
Bab. 97
"Menyesal karena menikah dengan bocil kayak aku," jelas Ara.
Ryu langsung bernapas lega setelah sempat menjeda untuk tidak mengambil napas. Karena menyiapkan diri jika istrinya ini akan mengatakan sesuatu di luar nurminnya.
"Astaga, Yaang ... kamu tuh ngomong apa sih," gemas Ryu mendekap kedua pipi Ara, lalu mengecup singkat bibir istrinya. "Aku tuh malah bersyukur banget karena Mama memaksaku untuk nikahin kamu. Ya memang sih, awalnya aku menolak. Bukan karena aku nggak suka. Tetapi aku merasa bersalah sama kamu, Yaang." jelas Ryu.
Ara membenarkan posisi tidurnya. Meraih bantal guling, lalu memeluk nya begitu erat. Sampai-sampai membuat Ryu merasa kesal dan mengganti bantal guling itu dengan dirinya.
"Ini yang bener, Yaang."
"Ck! Aku tuh biar nyaman, Kak. Pingin ngobrol serius sama kamu. Kalau kayak gini yang ada bukan ngobrol. Tapi malah ngelakuin hal yang lain," protes Ara.
Ryu tertawa lalu mngmbalikan guling yang dia ambil tadi kepada istrinya lagi.
"Mau bicarain apa sih sebenarnya?" Ryu juga sangat penasaran, kenapa juga Ara tiba-tiba saja seperti ini.
"Kamu merasa bersalah kenapa, Kak?" tanya Ara teringat akan ucapan Ryu tadi.
Ryu menghela napas berat. Harus kah dirinya memperjelas sesuatu yang sudah sangat lama.
__ADS_1
"Kak?" panggil Ara lagi.
"Aku bersalah karena aku sudah membuat tubuhmu mengalami bekas luka," ucap Ryu seraya menyentuh punggung Ara. Di mana di sana memang ada sebuah bekas luka bakar yang cukup besar.
Ara tersentak ketika tangan Ryu menyentuh secara langsung bekas luka itu. Namun, dengan segera wanita itu tersenyum.
"Apa karena ini Kak Ryu mutusin pergi? Ninggalin aku sendiri di sini?" tebak Ara dengan senyuman yang mengembang di bibir. Terlihat begitu manis sekali.
Ryu mengangguk. "Karena aku tidak bisa melihatmu terluka dan aku menyalahkan diriku yang nggak becus jagain kamu. Maaf," lirih Ryu.
Ara menangkup wajah sumianya dan menatapnya begitu intens.
Ara baru tahu jika suaminya memiliki sisi yang seperti ini.
Ryu langsung menarik ujung hidung Ara.
"Hah? Apa kamu bilang, Yaang? Ini suamimu loh! Masa dikatain tengil sih!" protes Ryu.
Pria itu kemudian menggelitiki pjnggang Ara dan mengambil alih guling yang Ara peluk tadi. Sampai-sampai istrinya itu mengaduh dan meminta ampun. Karena memang tidak tahan dengan rasa geli.
"Ampun, Kak ... ampun!" mohon Ara.
__ADS_1
"Cium dulu, baru aku berhenti," ujar Ryu yang memang tidak bisa mengabaikan kesempatan yang datang kepada dirinya.
Ara mendesis. "Cari kesempatan banget!"
"Harus dong!" balas Ryu seraya memainkan alisnya. "Pahala loh, Yaang ... cium suaminya lebih dulu." ingatnya yang terselubung.
Cup!
Dengan cepat Ara pun menurut. Lalu wanita itu menjauhkan wajahnya dan menahan tangan Ryu ketika ingin menangkup wajahnya.
"Aku mau kuliah, Kak," ucap Ara tiba-tiba. Membuat Ryu berhenti menggoda istrinya. Lalu menarik kepala wanita itu agar mau berbantalan di lengannya.
"Aku nggak pernah melarang kamu buat nerusin sekolah, Yaang. Asal itu membuatmu senang, tidak terbebani, dan masih bisa merhatiin aku. Aku sih nggak masalah," balas Ryu yang memang tidak akan membatasi ruang gerak Ara. Bahkan dalam hal pertemanan pun. Asal jangan dengan lawan jenis, selebihnya ya terserah istrinya ini.
"Aku sudah daftar," ungkap Ara memberitahu Ryu.
Ryu menunduk, menatap Ara yang saat ini berada di dalam dekapannya. Sedikit mengerti kan kening.
"Di mana? Kok nggak bilang sama aku duku, Yaang. Kan bisa aku anterin atau paling nggak ya aku bantu siapin semuanya, Yaang."
"Di Paris," aku Ara membuat Ryu langsung kicep. Bukan hanya tidak bersuara, bahkan suaminya yang ingin membenarkan posisinya pun berhenti. Mematung dan terdiam dengan pandangan seketika kosong.
__ADS_1