ara yang gemetar, sungguh semakin membuat hasr4t Ryu semakin meningkat dan seolah ingin segera dipuaskan. Oleh karena itu Ryu langsung menyambar bibir Ara serta menekan kepala Ara agar tidak bisa kabur darinya.
Bnda kenyal yang selalu menggoda dirinya dan seolah meminta untuk dilumat, Ryu pun melakukannya.
__ADS_1
Rasa manis yang selalu berhasil membuat pikiran Ryu menjadi kosong. Tidak lagi bisa memikirkan hal lainnya selain menikmati dan mencecap semakin dalam bibir Ara. Mengabaikan sikap menolak dari Ara yang terus mendorong tubuh Ryu. Namun apa daya, jika kini Ryu benar-benar mengunci pergerakan Ara. Bahkan saat inj Ryu duduk di pinggiran ranjang. Di mana Ara berada di atas pangkuannya.
Tentu saja tangan Ryu tidak tinggal diam dan hanya menekan kepala Ara saja. Otak mesum milik Ryu pun memerintahkan tangannya untuk memeriksa bagian-bagian yang sudah menjadi miliknya tanpa melepas pagutan di antara mereka. Merambah ke mana saja, asal bisa dimainkan oleh tangan kurang akhlak nya itu.