
Bab. 94
Ara langsung memeluk Ryu dan duduk di samping pria itu. Memangkas pertanyaan yang sempat Gista lontarkan kepada Ryu.
"Kak, Kak Ryu kan udah ada janji sama aku. Masa mau keluar sama kakak bule itu," protes Ara dengan bibir yang sengaja di cemberutkan serta matanya mengedip ngedip gemas. Tidak lupa juga tangannya yang menggoyang tangan Ryu. Seperti anak kecil yang sedang merayu orang dewasa.
Gista menatap heran dan sedikut terkejut melihat ada seorang gadis imut menempel pada Ryu.
Sedangkan Ryu sendiri menghela napas pasrah. Tampaknya pria itu sangat sadar jika drama akan segera di mulai. Ia kasihan pada Gista kalau sampai dikerjai Ara. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan wanita yang sekarang ini menempeli dirinya.
"Pergi kemana?" tanya Ryu menatap pasrah.
"Tunggu! Dia siapa, Ryu?" tanya Gista yang berpindah juga duduk di samping Ryu. Membuat Ryu kaget dan langsung melepas tangan Gista ketika wanita itu juga ikutan melingkarkan tangannya di lengannya.
__ADS_1
"Gis, jangan seperti ini!" tekan Ryu dengan nada lirih. Memperingati Gista kalau wanita itu tidak bisa bersikap seenaknya di sini.
Ara terdiam sejenak. Menatap ke arah Gista dengan tatapan penuh arti. Sampai-sampai membuat mama Yuan menepuk keningnya.
"Dia sudah menentukan targetnya, Mas," ujar mama Yuan kepada suaminya dengan suara lirih. Papa Rio justru tertawa melihat sikap menantunya itu.
"Jadi pingin liat apa yang akan dilakukan sama Ara, Yaang. Sama kayak kamu dulu apa enggak," kekeh papa Rio pelan
"Nggak sejenis?" ulang Gista yang tidak mengerti di bagian ini.
Ryu juga tidak menyangka kalau istri nya ini dalam mode cemburu lebih membahayakan. Di tambah lagi penampilan Ara yang memang seperti anak remaja, mengenakan celana begitu pendek, kaos yang kebesaran hingga panjang celananya saja sampai tidak terdeteksi. Lalu rambut dikuncir satu ke atas serta poni dan sebagian anakan rambut mengarah ke depan. Tidak lupa juga istrinya ini mengenakan ikat rambut pita.
'Argh ...! Kenapa juga kamu tampil semenggemaskan ini di waktu yang nggak tepat sih, Yaang!' begitulah jeritan batin Ryu. Rasa-rasanya ingin sekali mengurung Ara dan langsung menyergap wanita itu di bawah kungkungan tubuhnya.
__ADS_1
"Bukan keluarganya, Kak. Kaka Bule ini siapa nya Kakaknya Ara?" tanya Ara yang masih mengunci tangan Ryu dalam pelukan tangannya. Tidak memperbolehkan Gista untuk menyentuh Ryu.
Gista yang bingung pun akhirnya memperkenalkan diri pada Ara. Lalu wanita itu juga mulai teringat sebuah foto anak perempuan di dompetnya Ryu.
"Aku Gista, temannya Ryuga di kampus sama tempat kerja juga," ucap Gista seraya mengulurkan tangan ke arah Ara dan disambut baik oleh gadis kecil itu. "Kamu adiknya Ryuga, ya? Anak kecil yang dulunya suka dikepang dua?" tanya Gista mengingat cerita Ryu kepada dirinya beberapa tahun yang lalu.
Meski kesal, namun Ara tersenyum manis ke arah Gista. Jadi suaminya ini mengenalkan dirinya sebagai adik, sebelum ia menyamar menjadi adiknya Ryu barusan.
Sontak, Ara langsung menarik tangannya dari lengan Ryu dan menggeser sedikit tempat duduknya hingga memberi spasi di antara dirinya dengan Ryu. Jelas saja pria itu langsung menoleh dan menatapnya penuh tanya.
"Iya, Kak. Ara adiknya Kak Ryu," Ara membenarkan ucapan Gista barusan lalu melirik tajam ke arah Ryu sebentar. Hingga kemudian wanita unik ini merubah ekspresi serta sikapnya yang menjadi manja kepada Ryu.
"Kakak ... gendong. Ara ngantuk," pinta Ara menatap imut pria yang saat ini berusaha mati-matian menahan hasr4tnya.
__ADS_1