
Bab. 62
Hari ujian pun kian begitu dekat. Membuat Ara menambah waktu belajarnya karena ini lulus dengan nilai maksimal. Bahkan gadis itu juga tidak lagi mampir ke rumah komik. Karena Ara membiasakan diri untuk tidur siang sepulang sekolah. Lalu setelah itu akan belajar hingga malam. Tidak keluar kamar dan ikut berkumpul jika anggota keluarganya sedang berkumpul di ruang tengah.
Tidak jarang pula Ara membawa makanannya ke kamar. Karena selain belajar, gadis itu juga ingin membuktikan ucapannya yang sebisa mungkin untuk tidak muncul di depan Ryu. Ara bersikap seperti itu sudah berlangsung selama empat hari. Membuat mama Yuan merasa aneh dan khawatir.
"Kamu ngerasa nggak, Mas? Kalau sikap Ara semakin kesini kok makin aneh ya?" tanya mama Yuan kepada suaminya.
Papa Rio menaruh majalah yang dia pegang, lalu menatap ke arah istrinya.
"Maklum lah, Sayang. Mungkin dia agak nervous karena mau ujian. Apa lagi kan ini yang menentukan dia nanti mau melanjutkan di mana. Soalnya Ara pernah cerita ke Papa, kalau dia harus dapat beasiswa lagi biar bisa dilempar ke temennya itu. Siapa namanya? Papa lupa," ujar papa Rio.
"Citra, Mas," jawab mama Yuan. Akan tetapi wanita itu seolah merasa ada sesuatu yang tak biasa dari sikap Ara yang sekarang ini.
__ADS_1
Sementara itu Ryu yang tengah memainkan ponselnya, rampak diam. Mendengarkan percakapan kedua orang tuanya. Ia sendiri juga sangat merasakan perubahan sikap Ara. Bahkan selama empat hari ini, sepulangnya Ara dari rumah sakit, Ryu hanya bertemu dengan Ara ketika gadis itu pulang sekolah. Itu pun kalau dirinya berada di rumah.
"Tapi Aku tuh masih ngerasa ada sesuatu yang Ara coba sembunyikan dari kita, Mas. Kamu ngerasa kan kalau dia juga tidak pernah ngumpul lagi sama kita?" ujar mama Yuan yang masih merasa aneh dengan perubahan sikap Ara. "Apa dia sedang ada masalah ya, Mas?" tebaknya kemudian.
Terlihat begitu kentara sekali jika wanita paruh baya tersebut sangat mengkhawatirkan Ara.
"Padahal biasanya kan Ara suka sekali cerita cerita ke aku, Mas. Nah, pas dia pulang dari rumah sakit loh, kok lebih suka diem di kamar. Kan ya aneh, gitu loh Mas," mama Yuan masih melayangkan protes kepada papa Rio. Membuat papa Rio menghela napas berat, lalu menaruh majalah yang dia pangku barusan ke atas meja.
"Sayang ... yang bersama Ara waktu itu Ryu. Bukan Aku. Jelas Ryu lah yang tau alasannya kenapa Ara seperti itu," ujar papa Rio menoleh ke arah Ryu. Membuat pria yang disebut namanya dalam pembicaraan dua orang paruh baya yang tengah menatapnya pun juga menatap ke arah mereka. "Mending kamu tanya saja sama terduga tersangka," lanjut papa Rio melempar penjelasan yang memang seharusnya Ryu lah yang menjawab semua pertanyaan dari istrinya ini. Karena putranya itu merupakan orang terakhir yang bersama Ara.
"Apa kamu tau sesuatu, Ryu?" tanya mama Yuan dengan nada datar dan juga tatapan begitu tajam. "Atau jangan bilang kalau kamu lah yang merupakan salah satu penyebab Ara seperti ini? Hmm? Atau bahkan memang kamu penyebab kompiltnya?" mama Yuan mencecar Ryu mengenai perubahan Ara. Karena gadis itu tidak pergi dengan siapapun sebelum sikapnya sangat berubah pendiam dan lebih menyendiri seperti ini.
Bukannya mengelak, Ryu justru dengan santai nya mengaku kepada orang tuanya kalau memang dirinyalah penyebab utama Ara seperti itu.
__ADS_1
"Dia nggak mau ketemu sama Ryu lagi, Ma," jawab Ryu jujur.
"Sebabnya?" kali ini papa Rio yang tampak prnasaran mengenai alasan putranya.
"Ryu bilang nggak pernah anggap dia adik," lagi dan lagi Ryu sangat jujur. Sangking jujurnya ingin sekali mama Yuan memasukkan putranya tersebut ke dalam perut. Andai saja itu bisa ia lakukan.
"Sebatas itu?"
Ryu mengangguk. "Ryu juga bilang kalau dia istriku."
Kali ini mama Yuan tidak bisa menahan rasa sakit di kepalanya yang tiba-tiba saja datang mendera. Bahkan dadanya juga terasa seperti baru terkena pukulan di sana. Bisa-bisanya Ryu mengatakan hal itu di waktu yang tidak tepat sama sekali.
"Kamu serius mengatakan itu ada Ara?" tanya mama Yuan yang masih memegang kepalanya.
__ADS_1
Pusing juga menghadapi tingkah putranya yang seharusnya tidak membuat dirinya kepikiran lagi di usia Ryu sekarang. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Ryu selalu sukses membuat mama Yuan pusing dan geleng-geleng kepala.
Ryu menganggukkan kepalanya begitu mantap. "Beneran, Ma. Ryu bilang kalau dia istri Ryu. Jadi jangan pernah berpikir aku bersikap seprti kakanya dan berusaha kabur dari rumah," ungkap Ryu. Lalu pria itu menatap serius ke arah kedua orang tuanya. Sampai-sampai pria itu menyimpan ponselnya di atas meja. "Nggak salah, kan?" tanya Ryu dengan ekspresi tidak punya salah sedikit pun.